Lahirkan Anak Untukku
“Tolong selamatkan adik saya, Dok. Saya akan membawa biayanya setelah operasi selesai,” pinta seorang wanita muda bernama Hanna Larasati, suaranya bergetar seperti ranting rapuh di tengah badai.
Sorot matanya yang lembap, seolah menjadi cermin patah yang memantulkan harapannya yang retak, menatap dokter di hadapannya. Di balik wajah cantiknya yang kini terselubung derita, tersimpan keteguhan seorang kakak yang tak ingin menyerah pada nasib.
Namun, jawaban dokter itu datang seperti angin dingin menusuk nadi. “Mohon maaf, Mbak Hanna. Pihak rumah sakit sudah menerapkan sistem seperti itu. Kami tidak bisa melakukan apa pun jika Anda belum membayar administrasinya.”
Ucapan itu meluruhkan benteng terakhir Hanna. Air matanya pecah, bergulir tanpa henti seperti hujan di akhir musim kemarau, menggenangi pipinya yang pucat.
Pikiran tentang kehilangan Bastian, satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kepergian kedua orang tua mereka, membuat jantungnya seperti ditusuk ribuan duri.
“Apa yang harus aku lakukan?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar, sembari menutup wajah dengan kedua tangan yang bergetar. Isak tangisnya seperti gema kesedihan yang tak henti-hentinya memukul dinding ruangan itu.
“Hanna?” Sebuah suara familiar memecah keheningan, dan dari seberang lorong, Bayu berdiri terpaku, keningnya berkerut.
Wajahnya menyiratkan keheranan yang bercampur dengan kekhawatiran, sementara di sebelahnya, Nadhira memandang dengan tatapan penuh tanya.
“Siapa dia, Mas?” bisik Nadhira, suara lembutnya seperti angin malam yang menyelinap tanpa izin.
Mereka baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan, membawa kabar pilu yang masih menggetarkan hati mereka—bahwa Nadhira tidak dapat memiliki anak.
Bayu, yang jiwanya telah tergores luka oleh kenyataan itu, kini dipaksa menghadapi misteri lain yang tergurat di wajah Hanna.
“Dia … salah satu karyawan di kantorku,” jawabnya dengan nada datar, namun tatapannya tetap tertuju pada Hanna, seakan mencoba membaca rahasia yang tersembunyi di balik air matanya.
Nadhira, dengan intuisi yang tajam, menarik tangan suaminya. “Sebaiknya kita hampiri.”
Bayu mengangguk, langkahnya terhenti di hadapan Hanna yang masih terisak. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Hanna?” tanyanya tanpa basa-basi.
Hanna mengangkat kepalanya, matanya yang merah menyapu wajah Bayu dengan keterkejutan. “Pak Bayu?” suaranya serak, seperti daun kering yang tergilas angin. Ia buru-buru mengusap air matanya, mencoba merapikan dirinya yang telah hancur lebur oleh kesedihan. “Saya … saya sedang ….”
Belum sempat Hanna menjelaskan, Bayu sudah beralih pada dokter yang kebetulan melintas. “Apa yang terjadi, Dok?” tanyanya tegas.
“Pasien Bastian harus segera dioperasi,” jelas dokter itu, suaranya tenang namun penuh urgensi. “Hanya saja Mbak Hanna belum memiliki dana untuk operasi ginjal adiknya.”
Kata-kata itu seolah membawa Nadhira pada sebuah ilham yang mendadak. Ia menarik lengan Bayu menjauh, bisikan ide yang tak terduga terlintas dalam benaknya.
“Kamu mengenalnya, kan? Nikahi dia dan lahirkan anak untuk kita, Mas,” ujar Nadhira, suaranya serupa bisikan malam yang menggugah langit kelam, namun sarat dengan nada keputusasaan.
Bayu mengerutkan keningnya, seolah kata-kata itu adalah duri yang menusuk jiwanya. "Apa kamu gila?" tanyanya tajam, suaranya seperti gelombang yang menghantam batu karang.
Ia menggelengkan kepala dengan tegas, mencoba mengusir absurditas yang baru saja diusulkan istrinya. "Tidak. Aku tidak mau menikah lagi. Apalagi dengannya,” tukasnya, nada suaranya mengunci seperti pintu baja yang tak bisa digerakkan.
Namun, Nadhira tak menyerah. Mata gelapnya bersinar oleh harapan yang memohon belas kasih, meskipun tampak hancur oleh kenyataan.
"Mas, aku mohon. Kita butuh masa depan, dan Hanna adalah satu-satunya harapan kita. Aku yakin dia bisa memberi kita anak," ucapnya dengan suara yang lirih, namun menggema di hati Bayu seperti lonceng yang terus berdentang.
Bayu memijat keningnya dengan gerakan lelah, mencoba mengusir pusaran pikiran yang menyelimuti benaknya. Ide itu tak hanya gila, tapi juga menusuk moralitasnya seperti belati berkarat.
"Tapi, Nadhira…" ia menarik napas dalam, suaranya berubah lembut, penuh ketulusan. "Aku menerima segala kekuranganmu. Tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa memberiku keturunan. Jangan pikirkan itu lagi."
Namun, Nadhira hanya menggeleng pelan, senyumnya pahit seperti embun pagi yang menyelimuti duri mawar.
"Aku mohon, Mas. Demi masa depan kita. Apa kamu tidak capek ditanya kapan memberi mereka cucu? Kamu anak tunggal, Mas. Mama dan Papa sangat berharap padamu. Ingat itu."
Bayu terdiam, tatapannya berpindah ke wajah istrinya yang bersikeras, lalu beralih pada Hanna, yang berdiri di ambang pintu ruang rawat adiknya.
Matanya menyusuri sosok Hanna, mencoba membaca sesuatu yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Dalam keheningan itu, dilema menyelimutinya, seperti kabut tebal yang membelenggu pandangannya.
Dengan tarikan napas panjang, Bayu melangkah mendekati Hanna, yang wajahnya masih dihiasi bekas air mata.
Sorot matanya yang datar dan dingin seperti malam tanpa bintang, menciptakan atmosfer yang membungkus ruangan dengan ketegangan tak kasatmata.
“Menikah denganku dan lahirkan anak untukku. Maka aku akan membayar biaya operasi adikmu dan memenuhi kebutuhan kalian.”