Begini Rasanya

1129 Kata
Bayu meneguk wine dengan gerakan terburu-buru, seolah cairan merah gelap itu adalah obat penawar bagi luka batin yang tak terlihat. Di sofa ruang tengah yang remang-remang, ia duduk dengan tubuh yang mulai terasa berat, mencoba menenggelamkan dirinya dalam gelombang mabuk sebelum keberanian palsu merasuki raganya. “Kenapa Nadhira bisa merelakanku berbagi dengan wanita lain,” gumamnya pelan, seperti berbicara kepada hantu masa lalunya yang tak kunjung pergi. Ia menggelengkan kepala, dan kembali membiarkan wine mengalir melewati tenggorokannya. “Aku tidak bisa bercinta dengan wanita mana pun selain Nadhira,” ucapnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih berat, penuh sesal. Kata-katanya seperti riak kecil di tengah lautan sunyi, sementara kesadarannya perlahan tenggelam, meskipun wine yang ia teguk baru seteguk-dua teguk. Di kamar yang diterangi lampu temaram, Hanna berdiri di depan cermin besar yang memantulkan seluruh tubuhnya. Napasnya terdengar berat, hampir seperti hembusan angin yang merintih. Satin lingerie yang membalut tubuhnya terasa seperti jaring laba-laba, lembut namun menjerat. “Siap tidak siap, aku harus siap. Bukankah lebih cepat lebih baik?” bisiknya, suaranya terdengar rapuh, meski ia berusaha memahat keberanian dalam dirinya. “Aku tidak bisa menolaknya lagi. Bastian sudah dia selamatkan,” ucapnya dengan mata yang perlahan terpejam, berusaha melarikan diri dari bayangan apa yang akan segera terjadi. Brak! Suara pintu yang dihantam keras membuat Hanna tersentak. Tubuhnya membeku, pandangan matanya terpaku pada sosok Bayu yang berdiri di ambang pintu. Matanya yang merah dan sayu menatapnya dengan pandangan yang sulit ditebak. Langkahnya terhuyung, namun ia terus maju, seperti serigala yang mengintai mangsanya. Bayu menyunggingkan senyum, tetapi senyum itu lebih menyerupai cakar malam yang menyayat ketenangan. Ia mendekat, setiap langkahnya membuat Hanna semakin menelan ludah, mencoba mengusir rasa takut yang mulai menggerogoti. “Rupanya kamu sudah menyiapkan semuanya,” bisiknya dengan nada yang mengalir seperti racun, menebar ketidaknyamanan. Bau alkohol yang tajam menyeruak, memenuhi indra penciuman Hanna, membuatnya meringis. “Anda mabuk, Pak?” tanya Hanna, suaranya terdengar kecil, hampir seperti bayangan suaranya sendiri. Bayu mengangkat tangannya, ujung jarinya menyusuri garis lembut pipi Hanna, dingin seperti kabut dini hari. “Jangan memanggilku dengan sebutan itu, Hanna. Aku ini suamimu,” ucapnya dengan suara serak yang lebih menyerupai desah angin malam yang menyentuh dinding kesepian. Hanna mengerutkan kening, mencoba memahami kata-kata yang meluncur dari mulutnya. Ia baru sadar bahwa mabuk telah membengkokkan logika Bayu, membuat setiap ucapannya terdengar seperti mantra yang mengerikan. Hanna berdehem pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berlomba dengan ketakutan. “Kalau begitu, kenapa kamu mabuk? Kamu tidak siap? Bukankah lebih cepat lebih baik? Katanya pengen cepet-cepet pergi dariku,” ucapnya. Suaranya terdengar seperti bisikan kecil yang dipaksa untuk menjadi keras, namun keberaniannya begitu rapuh, setipis tisu yang hampir robek. Rahang Bayu mengetat mendengar kata-katanya, seperti kawat baja yang tertarik hingga batas. Mata gelapnya menyapu tubuh Hanna, dan pandangannya tertahan pada pakaian satin yang membalut tubuh wanita itu. Baju itu—atau mungkin niat yang tersembunyi di baliknya—membangkitkan bara yang sudah lama membara dalam dirinya. “Ya. Kamu benar. Lebih cepat lebih baik,” ucap Bayu dengan suara yang rendah namun tajam, seperti pisau yang perlahan menyayat udara. “Kamu pikir aku nyaman berada di posisi ini?” lanjutnya. Tanpa aba-aba, kedua tangannya meraih lengan Hanna, menggenggamnya dengan tekanan yang cukup untuk membuat wanita itu tersadar betapa tipis jarak antara keberanian dan kehancuran. Tatapan Bayu menembus langsung ke dalam mata Hanna, intens dan membakar, membuat wanita itu merasa seperti daun kering yang hampir hangus di bawah matahari terik. Ia berusaha mempertahankan ketenangannya, meski getaran kecil mulai terlihat di tangannya. “Jangan menatapku seperti itu … Mas,” bisiknya pelan, hampir seperti doa yang terpaksa dikeluarkan. Bibirnya gemetar, tetapi ia memaksa dirinya untuk menanggalkan formalitas. Senyum seringai muncul di wajah Bayu, seperti bayangan serigala yang menyeringai di balik pepohonan gelap. Ia mengangkat tangannya, ujung jarinya menyentuh sisi wajah Hanna, mengusapnya dengan sentuhan yang lembut, tetapi di balik kelembutan itu ada ketegangan yang membara. “Katanya tidak pernah melakukannya dengan siapa pun,” ucapnya dengan nada mencemooh. “Kenapa kamu tahu bahwa baju ini bisa membangkitkan gairah laki-laki? Dan wangimu ….” Bayu mendekat, menghirup aroma manis vanila yang memancar dari leher Hanna, seperti racun yang perlahan menyusup ke dalam tubuhnya. “Oh, shiitt!” umpat Bayu sambil menatap wajah Hanna dengan tatapan tajam. “Kamu bohong, kan? Sebenarnya kamu sudah berpengalaman?” Hanna menggelengkan kepalanya dengan cepat, rambutnya yang halus bergerak seperti riak air. Padahal, ide gila ini berasal dari Nadhira, wanita yang terus mendesaknya untuk memanfaatkan tubuhnya demi mencapai tujuan. Keberanian Hanna saat ini hanyalah bayangan dari paksaan itu. Tanpa peringatan, Bayu menarik tengkuk Hanna dan mendaratkan ciuman yang begitu brutal di bibirnya. Hembusan napas mereka bercampur menjadi satu, dan bibir Hanna seolah terbakar oleh sentuhan yang agresif itu. Giginya menggigit, melumat bibir Hanna dengan hasrat yang liar, seperti badai yang menghantam dinding rapuh. Hanna, yang awalnya ingin melawan, malah kehilangan kendali. Tangannya terangkat, mengacak-acak rambut Bayu yang kini menjadi medan bagi jemarinya untuk berlabuh. Ciuman mereka semakin dalam, dan Hanna hanya bisa terhanyut dalam arus yang diciptakan oleh pria di hadapannya, meski rasa takut dan keraguan masih bergelayut di sudut hatinya. Tubuhnya ambruk di atas tempat tidur, seolah gravitasi telah menggandakan cengkeramannya. Dalam keadaan setengah sadar, meski satu botol wine telah mengalir melalui nadinya, Bayu masih dapat merasakan desakan liar di bawah sana, seperti gelombang pasang yang tak lagi bisa dibendung. Dengan gerakan perlahan namun penuh determinasi, Bayu melucuti pakaiannya, menyisakan dirinya dalam bentuk yang paling primal. Hanna menelan ludah berkali-kali, matanya terpaku pada tubuh atletis yang kini terpampang di depannya. Otot-otot Bayu seperti ukiran seni yang hidup, memancarkan aura kekuatan dan ketertarikan yang tak bisa diabaikan. Hanna gemetar. Pikirannya terombang-ambing antara rasa takut dan sesuatu yang tak mampu ia definisikan. Membayangkan bagaimana tubuhnya akan ditaklukkan oleh pria dengan tubuh berotot ini membuat bulu kuduknya berdiri, seperti angin dingin yang tiba-tiba menusuk kulit. Bayu, dengan sorot mata yang membara, mulai menjelajahi tubuh Hanna. Jemarinya menyusuri kulit halusnya, seperti petualang yang menemukan harta karun yang telah lama tersembunyi. Sentuhan itu terasa mendalam, seolah setiap inci kulitnya adalah teka-teki yang ingin ia pecahkan. Hanna hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya terperangkap dalam badai hasrat pria itu. Suaranya terputus-putus, terkadang mendesah pelan, terkadang hanya diam membatu seperti patung yang tak berdaya. Hingga akhirnya, penyatuan itu terjadi. Bayu mengumpat kasar, frustrasi karena Hanna terasa sulit dijangkau, seperti gerbang yang tertutup rapat dan enggan terbuka. Namun, saat kebenaran itu muncul, ia membeku. Sebuah kesadaran mengguncangnya—Hanna benar-benar masih perawan. Mata Bayu menatap wajah Hanna yang memejam erat, seperti seseorang yang mencoba melarikan diri dari rasa sakit yang tak terelakkan. Tangan wanita itu mencengkeram sprei dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gelombang perih dari mahkota yang baru saja direnggut. Perasaan campur aduk menyapu Bayu—malu, bersalah, dan takjub. ‘Jadi, begini rasanya bercinta dengan wanita yang masih gadis.’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN