Masih Flash back. Santi tertunduk di atas kursi tamu tanpa berniat menyusul Herman sedikit pun. Rasa cintanya pada ke dua orang tuanya, sudah mengalahkan rasa cintanya pada pemuda itu. Melihat Santi terduduk seraya berurai air mata, Yeni, Ali dan Kamidar pun datang menyusul. “Ada apa, Santi?” tanya Kamidar yang tampak lebih tenang dari yang lainnya. Santi memeluk bibinya itu seraya terisak. “Santi, apa yang sudah dikatakan oleh Herman? Apa ia tidak mau bertanggung jawab? Apa Herman berubah pikiran?” Yeni tidak habis pikir dengan sikap putrinya saat ini. Santi kembali menggeleng, “Tidak, Ma. Justru sebaliknya, kak Herman mau segera menikahi aku.” “Lalu kenapa dia pergi begitu saja? kenapa kamu menangis seperti ini?” “Aku ingin membatalkan rencana pernikahan ini. Aku berubah pikiran.

