Kesedihan Ando

1702 Kata

Hubungan Rosma dengan Herman semakin hari semakin menggila. Bahkan mereka sering jalan berdua diam-diam malam-malam. Herman yang tadinya kusut tak beraturan, kini kembali tampak segar. “Herman, besok kita ke Dumai, bisa? Kebetulan ada rumah peninggalan orang tuaku di sana. Rumah itu rencana mau direnovasi juga. Aku ingin kamu yang mengerjakannya,” ucap Rosma seraya menyuguhkan kopi panas untuk Herman. Seperti biasa, wanita itu hanya mengenakan daster tipis tanpa dalaman. Herman yang tengah bekerja, disuguhkan pemandangan itu, tentu saja senang. Apa lagi sudah mendapat jatah kehangatan sebelum ia melakukan pekerjaan. “Bisa kok, Kak.” “Iya, kamu lihat dulu gimana lokasinya. Apa kamu bisa kerjakan sendiri atau butuh kenek. Tapi aku maunya kamu bisa kerjakan sendiri saja biar kita bisa beb

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN