Herman melangkah menuju rumahnya dan segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sesampai di dalam kamarnya. Pipinya masih terasa panas dan dadanya juga ikut panas. Ia begitu emosi dan mendendam pada Zapran. Awas saja, Zap. Tunggu pembalasanku nanti, gumam pria itu di dalam hati. Herman pun kemudian membaringkan tubuhnya karena pekerjaannya kini sudah diambil alih oleh Zapran. Beberapa jam kemudian, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Seperti biasa, Adi tidak akan pernah ada di rumah malam-malam begini. Ando? Sama saja. Pemuda itu lebih senang nongkrong-nongrong bersama teman-teman sebayanya di lapangan bola. Entah apa ia lakukan di sana hingga larut malam. Herman yang tengah bersantai di depan televisi, tiba-tiba mendengar suara ketukan dari pintu belakang. Pria itu segera mende

