Mumi Noni

236 Kata
Dengan mendorong-dorong tubuhnya seperti ulat bulu berjalan, kuda itu belum juga menyerah. Ia terus mendekatiku dengan mulutnya yang terbuka hampir menerkam kakiku. Aku mencoba duduk dan mengambil tembakan yang tersampir di punggungku dan kemudian membidik. “Dorrr!” Peluruku tepat mengenai bagian di antara kedua matanya. Tapi itu tidak berhasil menghentikannya. Aku berdiri dan menendang kepala kuda zombie itu sekeras yang kubisa. Dan seperti bola yang melayang ke udara, kepalanya menghilang. Dengan terseok-seok aku meluncur masih di atas sepatu roda yang sedikit rusak karena kugunakan untuk menendang kuda tadi. Aku mencoba mengingat-ingat arah, mungkin jika beruntung aku bisa menemukan jalan menuju gerbang. Kuikuti jalanan yang membekas jejak sepatu roda dan tidak sia-sia, aku kembali ke tempat di mana aku membangunkan mumi yang pertama; mumi nenek-nenek. Sebelum mencapai gerbang, terdengar suara mesin motor menderu. Kurasa itu sebuah motor tua. Aku menyembunyikan tubuhku di balik gerobak yang hampir hancur, menunggu siapapun yang akan mendekat. Bisa saja itu adalah musuh baru. Tak lama suara mesin motor berhenti tepat di gerbang masuk komplek perumahan Belanda ini. Terdengar perdebatan kecil antara laki-laki dan perempuan. Suara perempuan itu tidak asing. Mataku mengintip, dan itu adalah Nola. Pria yang sedang memboncengnya di motor buntut berkata, “Ayolah sayang, tidak ada hantu di sini. Ini hanya sebuah komplek tua. Jika aku berhasil ke dalam dan menemukan banyak harta peninggalan Belanda. Aku akan cepat kaya dan sebuah pesta pernikahan yang megah akan kupersembahkan untukmu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN