“Whuzzz!”
“Berpencar!” Teriakan Nalo tidak cukup jelas terbawa angin namun aku masih bisa menangkapnya.
Mengapa berpencar? Itu karena kota ini tidak terlalu luas dan banyak jalan buntu. Jadi jika kami harus berlari bersama, kemungkinan besar akan semakin mudah ditangkap. Membuat mereka tercerai berai kemudian menghancurkan mereka mungkin akan lebih mudah. Kurasa itu yang sedang dipikirkan Nalo.
Nalo merupakan tipe pegulat dengan tubuh yang sangat berotot dan besar. Tinggi kami hampir sama, aku hanya 3 inchi lebih tinggi darinya. Tubuhku tidak sebesar Nalo, tapi cukup keras dengan sixpack dan bicep yang proporsional dengan tinggiku yang 188 cm.
Jika harus bertarung satu lawan satu dengan zombie itu, Nalo lah yang paling cocok. Sedangkan aku, kemampuanku lebih ke lari dan memanjat. Asal kau tahu, aku sangat menggemari olahraga panjat tebing setelah itu baru panjat wanita.
Nalo mengambil ke arah kanan dan aku sebaliknya. Nona Smith ternyata juga meluncur ke arahku. Mungkin aku bisa memanfaatkan senjata yang dia bawa. Entah di mana keranjang kulit pisangnya tapi di punggungnya masih ada satu ransel penuh bola tenis.
“Nona Smith, hancurkan mereka dengan bola itu!” Aku berteriak.
“Apa?’ Tangannya melebar di belakang telinganya mencoba menangkap kata-kataku.
Kakiku melambat, “Bola tenis itu bisa untuk menghancurkan para zombie itu!”
“Ini untukmu, hiiaaaaaa ….” Sebuah bola tenis dilemparkan ke arahku.
Tak ada yang bisa kulakukan selain menghindar. Bola itu menghancurkan sebuah istal kuda. Dan apapun yang telah mati di sini tidak suka keributan. Kuda-kuda yang telah mati mengering meringkik. Ya, kali ini zombie kuda.
Kudam hitam gepeng dan kering itu meringkik dengan dua kaki depannya menjejak udara. Dari hidungnya keluar nafas hitam berbau busuk. Kepalanya menoleh ke arah Nona Smith yang seperti hampir terkena serangan jantung. Kedua tangannya menangkup pipinya dan matanya membelalak hampir keluar.
Aku menyambar tubuhnya yang mungil dan kurus ketika kuda itu akan menendangkan dua kaki depannya ke arah d**a Nona Smith yang serata papan triplek. Masih sambil meluncur aku memindahkannya ke punggungku. Kedua tangannya melingkari leherku seperti anak monyet. Kedua kakinya yang kurus merangkul pinggulku dan menyilangkan kakinya di depan perutku.
Keintiman yang tidak pernah kubayangkan bersama seorang perawan tua yang sudah bau tanah. Sesekali tangannya menunjuk ke depan menunjukkan arah. Mulutnya benar-benar berisik dan melengking di telingaku. Jika kau pernah melihat kuda kuda berlari di pacuan kuda, nah kuda yang mengejar kami juga secepat itu, tapi sayangnya gaya berlarinya terkadang miring-miring geloyoran seperti orang mabuk. Itu karena badannya agak gepeng mengering jadi ia sulit menempatkan keseimbangan dengan kecepatannya.
“Plakk!”
Nona Smith memukul kepalaku ketika kuda itu sudah sangat dekat, “Bodoh, cepat! Kau pemuda payah!”
“Plakk!”
Coba kau perhatikan sekarang, siapa yang lebih mirip dengan kuda? Tentu saja aku.
“Berhentilah mendikteku atau kulemparkan tubuhmu yang kerempeng tidak menggairahkan sama sekali sekarang juga!”
“Plakk!” Nona Smith menampar mulutku.
“Kau pemuda tidak punya sopan santun!”
“Plakk!!” Pukulan kali ini membuatku merasakan anyir dimulutku.
“Cepat minta maaf!”
“Iya iya.. maaf maaf.”
Dalam pelarian kami, aku memikirkan apa yang tidak bisa dilakukan kuda dan apa yang bisa kulakukan. Kuda itu berlari tanpa lelah dan aku sudah mulai kelelahan. Aku mencari apapun yang bisa dipanjat karean setahuku kuda tidak bisa memanjat. Tapi Nona Smith benar-benar berisik di telingaku dengan memanggil-manggil nama kekasihnya.
“Ferguso …! Yuhuuu… Aku dalam bahaya, datanglah …!” teriak Nona Smith begitu melengking di telingaku.
Ferguso? Kurasa aku pernah mendengar nama itu, tapi entah di mana. Jika itu menyangkut nama-nama aneh, pasti itu ada hubungannya dengan nenekku. Oh iya aku ingat. Ferguso adalah nama kuda kesayangan nenekku, dinamai dari nama seorang pemeran utama pria dari telenovela yang ditonton nenekku sewaktu ia belum terlalu tua seperti sekarang ini.
Nenekku yang seksi itu menggemari kuda. Aku pernah belajar menunggang kuda di bawah ancaman pecutnya. Aku sama sekali tidak menyukai kuda yang bisa bernafas. Aku lebih suka kuda yang bisa mengeluarkan asap, motor. Itulah salah satu alasan mengapa nenekku terkadang meragukan bahwa aku adalah cucu kandungnya. Selera kami terlalu berbeda.
Aku berbelok menuju sebuah rumah Belanda yang terlihat paling besar dengan pilar-pilarnya yang agung. Kurasa itu adalah rumah milik seorang Gubernur. Aku tidak memasuki rumah itu lewat pintu karena kuda itu juga pasti bisa memasukinya. Ada sebuah tangga di sisi rumah itu. Aku memanjat menuju balkonnya.
Tangga kayu itu berderak ketika kakiku mulai menapakinya. Serbuk kayu berhamburan. Beberapa kali aku harus terbatuk karena Nona Smith semakin mempererat pegangannya di leherku. Dan itu semakin memperburuk keadaan, tangga itu kurasa tidak akan bertahan lama. Kupercepat langkahku untuk meraih tepi balkon tepat di saat tangga itu roboh.
Kau pernah melihat induk monyet bergelantungan dengan dengan bayinya di punggung? Itu pemandangan yang bisa kau bayangkan tentang kami sekarang. Tapi jangan menahan nafas, kemampuanku memanjat tebing sangat berguna di situasi seperti ini. Kakiku berayun untuk meraih tepian balkon, tapi sayangnya sebelum aku berhasil melakukannya. Si kuda marah sudah ada di bawahku, meringkin dan mencoba menjejakku dengan kedua kaki depannya.
Di saat hidupmu di ujung tanduk entah bagaimana kekuatan ajaib datang. Dengan kekuatan tangan yang tersisa aku menarik tubuhku yang digelayuti Nona Smith ke atas, meraih jeruji pagar balkon dan melompatinya.
“Aauuwwww!” Aku mengutuki siapa pun yang mendesain jeruji pagar itu dengan ujung menyerupai tombak. Itu menyodok selangkanganku dengan sangat menyakitkan.
“Kretakkk!” Suara apa itu?
Aku terjatuh dengan Nona Smith sebagai bantalan punggungku. Sial, kurasa itu adalah suara tulang punggungku. Aku perlahan bangkit masih dengan menahan nyeri tusukan tadi. Ya Tuhan, kuharap dia baik-baik saja. Jika dia terbunuh. Itu murni karena ketidaksengajaan. Kuharap dia tidak akan gentayangan menghantuiku jika itu benar terjadi.
Wajahnya lebih horor dari hantu manapun yang pernah kutonton. Matanya melotot dengan lidah yang menjulur ke samping. Aku mulai gugup, kulihat dadanya yang sedatar layar LCD tidak bergerak naik-turun. Aku memang b******k, tapi aku tidak pernah akan tega dengan sengaja melukai makhluk tak berdaya seperti nenek-nenek.
Jariku gemetaran memeriksa nadinya. Sungguh ajaib, itu masih berdenyut meskipun agak lambat seperti alunan musik jazz yang selalu diputar nenekku. Aku mulai memikirkan bagaimana proses kami terjatuh. Pasti punggungku telah menghempaskan seluruh oksigen yang ada di paru-parunya. Jadi jalan pertolongan pertamanya adalah?
Nafas buatan, mungkin itu jalan pertolongan pertama yang bisa diberikan. Kepalaku menoleh kesana-kemari, tidak ada orang lain yang bisa kumintai bantuan. Kuda gila di bawah sana terus meringkik dan mengeluarkan suara-suara aneh. Kurasa dia sedang memaki dalam bahasa kuda. Itu membuaku semakin gugup.
Aku memang bodoh dan tidak mengerti cara memberi pertolongan pertama, tapi kurasa aku bisa mencobanya. Aku harus mempertanggungkan perbuatanku yang menyebabkan Nona Smith kehabisan nafas. Aku akan memikirkan ini bukanlah sebuah ciuman tapi sebuah pertolongan pertama.
Kedua tanganku merengkuh wajah yang penuh keriput itu dan Ya Tuhan, leherku kaku tidak bisa turun ke bawah. Aku mencoba memejamkan mata tapi bayangan wajah keriput itu menari-nari di pelupuk mataku yang tertutup. Sudah sangat dekat, aku memaksa leherku untuk turun. Aku bahkan sudah bisa mencium aroma minyak angin bercampur bau tengik.
Tanganku bergetar dan di saat aku hamir saja melakukannya, karena cuping hidungku sudah menyentuh cuping hidungnya, sebuah suara menggelegar membuatku mengerem mendadak.
“Rosalinda!!!”
Hah, siapa lagi itu Rosalinda, sepertinya juga tidak asing. Mataku terbuka, ya ampun, melihat perawan tua di pelupuk mata lebih mengerikan daripada monster manapun yang pernah kulihat. Aku menengok ke arah suara itu. Dan itu adalah kekasih Nona Smith. Pria tua buncit dengan pakaian khas bankir, lengkap dengan dasinya.
“Singkirkan tangan hinamu itu darinya!” teriaknya lagi. “Kau pemuda jalang, tidak tahu diri. Kau bahkan ingin memanfaatkan seorang perempuan yang lebih pantas menjadi nenekmu.”