Azan subuh berkumandang tandanya orang-harus melaksanakan kewajibannya menunaikan ibadah sholat. Bangun subuh adalah kebiasaan Umi dari kecil dan sekarang Umi pun telah selesai mandi, sholat, berdzikir dan mengaji. Tak lupa juga selalu membangunkanku untuk mandi lalu sholat, Umi selalu mengajarkanku untuk rajin dengan hal yang berhubungan dengan agama, walaupun aku masih kecil tapi aku selalu melaksanakan perintah Umi terutama terhadap Allah SWT. Memakai hijab dari kecil, sholat, puasa, mengaji dan Umi tak pernah absen untuk melatih aku menyanyi karena menyanyi adalah salah satu hobiku.
Aku selalu diajarkan untuk berbuat baik terhadap semua orang dan Umi selalu menceritan tentang kisah-kisah Rasulullah saw. yang begitu banyak hikmahnya, terkadang aku juga belajar dari apa yang Umi ceritakan. Jadi aku bisa menerapkan sunah Rasul kedalam kehidupanku sehari-hari, seperti adab makan, adab bertamu, adab berdoa, adab terhadap orang yang lebih tua dan lain-lainnya. Umi memang seorang Ibu yang luar biasa bagiku, walaupun pendidikannya hanya Madrasah Aliyah tapi Umi bener-bener seperti orang berpendidikan tinggi, Umi tahu tentang ilmu agama sebab dulu Umi bejalar di arab bersama Abi. Umiku memang hebat, beruntung aku bisa lahir dari rahimnya.
Setelah selesai Umi langsung bergegas menuju dapur membantu bi Minah memasak, Umi langsung menghampiri bi Minah yang sedang membersihkan meja makan.
“Bi, biar Syaidha saja yang memasak, bi Minah menyapu saja,” ucap umi dan langusng di angguki oleh bi Minah.
Setelah itu Umi langsung menghampiri kulkas, melihat bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Umi berfikir sejenak mulai memikirkan menu apa yang akan Umi buat, dengan sekejap Umi langsung mendapatkan menu spesial yang akan Umi masak. Umi langsung mulai memasak semua yang menjadi menunya, tak butuh waktu lama hanya beberapa menit masakan pun telah jadi. Makanan sederhana seprerti tumis kangkung, telur balado dan goreng ikan bawal telah siap untuk di hidangkan, semuanya Umi siapkan di atas meja makan lalu setelah selesai Umi kembali ke dapur.
“Sepertinya ada yang kurang, apa yah?” rancau Umi. Berfikir sejenak, lalu Umi langsung mengambil gelas dan membuatkan tuan muda secangkir kopi dan tak lupa Umi membuka kulkas mengambil buah-buahan untuk menjadi pencuci mulut, tadinya Umi mau buat puding untuk penutup makanan tapi itu butuh waktu lama jadi umi urungkan niatnya dan langsung mengupas buah apel, pepaya dan melon. Setelah merasa semuanya selesai, Umi simpan irisan buah-buahan itu di atas meja makan begitu tertata rapih dengan makanan yang lainnya. kemudian Umi kembali ke dapur membereskan semua peralatan yang pada kotor, setelah selesai Umi langsung masuk ke kamar untuk mengajakku untuk berjalan-jalan di taman belakang rumah. Di sana ada kolam renang, ada tanaman bunga dan ada tempat untuk santai dan yang lainnya.
Ketika tuan muda turun dan seperti biasanya, sebelum berangkat ke kantor ia pasti sarapan di rumah karena ia tak mau makan di luaran sana katanya tak ingin bertemu dengan wanita-wanita yang selalu menggodanya, makanya ia selalu sarapan di rumah dan kadang ia selalu minta di antarkan bekal oleh bi Minah ke kantornya untuk makan siang di ruangan begitu dengan seterusnya seperti itu.
Emmm … ternyata tuan muda anti perempuan yah! Ku kira anak orang kaya tuh selalu gaul dengan perempuan dimana pun, bebas! Ternyata nggak, dugaanku yang salah. Jadi, jangan melihat orang dari luarnya saja, sebab itu bukan cerminan dari hatinya dan kau tak akan pernah tahu bagaimana kepribadiannya jika kau tak lebih mengenalnya.
Tuan muda langsung duduk dan mulai memakan makanan yang ada di depannya, ia tak manja seperti orang pada umumnya, ia tak harus di layani oleh pembantunya karena bagi ia selama kita mampu bisa melakukan sendiri kenapa tidak! Itu prinsipnya. Salut dah sama pemikirannya tuan muda ini.
Ketika merasakan makanan yang tuan muda ambil di atas piring begitu enak dan menggugah selera lidahnya, matanya berbinar kala makanan yang di makannya sungguh enak. Ia begitu senang karena kali ini makanannya benar-benar sangat istimewa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tuan muda melihat ada secangkir kopi di pinggirnya, sepiring buah-buahan yang sudah terkupas rapih dan ada tisu di pinggirnya. Merasa bingung, tuan muda bertanya-taya dalam hatinya.
‘Ada apa dengan semuanya? Ini terlihat begitu berbeda dari sebelumnya’ gumamnya, dan tuan muda memanggil bi Minah untuk menanyakan semuanya.
“Bi Minah, kemari!”
“Iya tuan, ada apa? Apakah ada kesalahan?” tanya bi Minah kepada tuan muda.
“Tidak! Tidak ada kesalahan, hanya saja merasa ada yang aneh dengan semua ini?” balas tuan muda sambil menunjuk meja makan dan segera menatap bi Minah.
“Apakah bi Minah yang melakukan ini semua?” tanya tuan muda.
“Bu-kan tuan! Bukan saya, tapi Syaidha yang menyiapkan semuanya untuk tuan, saya dari tadi hanya menyapu rumah dan halaman saja tuan. Apakah makanannya tidak enak?” ucap bi Minah menjelaskan.
“Ummm … Begitu yah, makanannya sangat enak, saya suka! Nanti bawakan makanan ini ke kantor pas jam makan siang,” titahnya dan langsung di angguki oleh bi Minah.
Setelah itu tuan muda bergegas menuju mobil di halaman rumah dan langsung masuk. Dalam perjalanan menuju kantor tuan muda senyum-senyum sendiri. Untung saja ia tak diantar oleh supirnya, jadi aman kalau gak pasti bisa di bilang gak waras karena senyum-senyum sendiri.
‘Lama-lama aku bisa gila kalau kaya gini. Gila karena cinta terhadap wanita yang sempurna bagiku’ rancau tuan muda sambil menyetir.
Tuan muda sangat kagum dengan Syaidha, orang yang ia tolong dan sekarang ada di rumahnya. Di dalam mobil tuan muda terus saja bergumam dan tersenyum sambil memikirkan Umi.
“Sudah baik, sholehah, cantik, perhatian, penyayang, pinter masak, bahkan tadi subuh aku tak sengaja mendengar suara merdunya melantunkan ayat suci Al Qur’an dan bernyanyi. Sungguh, sangat luar biasa! Aku tak pernah melihat wanita seperti dia, baru kali ini aku merasakan hal berbeda dengan dia. Apakah aku mulai menyukainya? Tidak-tidak! Dia itu sudah punya suami masa aku hembat juga, jadi pelakor dong aku! Eehh bentar, aku ingat bahwa dia seorang janda, pas waktu aku menolongnya dan sempat bertanya di mana suaminya dan dia jawab kalau dia sudah cerai dengan suaminya. Berarti masih ada kesempatam dong buat aku untuk mendapatkannya,” fikir tuan muda sambil tersenyum.
Hari berganti minggu dan berganti menjadi beberapa bulan, hal-hal seperti biasa yang selalu Umi lakukan selama di rumah tuan muda adalah menjadi pembantu yang bener-bener berkualitas, Umi tak mau mengecewakan kepercayaan dari tuan muda jadi Umi sebisa mungkin melayani tuan muda seperti Abi dulu. Ternyata Umi bisa melakukan segalanya dan itulah Umi bagaikan seorang multitalent. Hal apa yang tak bisa Umi lakukan walaupun seorang wanita tapi Umi bisa melakukan pekerjaan laki-laki seperti memanjat, membenarkan genting yang tergeser, membantu pak Maman memotong rumput dan yang lainnya. Ternyata tuan muda mulai menyukai Syaidha, ia mengagumi semua yang ada pada diri syaidha. Karena baru kali ini tuan muda merasakan hal yang beda, yaitu jatuh cinta pandangan pertama. Tuan muda ingin mengutarakan perasaannya kepada Syaidha nanti sore, ia ingin menyatakan cintanya kepada sang pujaan hati.
Ketika niatnya itu ingin sekali terlaksanakan, tiba-tiba sang Bunda menelpon bahwa tuan muda harus datang ke rumah Bundanya nanti sore untuk mengikuti undangan teman-teman arisan Bundanya tuan muda, tuan muda begitu kesal dengan keadaannya padahal ia mau menyatakan cintanya kepada Syaidha.
“Kenapa harus sekarang? Kenapa tidak besok- besok saja!” gusarnya. Tuan muda saat ini sangat bingung, apa yang harus ia lakukan, menyatakan cintanya kepada Syaidha terlebih dahulu, apa harus ikut dengan Bundanya ke undangan temen-temennya?
Tuan muda berfikir sejenak. Lalu ia memutuskan untuk ikut dengan Bundanya menghadiri pesta, setelah pulang dari kantor tuan muda langsung ke rumah Bundanya dan ganti baju di sana. Setelah selesai, tuan muda dan Bundanya bergegas pergi ke pesta, begitu ramai orang-orang terpandang di sana hanya orang-orang kaya yang menghadiri pestanya. Ternyata Bundanya tuan muda ingin menjodohkan putranya dengan putri dari temannya, sontak itu membuat tuan muda kaget. Pasalnya ia sudah punya pujaan hati dan tak mau di jodohkan dengan yang lain karena mereka tidak termasuk kriteria wanita sholeha, itu fikir tuan muda. Karena tuan muda ingat dengan pesan almarhum Ayahnya yaitu menyuruhnya menikah dengan wanita sholeha, jadi ia ingin menuruti keinginan ayahnya.
Disisi lain, ia tak ingin menjadi anak pembangkang jika ia tak menuruti keinginan Bundanya. Tapi tuan muda tetap berpegang dengan prinsipnya bahwa ia harus memperjuangkan cintanya dan mengikuti pesan Ayahnya, karena baginya perintah Ayah lebih baik dari pada menuruti keinginan Bundanya yang ingin menikahkan anaknya dengan wanita yang tak menutup auratnya. Berlama-lama di pesta itu baginya sangat membosankan, hanya ngobrol-ngobrol gak jelas. Dan akhirnya tuan muda memutuskan untuk pulang setelah meminta izin kepada bundanya.
Dalam perjalan pulang tuan muda melihat toko bunga yang sangat indah, ia berniat membeli bunga untuk menyatakan cintanya kepada Syaidha malam ini. Tuan muda bergegas keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam toko bunga, mencari bunga mawar di setiap deretan bunga yang lainnya. Mata tuan Dinar berbinar kala menemukan bungan yang cocock buat sang pujaan hatinya.Setelah ketemu, tuan muda memesan setangkai bunga mawar merah dan seikat bunga lili ak di terima maka bunga lili itu akan mengawali persahabatannya.
Setelah selesai tuan muda langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia berharap bahwa semua akan berjalan lancar. ‘Semoga malam ini adalah malam yang indah untukku, bisa mengukir kisah cintaku dengan Syaidha’batinnya dengan penuh harap. Tak butuh waktu lama, akhirnya kendaraan mewahnya berhenti di halaman rumah.dengan rasa tak sabar, tuan muda langsung masuk kedalam rumah dengan senyum yang berseri-seri. Mencari dan memanggil Syaidha sambil menggenggam bunga yang ia beli, ketika orang yang ia cari belum keliatan batang hidungnya, tuan muda bingung kemana syaidha dari tadi.
Nama yang dari tadi di panggil-panggil tak menyahut, dengan penasaran tuan menyusuri satu persatu ruangan yang ada di rumah dan ternyata Syaidha ada di dapur sedang memasak makanan untuk makan malamnya. Perlahan tuan muda menghampiri syaidha dan berdiri tepat di depannya, Umi tertegun melihat tuan muda dari jarak yang sangat dekat dengan tiba-tiba. Ada apa gerangan?
Umi langsung menunduk dan berkata, “A-a ada apa tuan? Apakah tuan membutuhkan sesuatu?” tanya Umi dengan gugup. Karena jarak yang begitu dekat dan sebebet yang ada di tanagn Umi terjatuh saking gugupnya.