PART 03 Menolong Sesama Muslim

1362 Kata
Setelah setuju untuk menjadi pembantu di rumah tuan muda, Umi langsung bergegas mengikuti tuan muda tadi dan langsung Umi menggendongku dengan membawa tas besar di genggamannya. Umi berjalan menyusuri lorong rumah sakit mengikuti langkah tuan muda, tiba-tiba Umi teringat bahwa harus menebus resep obat yang dokter berikan dan saat itu juga Umi meminta izin kepada tuan muda untuk ke tempat apotik rumah sakit, bahwa Umi harus menebus obatku. Tuan muda mengangguk mengerti, setelah itu mereka ke apotik menebus obat. Disaat perjalanan menuju apotik, Umi melihat seseorang terjatuh dari kursi rodanya, Umi langsung menghampirinya dan membantunya untuk duduk kembali di tempat kursi roda. Nenek tua yang Umi bantu itu mengucapkan terima kasih dan ia meminta tolong sekali lagi kepada Umi untuk mengantarnya ke tempat anaknya di rawat. Setelah Umi mengantarkannya keruangan yang di sebutkan nenek tadi, lalu ia langsung mengucapkan ‘terima kasih’ lagi kepada Umi karena telah membantunya untuk bertemu dengan anaknya. Umi hanya tersenyum dan membalas rasa terima kasih itu dengan mencium pucuk kepala sang nenek. Sesaat Umi meneteskan air matanya karena teringat dengan kedua orang tuanya terutama sang Ibu. Semua orang yang di sana pun tertegun melihat apa yang di lakukan Umi begitu juga tuan muda, ia terharu melihat Umi meneteskan air mata. Setelah selesai, Nenek itu dan cucunya mengucapkan terima kasih kepada Umi karena telah membawa neneknya kesana, dan Umi pun mengucapkan kata ‘sama-sama’ dan mohon untuk pamit. Lalu Umi menebus obat ke apotik setelah selesai Umi pulang ikut bersama tuan muda. Dalam perjalanan menuju pulang, di dalam mobil hanya ada kesunyian yang menemani mereka. Umi hanya memelukku dan mengusapkan tangannya di kepalaku yang di lapisi jilbab. Ketika Umi mengedarkan pandangannya ke kaca, Umi melihat pengemis dan kedua anaknya yang sedang kelaparan. Umi langsung meminta izin untuk mobilnya berhenti sebentar lalu Umi berkata, “Tuan, tolong berhenti sebentar!” pinta Umi. Tanpa berbicara panjang, Umi langsung keluar dan berlari menuju tempat warung makan, membelikan makanan untuk pengemis itu. Aku tertidur lelap di dalam mobil, tapi tuan muda malah penasaran apa yang akan Umi lakukan lalu ia membuka kaca dan melihat Umi lari ke tempat rumah makan dan memberikannya kepada pengemis. Tuan muda hanya berdecak kagum melihat apa di lakukan Umi yang selalu berbuat di luar dugaannya. “Lagi-lagi aku di kagumkan dengan kelakuannya, jarang sekali aku melihat seseorang perduli terhadap orang lain. Dia sungguh luar biasa, aku sangat kagum dengannya,” gumamnya sambil menyiratkan senyum simpul dibibirnya. Setelah selesai Umi langsung masuk ke dalam mobil dan meminta maaf kepada tuan muda. “Tuan, saya minta maaf! Karena tuan harus menunggu saya lagi,” mohon Umi sambil menunduk mengatakannya. “Tidak apa-apa, saya hanya kagum dengan anda. Anda begitu perduli dengan orang-orang di sekitar. Padahal anda juga tidak mengenalnya dan anda pun sekarang sedang kesusahan,” kata tuan muda, mengutarakan kekagumannya. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Jika kita melihat seseorang yang sedang kesusahan maka kita harus saling membantu dan menolongnya. Karena Allah swt akan memberikan pahala kepada siapapun yang ikhlas membantu orang-orang yang sedang kesusahan,” penjelasan Umi kepada tuan muda, hal itu membuat tuan muda tersenyum kagum. Maa Syaa Allah Mi, Aku terharu! Semoga Aku bisa mencontoh prilaku baik Umi, aamiin. “Jadi, saya juga dong dapet pahala karena menolong kamu,” timpal tuan muda terkekeh mengatakannya sambil melihat ke arah Umi. “Ya, mungkin bisa jadi,” jawab Umi sambil tersenyum simpul. Tak terasa mobil pun memasuki perkarangan rumah tuan muda. Setelah terparkirkan di halaman, Umi menggendongku dan keluar dari mobil membawa tas besar lalu berjalan memasuki rumah besar milik tuan muda. Setelah tuan muda dan Umi masuk, tuan muda memanggil pembantu di rumahnya untuk mengantarkan aku dan Umi ke kamar. Setelah itu umi membaringkanku ke tempat tidur, menyelimutiku, mengecup pucuk kepalaku dan Umi langsung melangkah keluar bergegas menuju dapur. Tiba-tiba saja Bi Minah datang menghampiri Umi dan bertanya, “Nyonya sedang apa? Apakah butuh sesuatu?” tanyanya dengan penasaran, karena bi Minah tak mau tamu tuannya mengambil seseatu sendiri. Dengan cepat Umi menjawab pertanyaan bi Minah karena takut membuatnya bingung. “Saya tidak butuh apa-apa, saya hanya akan membuatkan secangkir kopi untuk tuan. Oh ya! Jangan panggil saya nyonya, panggil saja saya Syaidha karena saya lebih muda dari Bibi. Dan saya juga pembantu baru di sini, jadi posisi kita sama,” jawab Umi memberikan pengertian kepada Bi Minah yang berumuran 30 tahunan. Lalu Umi pamit untuk membawa kopi tersebut ke kamar tuan muda. Ketika hendak mendekati kamar tuan muda, ada rasa canggung pada hati Umi. Sejenak Umi bergeming untuk melangkahkan kakinya untuk masuk. Sesaat, Umi hanya berdiri di depan pintu. Beberapa menit berlalu Umi mau memegang knop pintu, ternyata pintu terbuka duluan oleh tuan muda dan tiba-tiba pandangan Umi dan tuan muda beradu saling menatap. Hening, tanpa ada suara karena tatapan itu sangat lama. Tiba-tiba Umi tersadar lalu Umi langsung menunduk dan berkata, “Maaf tuan, saya hanya ingin mengantarkan kopi ini untuk tuan,” ucap Umi, tuan muda tak mendengarkannya ia masih menatap Umi, ketika Umi memanggilnya baru ia tersadar dan refleks memegang tangan Umi yang lagi megang nampan. “Maaf tuan, tangannya.” Umi langsung melepaskan tangannya dan menunduk. “Eh! Iya maaf, saya gak sengaja,” ucapnya sambil tersenyum. “Baiklah, ini kopi untuk tuan, jangan lupa di minum dan selamat malam tuan,” ucap umi dengan lembut. Ketika Umi hendak berbalik meninggalkan tuan muda yang masih mematung di depan pintu, tiba-tiba tuan muda memanggilnya sehingga yang merasa terpanggil langsung membalikkan badannya. “Syaidha!” panggil tuan Dinar lembut. “Iya,” jawab Umi dan langsung melanjutkan ucapannya setelah membalikkan badannya menghadap tuan muda. “Apa ada lagi yang tuan butuhkan atau inginkan?” Umi menunggu jawaban dari tuannya sehingga membuat tuan Dinar lebih gugup lagi saat berhadapan kembali dengan Umi. “Umm … kayaknya tidak ada. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk kopinya dan selamat malam kembali, semoga malam ini mimpi indah.” Seindah mungkin tuan Dinar mencoba memberikan senyuman untuk wanita di hadapannya ini sehingga membuat yang hadapannya jadi salah tingkah. “Sama-sama, karena itu sudah menjadi tugas saya sebagai pembantu di sini. Maaf tuan, jika tidak ada lagi saya pamit untuk ke bawah.” Tuan Dinar masih setia melihat Umi Syaidha berjalan menuruni anak tangga dengan senyuman yang pernah hilang dari bibirnya. Entah apa yang di rasakan tuan Dinar sekarang tapi yang pasti ada rasa bahagia di saat melihat orang yang kita kagumi tersenyum karena kita. Lalu Umi langsung melangkah pergi menuju dapur menyimpan nampan dan pergi untuk berwudhu melaksanakan sholat isya. ‘Ada apa dengan tuan Dinar? Kenapa dia selalu tersenyum manis seolah-olah aku adalah kebahagiannya. Entahlah, lama-lama aku memikirkan si tuan aneh itu bisa-bisa aku juga ikut ketularan lagi senyum-senyum sendiri, ikh ngeri!’ Sementara itu, tuan Dinar di dalam kamarnya yang tadinya sibuk mengutak atik laptopnya malah asyik dengan lamunannya, mengingat kejadian tadi yang baru saja membuat hatinya seperti geteran el nino yang bisa mengetarkan bumi. Setelah menyesap kopi hitam yang telah di buatkan oleh Syaidha tuan Dinar kembali dalam lamunanya sambil berkicau layaknya burung yang sedang bahagia. “Sejak kapan aku mau meminum kopi? Padahal dari aku sekolah sampai sekarang aku jarang minum kopi hitam seperti ini, biasanya aku ‘kan minum jus, s**u di tambah jahe atau teh lemon di tambah madu. Ini benar-benar aneh,” tanyanya pada diri sendiri, memikirkan apa yang baru saja yang di ucapkannya. ‘Haish, lama-lama aku bisa gila kalau kayak gini. Apa kata orang nanti kalau aku persis seperti orang yang sakit jiwa, kau harus tanggung jawab Syaidha. Karena kau aku jadi gak waras seperti ini.’ Tuan Dinar terus saja berkicau tentang dirinya yang mungkin kalau orang lain lihat bisa akan berkata hal yang sama, tidak waras. Tapi sungguh, itu karena tuan Dinar baru pertama kalinya bisa merasakan jatuh cinta. Rasanya semua hidupnya indah seperti taman bunga yang bermekaran berjejeran di sepanjang tanah, hidupnya berwarna seperti pelangi yang indah membentang di angkasa dengan berbagai macam warna yang indah. Tapi akankah kehidupannya akan berlangsung bahagia layaknya air yang mengalir tenang di sungai? Dan apakah semuanya akan bertahan lama seperti ekspetasinya? Ayo tebak! Kenapa tuan muda gugup seperti itu? Apa mungkin tuan muda sudah ada rasa yah sama Umi? Sampe salting dan pasti dadanya berdebar tak karuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN