PART 02 Kesedihan yang Mendalam

1794 Kata
Beberapa bulan berlalu, Abi datang menghampiri Umi dan istri keduanya untuk meminta izin berpoligami kembali. Hati Umi tertohok perih, sakit rasanya harus berbagi cinta dengan orang lain lagi, cukup dengan madunya saja Umi harus berbagi suami dan ini Umi harus berbagi kembali. Tertunduk dan perlahan air matanya luruh, tak siap untuk menatap sang suami dan berkata lirih. “Bismillah … Ana izinkan Abi untuk berpoligami kembali,” ucap Umi dengan terbata-bata. Abi dan Ami Laila tercengang mendengar penuturan dari Umi, terutama Ami Laila yang menatap Umi dengan tidak percaya. “Ummi! Kenapa Umi mengizinkan Abi untuk menikah lagi? Kalau aku di posisi Umi pasti aku akan minta cerai dan pulang ke negaraku sendiri. Meninggalkan Abi yang telah buat hati Umi sakit dan menangis lagi. Terbuat dari apa sih hatinya? Apakah baja? Aku salut sama umi yang benar-benar hebatbisa menyembunyikan rasa sakitnya, jadi iri deh aku wkwkwk … Semoga aku dan para pembaca bisa seperti Umi Syaidha yang baik hati da tegar, aamiin.” Ami Laila tak menizinkan Abi untuk menikah lagi, beliau malah memaki Umi karena Umi mengizinkan Abi untuk menikah lagi. Sedangkan Umi hanya bisa diam, diam dan diam, “Biarkanlah ia meluapkan rasa sedihnya kepadaku, aku tak ingin ia menjadi istri pembangkang” fikir Umi dalam hati. “Heh!! Kenapa kau memaki Umiku? Jika aku sudah besar mungkin aku akan memakinya kembali. Tapi sayang, aku masih berumuran lima tahun. Jadi aku hanya bisa melihat Umi di maki. Jujur, aku tak tega melihat Umi di perlakukan seperti itu. Aku tahu bahwa hati Umi juga sakit, tapi Umi bisa menyembunyikan rasa sakitnya dan berusaha tegar di depan semua orang. Abi tega!! Aku kecewa sama Abi! Kenapa harus menikah lagi sih Abi? Seharusnya Abi tahu disini ada hati yang tersakiti. Memangnya Abi tak cukup punya istri dua? Dan ini mau nambah lagi. Ya Allah! Kuatkanlah Umiku ini ….” Umi perlahan membuat ami Laila sadar dan mengerti, bahwa poligami itu di perbolehkan dalam islam. Dan tidak ada halangan untuk seorang habib dan duta besar seperti Abi untuk berpoligami. Dan akhirnya Ami Laila menyerah dengan pendiriannya dan memberikan izin kepada Abi, tapi masih dengan perasaan sakit dan tanpa respon baik untuk Abi dari Ami Lalila. Setelah mendapatkan persetujuan dari Umi dan Ami Laila, Besoknya Abi melangsungkan pernikahannya di masjid besar di arab. Hanya sekedar akad nikah dan tamu undangan yang dating sebagian kerabat dan keluarga. Tak hanya itu, sahabat dan tetangga juga ikut menghadiri acara akad itu. Umi, dengan kelapangannya. Memepersiapkan semua kebutuhan dan keperluan sang suami untuk menikah. Seperti menyiapkan mahar, parsel bahkan baju yang Abi pakai Umi yang siapkan dan pakaikan. Cincin nikah yang indah itu Umi yang memilihkannya, dengan tegarnya Umi mengantarkan Abi untuk duduk di pelaminan dan mendampinginya. Kalian tahu! Gimana sakitnya hati seorang istri yang di madu? Aku, yang menulis ini pun ikut merasakan sakit, apalagi Umi Syaidha? Aku tahan air mata ini supaya tidak luruh membasahi pipi ini, tapi sayangnya kisah Umi Syaidha ini membuat pertahanan diriku untuk tidak menangis malah tidak bisa, tak terasa buliran bening dapat membasahi pipiku. Ku dengar ceritanya begitu menyayat hati, sungguh sesak untuk didengar. Apalagi Umi Syaidha yang merasakan, mungkin lebih sakit dari aku yang hanya mendengarkan. Bayangkan saja! Rumah tangga yang begitu bahagia nan harmonis hancur dengan sekejap saja. Itulah Umi Syaidha, yang kuat untuk menjalani semua ujian hidupnya. Wanita hebat yang tegar dan luar biasa. Selang beberapa bulan Umi menjalani hidupnya dengan kebohongan yang sangat menyakitkan. Hidup diantara istri-istri yang begitu manja terhadap Abi, tapi tidak dengan Umi. Karena Umi hanya bisa diam dengan semuanya, tidak bisa berbuat apa-apa. Yang terpenting semunaya bahagia dan tidak ada masalah dalam kaluarganya. Dan ditambah lagi sekarang Umi mendapatkan berita bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia di Indonesia. Dengan peresaaan hati yang hancur Umi meminta izin untuk pulang, Umi ingin melihat kedua orang tuanya untuk yang terakhir kalinya. Yang bikin aku kaget, bukannya dikasih izin malah Abi menalak Umi karena permintaan istri kedua dan ketiga. Mereka tak mau berbagi cinta dengan Umi begitu pun dengan harta yang Abi miliki. Padahal kata Abi itu bukan keinginan Abi menalak Umi, Abi terpaksa harus menalak Umi untuk memenuhi keinginan istri-istri mudanya. Sekali lagi hati Umi bebitu hancur, Umi tak pernah membayangkan peristiwa ini sebelumnya, berpisah dari suami tercinta. Akan tetapi takdir berkata lain, skenario Tuhan lebih indah dari rencana kita. Jadi Umi hanya bisa pasrah dan bersabar, mungkin ini jalan yang terbaik untuk Umi dari Tuhan supaya rasa sakit yang Umi rasakan bisa hilang dan di gantikan dengan kebahagiaan baru, karena Umi juga berhak untuk bahagia. Ketika selesai membereskan baju dan barang-barangnya, Umi membawa koper besar bersama aku ke bandara tanpa diantarkan oleh Abi. Yah, Umi pergi ke bandara tidak diantar oleh Abi. Setelah berjam-jam didalam pesawat akhirnya kami mendarat juga. Umi langsung bergegas pergi menuju rumahnya, melihat bendera kuning yang berjejer di sekeliling jalan menju rumahnya dan banyak pelayat juga yang berdatangan. Tapi Umi tak menghiraukan itu fikiran Umi hanya tertuju kepada mayat kedua orang tuanya. Disaat itu Umi langsung memeluk mayat kedua orang tuanya, menumpahkan kesedihan yang ada didalam hatinya. Disebelah Umi ada kedua kakak perempuannya yang sama measakan sedih, mereka menenangkan Umi untuk tegar supaya arwah kedua orang tuamya tennag dialam sana. Setelah di mandikan, dikafani, di sholati dan yang terakhir di kuburkan dan akhirnya mereka para pelayat berbondong-bondong untuk pulang, hanya ada anan-anak dari keluarga tertinggal yang masih menetap di pusara itu, setelah selesai mendoakan dan meratapi kepergian kedua orang tuanya, lalu mereka pulang ke rumah. Ketika di rumah,kedua kakaknya Umi memperselisihkan harta peninggalan kedua orang tuanya. Rumah, sawah dan tanah mereka akan jual. Umi kaget dengan tindakan kedua kakak Umi, tega-teganya mereka berbuat seperti itu, baru saja kedua orang tuanya meninggal dan tanah kuburannya pun masih merah tapi kedua kakak Umi ingin langsung menjual rumah dan yang lainnya. Rasa kecewalah yang Umi rasakan sekarang terhadap kedua kakak perempuannya. Gimana gak kecewa coba? Kalian juga pasti bisa ngerasain gimana kecewanya Umi terhadap kakak-kakaknya. Selama ini mereka pergi tanpa kabar, tak pernah sedikit pun memikirkan keadaan Ibu dan Bapaknya. Tapi sekarang mereka datang hanya ingin peninggaln kedua orang tunya. Dasar tante-tante gak tahu diri! Ikh, jadi sebel deh aku. Setelah terjual semuanya, mereka tak membagi rata uangnya dengan Umi, malah Umi tidak di beri sedikit pun. Dan yang lebih teganya lagi, mereka tak menganggap Umi sebagai adik mereka lagi sebab mereka iri dan benci kepada Umi yang selalu di sayang dan di utamakan oleh kedua orang tuanya. Dulu di mata masyarakat pun Umi anak yang baik dan berbakti kepada orang tuanya. Dari situlah mereka benci terhadap Umi, mereka meninggalkan Umi dan aku di jalanan. Aku menangis kedinginan karena saat itu hujan turun deras tak ada tempat untuk meneduh, hujan membasahi kami sampai malam pun tiba. Kini perutku terasa sakit menahan lapar, aku ingat! Aku tak makan sedikit pun sepulangnya daei rumah Abi dan di rumah nenek pun aku tidak makan sedikit pun dan akhirnya aku jatuh pingsan. Umi kaget melihatku jatuh pingsan, Umi gusar dan gelisah hingga terus memanggil namaku supaya aku bangun. Tapi apalah dayaku, tubuh ini terasa lemas tak berdaya, dingin itu yang aku rasakan. Entah, bagaimana dengan Umi? Aku tak tahu karena aku tak sadarkan diri.Umi memutuskan untuk mencari bantuan kesana kemari untuk menyelamatkanku. Akhirnya ada sebuah mobil yang berhenti, soalnya waktu itu kami ada di pinggir jalan. Umi melambaikan tangan kepada mobil tersebut dan akhirnya turunlah sang empunya menghampiri Umi dan bertanya, “Anda kenapa?Apa ada yang bisa saya bantu?” pemilik mobil mewah itu bertanya kepada Umi. Lalu Umi langsung menjawabnya, “Bisakah tuan membantu saya untuk membawa anak saya ke rumah sakit? Saya mohon, tolong anak saya, saya sangat khawatir dengan keadaannya,” ucap Umi sambil memohon dengan menelungkupkan kedua tangannya di d**a. “Baiklah, saya akan membawanya ke rumah sakit. Biar saya saja yang angkat anaknya ke dalam mobil,” ucap tuan muda itu. Dan akhirnya mereka membawaku ke rumah sakit. Setelah sampai, aku langsung di tidurkan di branker dan langsung di bawa ke ruang ICU. Umi sangat panik, wajahnya pucat dan tubuhnya pasti kedinginan karena baju yang di pakai Umi basah. Tuan muda tadi tak tega melihatnya, lalu ia membuka jasnya dan memakaikannya ke tubuh Umi. Umi langsung terlonjat kaget dengan jas yang ada di tubuhnya, Umi tertunduk dan berkata, “Maaf tuan, kenapa tuan harus melepas jasnya untuk saya? Pasti tuan juga kedinginan." Umi langsung membuka jasnya dan memberikan kepada sang empunya. “Ini tuan jasnya, terima kasih banyak atas perhatiannya. Maaf, bukannya saya tidak mau tapi tuan juga pasti kedinginan karena baju tuan juga basah,” tutur Umi sambil menyodorkan jas tuan muda dan Umi langsung melipat kedua tangannya didada karena merasa dingin. Tuan muda itu melihatnya pun tersenyum miring, lalu ia melangkah dan langsung memakaikan jasnya lagi kepada Umi. “Jangan tolak jas ini, pakailah! Lihat, kamu sendiri juga kedinginan sok ingin perduli terhadap orang lain!” titah tuan muda itu. Tiba-tiba sang dokter keluar dari ruangan, melihat itu Umi pun langsung menghampiri sang dokter dan bertanya, “Bagaimana keadaan anak saya, Dok? Apakah anak saya baik-baik saja? Apakah anak saya sudah siuman?” ucap Umi denga sederet pertanyaan. “Tenang saja bu, anak ibu tidak sakit parah cuma sakit maag. Jadi telat sedikit ia akan merasa sakit” ucapnya. Lalu melanjutkan ucapannya lagi. “Anak Ibu bisa langsung dibawa pulang, sekarang ia sudah siuman dan ini resep obatnya. Baiklah kalu begitu saya pergi dulu,” kata sang dokter. Umimengucapkan terima kasih kepada sang dokter. Lalu Umi langsung nasuk ke dalam ruangan dan di ikuti oleh tuan muda tadi. Umi langsung memeluk dan mencium pucuk kepalaku. Rasanya Umi sangat menyayangiku, terlihat dari raut wajahnya yang begitu mengkhawatirkanku. Aku beruntung terlahir dari rahimnyadan bangga mempinyai ummi yang hebat. Seberat apapun uajiannya dan seberat apapun cobaannya Umi tetap tegar dan kuat. “Apa yang sakit anakku? Umi yakin, kamu anak yang kuat jadi kamu janga takut yah, ada Umi disini yang selalu ada buat kamu,” ucap Umi menyemangatiku. Umi masih setia menggenggam tanganku dan mencuimnya berkali-kali. “Kita pulang dari sini nak, Umi akan mencari tempat buat kuta beristirahat.” Mendengar hal itu, tuan muda itu iba melihatnya, ia langsung berfikir untuk menolongnya dan berkata, “Anda tidak usah susah-susah cari tempat tinggal, saya akan menampung kalian di rumah saya tapi dengan satu syarat ….” Tuan muda itu menggantung perkataannya. Dan Umi langsung bertanya, “Apa syaratnya tuan?” tanya Umi pada tuan muda itu dengan penasaran. “Syaratnya, kamu jadi pembantu di rumah saya! Jika mau, kamu ikut dengan saya. Jika tidak! Maaf, saya sekarang harus pergi,” ucapnya dengan sangat dingin. “Tak apa tuan, saya bersedia menjadi pembantu di rumah tuan. Yang penting kami ada tempat untuk berteduh,” ucap Umi dan langsung menatapku. ‘Demi anakku. Aku rela melakukan apapun, jika itu harus menjadi pembantu kembali’ batin Umi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN