Bab 3. Terpesona

1093 Kata
"Mbak maaf sebenarnya Bu Hana itu siapa?" tanya Alina begitu berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Dina. "Bu Hana itu calon tunangan Pak Arsha. Itu orangnya." Alina melihat arah yang ditunjuk Dina menggunakan isyarat dengan mengangkat sedikit dagunya. "Cantik, modis, model ya, Mbak?" tanya Alina lagi cukup kagum dengan sosok Hana yang memang cantik dan terlihat sempurna sebagai seorang wanita. "Kok malah minta diusir kalau calon tunangan, Mbak?" Lagi-lagi Alina dikungkung rasa penasaran, karena merasa aneh dengan sikap bos barunya. "Pak Arsha sepertinya nggak setuju dengan rencana orang tuanya yang menjodohkan mereka," jawab Dina sambil tersenyum membalas lambaian Hana untuk mendekat. "O dijodohkan? Terus ini saya diminta ngusir Bu Hana gitu?" tanya Alina memastikan. Dina hanya mengangguk sebagai jawaban, karena jarak mereka dengan Hana sudah semakin dekat. "Din, sebenarnya Arsha di mana? Sudah dua jam lo saya nungguin, di ruang metting juga nggak ada," cecar Hana pada Dina begitu mereka saling berhadapan. "Maaf Bu, untuk saat ini sampai selanjutnya Pak Arsha tidak mau bertemu dengan Ibu, dan beliau juga berpesan kalau Bu Hana jangan lagi datang ke kantor, karena Pak Arsha merasa sangat terganggu." Tanpa basa-basi Alina langsung mengutarakan apa yang diminta Arsha untuk dia lakukan. "Heh kamu siapa kok berani-beraninya melarang saya bertemu Arsha? Kamu tahu siapa saya?" tanya Hana geram pada Alina yang baru pertama kali dia lihat di kantor Arsha. "Saya sekretaris Pak Arsha dan apa yang saya sampaikan sesuai dengan arahan beliau." "Sekretaris? Bukannya kamu Din sekretaris Arsha?" Hana menatap Dina meminta penjelasan. "Saya baru diberhentikan, Bu. Dan Mbak Alina yang akan menggantikan saya," terang Dina menunduk tanpa mau melihat wanita yang membuat diberhentikan dari tempat kerjanya tiga tahun terakhir. Alina melongo mendengar pengakuan dari wanita di sampingnya. Hari ini ternyata banyak hal yang mengejutkan, dan sama sekali di luar perkiraannya. "Bu Hana sebentar ya, saya izin bicara dengan Mbak Dina dulu, nanti kami kembalikan lagi." Alina langsung menarik Dina kembali ke ruangan tempat Arsha berada. "Bu Hana tunggu di situ saja, ini urusan internal antara kami, oke?" Alina menghentikan langkahnya dan berbalik, lalu mencegah Hana mengikutinya saat terdengar suara hak sepatu beradu dengan lantai marmer mengarah ke arahnya. "Kamu nggak ada hak untuk ngatur-ngatur saya ya!" Hana mulai tersulut emosinya dengan sikap Alina yang dianggap kelewat batas. Alina berhenti lalu meminta Dina duluan ke ruangan komisaris. "Mbak ke sana dulu, nanti saya nyusul. Mau beresin ini dulu." Merasa mendapat kuasa langsung dari Arsha untuk membuat Hana pergi dengan cara apapun, Alina langsung bertindak tegas. Dicekalnya lengan ramping Hana kemudian sedikit ditarik paksa untuk meninggalkan kantor Arsha. Jangan dikira Hana diam saja diperlakukan demikian, wanita yang sejatinya memang dijodohkan dengan Arsha itu jelas memberontak, berteriak, memaki Alina dan sudah pasti jadi pusat perhatian semua orang yang melihat adegan dramatis tersebut. "Awas ya kamu, saya tidak akan membiarkan apa yang kamu lakukan hari ini! Lihat saja nanti!" Hana memberi ancaman pada Alina setelah berhasil membawanya keluar dari gedung berlantai lima belas itu. Alina tidak mempedulikan ancaman Hana, dia langsung melenggang masuk kembali ke gedung dengan disambut tatapan juga bisik-bisik dari karyawan, staf yang melihatnya menyeret Hana keluar dari kantor. "Gila pegawai baru berani bener ngusir Bu Hana, apa nggak tahu siapa Bu Hana ya?" Salah satu selentingan yang mampir ke telinga Alina, dan reaksi gadis dengan gaya rambut dikuncir itu hanya melirik sekilas. Benar-benar tidak terpengaruh oleh ocehan dari orang yang tidak tahu tentang kebenarannya. *** "Tugas pertama saya sudah berhasil Pak, tapi saya mau tanya, kenapa Mbak Dina sampai dipecat?" Alina duduk di hadap Arsha, mereka hanya dibatasi meja kerja. "Bagus, saya ingin kamu tetap bersikap tegas saat berhadapan dengan Hana. Dan untuk masalah Dina, karena dia selalu saja tidak tegas saat Hana datang, bahkan membiarkannya padahal saya sedang sibuk dengan pekerjaan, pernah juga Hana menerobos masuk ruang meeting saat saya sedang bertemu klien penting. Sudah kamu nggak usah merasa bersalah dengan kondisi Dina, itu bukan karena kedatangan kamu di perusahaan ini. Mulai hari ini fokus dengan kerjaan kamu dan tugas utama kamu kalau Hana tetap nekt datang." "Baik Pak, dan untuk sepeda motor saya gimana, Pak?" "Sudah saya ganti dengan motor baru, buang saja motor buluk kamu itu!" "Enak saja main buang, nggak!" saya beli motor itu penuh perjuangan, banyak sejarah dan kenangannya juga, ya udah kalau Bapak nggak mau benerin, saya nggak jadi kerja saja. Mau cari kerja di tempat lain." "Jangan! Iya saya betulkan motor kamu, tapi kamu tetap kerja di sini." Arsha mati kutu saat kena skakmat oleh Alina. Nyatanya hanya gadis bar-bar itu yang bisa mengusir Hana dari kantornya. Alina megulum senyum karena merasa mendapatkan kemenangannya dari Arsha, tentang insiden tadi pagi juga atas pemecatannya yang sepihak, ya walaupun akhirnya Arsha memanggilnya kembali, tapi Alina sudah terlanjur sakit hati. *** Dua minggu sudah Alina bekerja sebagai sekretaris Arsha, dan mereka mulai saling memahami karakter masing-masing. Bram sebagai orang kepercayaan Arsha cukup banyak membantu Alina, terutama pada awal-awal mulai menjalankan tugasnya sebagai sekretaris murni. Kalau urusan sebagai bodyguard Arsha dalam menangani Hana, Alina mungkin sudah jago. "Apa agenda saya hari ini, Al?" tanya Arsha sambil berjalan melewati meja Alina untuk masuk ke ruangan kerjanya. Alina dengan sigap langsung mengekor di belakang Arsha, tak lupa membawa tab dan noted kecil untuk mencatat cepat dan singkat sebelum disusun pada draf yang sudah dia bikin pada tab. "Jam 10 ada pertemuan dengan divisi keuangan, makan siang dengan PT. Bimantara Group, jam 7 malam ada undangan dari Royal Queen di Hotel Darmawangsa." Alina begitu lugas membacakan jadwal Arsha untuk sehari ini. "Oke, nanti malam kamu temani saya. Pakai gaun yang pantas, tapi tetap nyaman untuk kamu. Kalau nggak punya beli, tagihannya masukan ke rekening saya." "Tapi Pak–" "Saya tidak menerima bantahan atau penolakan!" Arsha memotong ucapan Alina yang pasti akan membantahnya. Alina hanya bisa membuang napas kasar, berdebat dengan atasan hanya akan menguras tenaga secara percuma. Lebih baik digunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya. "Kalau sudah tidak ada lagi saya izin keluar Pak." "Hmm." *** Arsha menatap Alina tanpa berkedip, sekretaris barunya itu benar-benar seperti berubah wujud, dari gadis bar-bar jadi bidadari yang nyasar ke bumi. "Kenapa Pak? Ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Alina sambil membuka pintu mobil lalu masuk begitu saja tanpa memperdulikan Arsha yang masih berada di luar. Alina menekan klakson mobil hingga membuat Arsha terlonjak kaget, lalu gegas menyusul Alina masuk. Dan segera menjalankan kendaraannya begitu sudah duduk sempurna di belakang kemudi. "Ternyata cantik juga dia. Selama ini kenapa kecantikannya seakan tertutup dengan sikap bar-barnya," batin Arsha sambil melirik Alina yang duduk tenang di sebelah kirinya. "Fokus Pak, fokus," tegur Alina begitu tahu kalau Arsha sering meliriknya selama perjalanan. "Sial ketahuan juga," umpat batin Arsha. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN