"Kenapa mau bekerja Cha? Kamu aman jika sama Bunda. Aku tiap bulan selalu mencukupi kebutuhan Bunda, ditambah dapat dari donatur juga. Dan gini deh, aku juga bakal kasih ke kamu tiap bulannya. Di rumah aja ya?" ucapku merayunya agar stay di rumah. Chaca menggeleng pelan dan tersenyum. Ia menyentuh kedua jemariku. "Kedua tangan ini akan menanggungku sepenuhnya setelah kamu mengucapkan ijab qabul pada pernikahan kita kelak," ucapnya membuatku terperangah sekaligus bahagia. Akhirnya dia kembali lagi pada panggilan aku dan kamu. Jujur, aku lebih nyaman dengan sapaan seperti itu. Aku menghela napas panjang, "tapi bekerja itu berat Cha. Apalagi jika kamu terikat dengan perusahaan atau instansi lainnya. Kamu yakin?" Sekali lagi aku membujuknya agar mau di rumah saja. "Sayang, aku mau bisa me

