Aku menggeliat ketika merasakan sensasi dingin di pipiku. Aku yakin itu Chaca, tapi kok lebih besar. Cepet banget tumbuhnya. Aku meraih tangannya dan hampir menciumnya. Namun langsung kuhempaskan ketika mata ini terbuka. Ternyata Santi! Untung tidak jadi aku cium tadi. "Mas kenapa? Aku dengar dari Bunda lagi demam ya?" tanya Santi hendak menyentuh keningku. Aku memalingkan wajah dan tidak menghiraukannya, "tidak, aku sudah sembuh San," ketusku tanpa melihatnya. "Mas kenapa sih kok cuekin aku?" kesal Santi menghentakkan kakinya. "Maaf, ada hati yang harus kujaga San, aku tidak mau menyakitinya," ucapku membuat matanya berkaca-kaca lalu pergi meninggalkan kamarku. Kalau dibiarkan dan ditanggapi, dia akan terus mendekat. Chaca akan salah paham lagi kalau melihatnya. Pintu terbuka, terl

