"Dokter! Apa yang terjadi?" seruku masih menenangkan Chaca. Dokter menghela napas panjang, "terdapat serpihan kaca yang masuk pada mata pasien sehingga, mengalami kerusakan pada kornea matanya," jelas Dokter perlahan. "Maksudnya?" tanyaku agar to the point. "Pasien mengalami kebutaan." Dokter laki-laki itu menepuk punggungku. Aku sekuat tenaga menghembuskan napas berat. Dadaku naik turun menahan emosi yang sudah hampir meledak. Kulihat Bunda menangis membekap mulutnya. Ia berlari meringkuk di sofa, mencoba agar tangisnya tidak terdengar. Tanganku gemetar, tak mampu berucap apapun. Chaca sedari tadi sudah menangis pilu. Sakit yang bertubi-tubi kini kurasakan. Bahkan sekarang tepat menusuk jantungku. Aku sampai kesulitan untuk bernapas. Ada Chaca yang harus aku topang. Aku tidak boleh

