Malas Pulang

1095 Kata
Yuhuu ... kuy tap love dan follow-follow yang belum. Happy readings~ *** "Bun," sapaku pelan menyentuh jemari Bunda. "Ah, iya ... anak-anak mari berdoa dulu. Oiya anggap kak Chaca sebagai kakak kalian juga ya," jawab Bunda tersadar dari lamunannya. Kami makan bersama dalam diam. Sudah menjadi kebiasaan, tidak boleh ada yang berbicara selama makan. Setelahnya, aku dan Chaca membantu Bunda membereskan meja makan dan mencuci piring. Meskipun Chaca tidak terbiasa, dia sangat cekatan melakukannya. Nasib brownis kami tidak terbentuk. Karena adonan yang sudah berserakan di mana-mana. Sedangkan Bunda hanya membeli bahan pas-pasan saja. Setelah selesai, anak-anak diminta Bunda untuk tidur siang. Aku dan Chaca menonton televisi. Berebut channel tentunya. Dia suka nonton upin ipin sedangkan aku suka nonton sinetron. Remot TVnya sampai dipeluk. Dasar bocah! "Cha," sapa Bunda turut duduk di tengah-tengah kami. Ah Bunda nggak asyik deh menghalangi kami. "Ya Bun, maafin Chaca ya Bunda. Chaca benar-benar tidak bisa menahan emosi," imbuhnya menundukkan kepala. Bunda menghela napas panjang. Aku khawatir setelah ini Bunda tidak memperbolehkan Chaca masuk ke sini lagi. Aku turut menundukkan kepala. Tidak kusangkan Bunda membelai kepala Chaca lembut, "Lain kali kalau kamu marah lihat situasi dan kondisi Cha. Jangan di depan adik-adik kamu seperti tadi ya." Chaca mendongak melihat Bunda berkaca-kaca. Padahal dia sudah was-was dan sangat takut jika Bunda akan mengusirnya. Chaca memeluk Bunda, "Makasih ya Bun. Jadi Bunda percaya sama Chaca?" Bunda membelai kepala Chaca. Hatiku terasa sejuk melihat dua wanitaku saling menyayangi seperti ini. Tunggu! Wanitaku? "Bunda, Santi kenapa sih? Sepertinya gak suka dengan kehadiran Chaca," tanya Chaca lembut mendongakkan kepalanya menatap Bunda. Bunda juga bingung menjawabnya. Beliau menoleh ke arahku, seperti memberi kode. Chaca menegakkan duduknya. Aku berdehem. "Cha, mau jalan-jalan nggak? Ada taman bagus banget sekitar sini," ajakku mengalihkan pembicaraannya. "Mau dong Om," jawab Chaca antusias dan langsung berdiri. Aku ikut berdiri kemudian berpamitan dengan Bunda. Lalu menggandeng tangan Chaca ke luar. "Om, Santi suka sama lo ya?" Chaca membuka percakapan ketika kami sudah di dalam mobil. "Kok kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" Aku balik nanya sambil fokus menyetir. "Keliatan dia nggak suka sama gue Om. Cemburunya berlebihan, kekanak-kanakan banget!" ketusnya bersedekap memandang ke depan. "Kaya kamu nggak kekanak-kanakan juga," elakku meliriknya sebentar. "Gue kalau cemburu nggak pernah nyakitin orang kayak gitu Om." Chaca mendengus menoleh ke arahku. Aku melihatnya, tatapan kami bertemu. Untungnya di lampu merah. Aku seperti terhipnotis pancaran mata polosnya. Suara klakson mobil memutuskan kontak mata kami. Aku kembali fokus menyetir ke depan. Chaca juga jadi salah tingkah dan menetap ke luar jendela. Tak berapa lama, mobilku terparkir di taman tak jauh dari panti. Tempat ini tersembunyi, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Dan masih sepi pengunjung. Kami turun dari mobil, Chaca langsung berlari-larian di tengah-tengah ribuan bunga krisan yang berwarna-warni. Aku turut mengejarnya. Eh kok merasa seperti film india ya. Kejar-kejaran di taman bunga. Haha ... Setelah lama, kami tidur di antara bunga-bunga krisan. Napas kami terengah-engah karena kelelahan. "Cha," panggilku menolehkan kepala. "Om," jawabnya memandangku. "Kamu kenapa kemarin mabuk sampai seperti itu?" "Gue takut lo tinggalin Om, isteri lo balik lagi kan ke rumah. Gue ngerasa bakal kehilangan orang yang peduli sama gue," sahutnya jujur. Aku terbangun, duduk bersila membelakanginya. Jadi gara-gara aku kamu mabuk sampai seperti itu Cha? Pantesan selama nggak sadar kamu manggil-manggil aku terus. "Aku nggak akan ninggalin kamu kucing liarku," ucapku menoleh ke arahnya. "Nggak percaya. Pasti nanti juga luluh sama wanita racun itu," ujarnya ikut duduk dan cemberut. Haha ... imutnya anak ini. "Jadi kamu cemburu?" godaku menaikkan dagunya. Wajahnya merona, mungkin karena malu. Dia diam saja tidak menjawab. "Aku sudah terlanjur sakit hati Cha. Sekali aku disakiti sampai kapanpun aku akan selalu ingat. Aku bukan Tuhan yang begitu mudah memaafkan hamba-Nya. Aku bertahan karena orang tuanya yang memohon. Aku tidak bisa berkata tidak ketika mereka berbicara. Karena sudah sejak lama aku mendamba kehadiran orang tua," jelasku membuatnya terperangah. "Mobil kamu masih di club, mau diambil sekarang?" imbuhku. Chaca masih diam saja, mencerna perkatanku barusan mungkin. Aku menyenggol lengannya membuatnya tersadar. "Eh, eum ... gue nggak mau pulang Om," ucapnya memeluk kedua lututnya. "Jangan seperti itu, orang tuamu pasti khawatir," saranku menyentuh bahunya. "Mereka lebih khawatirin perusahaan daripada gue anaknya, di sini gue nemuin kehangatan keluarga yang nggak pernah gue dapetin sebelumnya," ucapnya menyendu. Aku prihatin, dan tentu saja tidak mengerti ketika ada diposisinya. Masih lebih beruntung aku, meskipun tidak mempunyai keluarga, aku tidak pernah kesepian. Selalu ada tempat untukku pulang. "Cha, kamu boleh sering main ke sini. Asalkan kamu harus pulang, Bi siapa itu yang ngerawat kamu pasti juga khawatir kan? Aku besok sudah mulai bekerja lagi. Jadi sore ini aku mau pulang," tukasku membelai kepalanya lembut. "Kalau lo pulang ya gue juga Om. Nanti kalau di sini sendiri yang ada naik darah mulu gara-gara Santi. Haha ...," candanya beranjak berdiri. Kami berjalan-jalan sebentar berkeliling di taman bunga. Melihat kolam ikan yang ada air mancurnya. Chaca kagum, ada taman seindah ini yang tersembunyi dari keramaian. Hari menjelang sore, kami sudah lelah berkeliling. Lalu memutuskan untuk kembali ke panti. Di jalan, Chaca tiba-tiba minta berhenti. Dia memintaku menunggu di mobil. Beberapa menit kemudian, Chaca kembali dengan membawa beberapa kantong plastik. "Apaan itu Cha?" tanyaku menoleh ke belakang saat Chaca meletakkannya. "Mainan buat adik-adik Om, mereka pasti seneng," balasnya tersenyum ketika memasuki mobil. "Makasih ya, kamu perhatian sama adik-adik," ucapku memandangnya. "Mereka adik gue juga Om," jawabnya sambil mengenakan seatbelt. Aku hanya tersenyum. Lalu melajukan kembali mobilku. Hanya beberapa menit, kami sudah sampai di panti. Aku membantunya membawa kantong-kantong plastik yang berisi mainan itu. Kami berada diambang pintu. Terdengar, percakapan Bunda dengan Santi. "Aku nggak suka dia di sini Bun!" teriaknya. Siapa yang dimaksud? "Dia temannya Mas Gandhi San, bagaimanapun kita harus menerimanya dengan tangan terbuka," jelas Bunda dengan lembut. "Dia merebut Bunda dan Mas Gandhi dariku! Sejak kedatangannya Mas tidak peduli sama aku. Bunda juga lebih memerhatikannya!" marahnya diiringi tangis. "Kamu kenapa San? Apa kamu menyukai Gandhi?" tanya Bunda. Aku saling pandang dengan Chaca di ambang pintu. Mereka masih belum menyadari kehadiran kami. "Iya! Aku menyukainya bahkan aku mencintai Mas Gandhi sejak dulu. Aku sakit hati melihatnya menikah dengan orang lain. Dan aku lebih sakit dengan kehadiran gadis sialan itu Bun!" teriaknya berlinang air mata lalu beranjak ke kamarnya. BRAK! Chaca melepaskan semua kantong yang ada di tangannya dan berlari ke luar. Bunda menyadari kehadiran kami. Aku meletakkan kantong itu di pintu. Kemudian mengejar Chaca yang belum jauh. "Cha! Mau ke mana?" tukasku menyentuh pergelangan tangannya. "Jangan pergi," ucapku pelan menarik pundaknya dalam pelukanku. Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN