Berpisah Sementara

1116 Kata
"Jangan pergi," ucapku pelan menarik pundaknya dalam pelukanku. Chaca terpaku, dia juga membalas pelukanku bahkan lebih erat. Bunda berdehem, secara refleks kami melepaskan satu sama lain. Tanpa kami sadari, adik-adik panti berjejer di halaman menyaksikan adegan tanpa sadar tadi. Aku tersenyum kikuk , menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Ciyeeee ...." Sorak adik-adik sembari bertepuk tangan. Bahkan ada yang bersiul juga. Aku melihat Chaca merona tersipu malu. Aku menarik tangan Chaca agar kembali masuk ke rumah. "Kakak punya hadiah buat kalian," seruku mengalihkan perhatian mereka. Adik-adikku bersorak dan bergembira. Aku dan Chaca membaginya satu per satu. "Ini semua hadiah dari Kak Chaca, ayo bilang apa sama Kak Chaca?" ucapku membuat mereka benar-benar lupa karena bahagia mendapat mainan baru. "Terima kasih Kak Chaca," sahut mereka bersamaan kemudian berlari memeluk Chaca. Chaca turut bahagia melihat mereka tertawa. Bahagia itu sederhana. Melihat orang-orang yang kita sayangi tertawa, itu juga masuk kategori kebahagiaanku. Bunda menjewer telingaku agar mengikutinya. Aku meringis kesakitan menyeret kakiku mengikuti Bunda. "Bunda, ampun ...," ucapku memelas. Kami berada di kamar. Bunda menutup pintu agar tidak ada yang mendengar percakapan kami. "Siapa yang ngajarin kamu PHP-in anak orang, hah?" geram Bunda memukul bahuku dengan keras. "Astaga Bunda, siapa yang PHP-in anak orang sih Bun? Bunda suka sekali melakukan kekerasan sama anaknya," ucapku menyendu. "Itu tadi apa Gandhi? Ingat status kamu. Jangan permainkan hatinya. Kamu tadi denger sendiri kan gimana perasaan Santi sama kamu? Sekarang malah peluk-peluk orang sembarangan!" maki Bunda karena tidak terima sahutanku. "Bunda, Santi itu udah Gandhi anggap seperti adik kandungku Bun. Sejak kecil kita hidup bersama di atap yang sama. Gandhi memang menyayanginya, tapi hanya sebatas adik dan kakak. Nggak lebih Bunda, kalau dia mengartikannya lebih berarti bukan salah Gandhi dong Bun," elakku memegang kedua bahu Bunda. Bunda tampak berpikir sejenak. Berjalan menuju jendela, menatap hamparan bunga yang di tanam di sekitar panti. "Bunda juga berharap seperti itu, ini yang Bunda khawatirkan. Ketika kalian dewasa dan mengenal cinta, bisa menghancurkan hubungan kekeluargaan kalian. Bunda nggak mau anak-anak Bunda saling bermusuhan karena hal kecil bernama cinta," tutur Bunda memejamkan matanya. "Lalu gimana dengan Chaca Gan? Bunda lihat kalian saling menyukai. Bunda mendukung kalian, tapi di sisi lain kamu masih berstatus suami orang," ucapnya berjalan mendekatiku. Aku menunduk, aku akui ini salah. Tapi rasa sakit atas perlakuan Ayu sudah mengakar di hati. Yang bahkan jika dipotong suatu saat nanti bisa tumbuh dan bersemi kembali. "Bunda, aku mau berpisah. Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Gandhi akan melakukannya di waktu yang tepat," ucapku mantap memegang kedua tangan Bunda. "Pikirkan matang-matang. Bunda selalu dukung apapun yang membuatmu bahagia," tukas Bunda menyentuh pipiku. "Terima kasih banyak Bunda," ujarku memeluk Bunda. *** "Cha, mau pulang kapan?" tanyaku duduk di teras di samping Chaca yang melamun. "Barengan sama Om. Kan mobilku masih di sana," jawabnya. Aku memintanya untuk segera mandi dan bersiap. Akupun melakukan hal yang sama. Chaca meninggalkan pakaian yang kemarin aku belikan. Dia bilang, mau dipakai kalau nginap di sini lagi suatu saat nanti. Kini, kami berada di halaman rumah. Berpamitan dengan adik-adik dan Bunda. Chaca menangis, membuat semua orang ikut menangis. Mungkin berat baginya harus kembali ke dalam kehidupan sunyinya. Ia memeluk satu persatu adik-adik kami, terakhir memeluk Bunda. Sangat lama ia melakukannya, membenamkan kepalanya di pundak Bunda. Tubuhnya bergetar seiring tangisannya semakin keras. Bunda membelainya dengan sayang, mengusap punggungnya naik turun berharap bisa menenangkan Chaca. Sabar Cha, suatu saat nanti aku akan membawamu selalu dalam kebahagiaan. Tidak kubiarkan air mata jatuh setetespun dari kedua mata indahmu itu. "Ma ... kasih Bunda sudah menyayangi dan me ... nerima Chaca di sini," ucapnya sesenggukan melepaskan pelukan Bunda. "Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk Chaca, jangan pernah sungkan. Ini rumah Chaca juga," tutur Bunda mengusap air mata Chaca yang terus mengalir. Chaca hanya mengangguk. Tidak sanggup melanjutkan kata-katanya berusaha menarik bibirnya membentuk senyuman. "Bunda jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa hubungi Gandhi ya Bun," pesanku sembari memeluk Bunda. "Pasti! Cepat selesaikan satu persatu. Dan raihlah kebahagiaanmu," bisik Bunda di telingaku. Aku mengangguk, lalu melepaskan pelukan kami. Aku tidak melihat Santi. Biasanya dia selalu mengantar kepulanganku. Ah yasudahlah semoga dia bisa menerima kenyataan. Aku meraih tangan Chaca, menggandengnya ke mobil. Aku membukakan pintu untuknya. Kemudian aku berlari ke sisi mobil dan duduk pada tempatku. Chaca membuka jendela lebar-lebar. Kepalanya melongok ke luar sambil melambaikan tangan seiring mobilnya kujalankan. Sudah sampai di jalan raya, aku menarik paksa kepalanya hingga terjatuh di pelukanku. Karena dia belum mengenakan sabuk pengaman. Kepalanya membentuk setir. Dia memukul pahaku dan memanyunkan bibirnya. "Sakit Om!" pekiknya duduk dengan benar memegangi kepalanya. "Sorry Cha. Abisnya, bahaya tauk ... ini kan udah sampai di jalan raya," tuturku mengusap kepalanya dengan satu tanganku. Chaca hanya berdehem tidak menyahut ucapanku. Lalu kembali terdiam. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. "Cha, mau makan dulu?" tawarku karena terakhir kita makan siang tadi. "Enggak Om, mau pulang aja. Gue capek banget," jawabnya pelan menyandarkan kepala dan memejamkan matanya. "Alamat rumah kamu di mana?" tanyaku lagi. "Jalan Merpati no.53," balasnya dengan mata masih terpejam. Aku mengangguk paham. Lalu melajukan mobilnya menuju alamat yang disebutkan oleh Chaca, sedangkan dia tertidur. 20 menit berlalu, aku telah sampai di rumah yang gerbangnya menjulang tinggi. Rumah berlantai tiga bak istana itu membuatku terpukau sejenak. Aku turun dari mobil dan bertanya pada satpam untuk memastikan alamat Chaca. Dan ternyata benar, rumah seperti kastil itu adalah kediamannya. Bagaimana nggak ngerasa kesepian, di rumah gedong seperti itu dia sendirian. Bahkan kedua orang tuanya juga tidak mau menemaninya. Aku semakin paham perasaannya. Semakin kuselami kehidupannya, semakin kuat perasaanku untuk mengangkatnya dari jurang kesepian. "Orang tua Chaca ada Pak?" tanyaku pada satpam yang berada di balik gerbang. Bapak separuh baya itu menatapku curiga. Aku menjelaskannya bahwa aku adalah teman Chaca dan sekarang Chaca tertidur di mobil tidak tega membangunkannya. "Nyonya dan Tuan belum pulang dari kantor," ucapnya sembari membuka pintu gerbang. Kemudian Satpam tersebut kembali menutup gerbangnya dan berlari menuju rumah membukakan pintu. Aku menggendongnya, karena tidurnya sangat pulas. Tidak menyadari apapun yang terjadi padanya. "Ya Allah Non ... kenapa?" tanya Bibi yang kuyakini adalah orang yang merawat Chaca sejak kecil. "Hanya ketiduran Bi, jangan keras-keras. Tunjukan kamarnya ya," jawabku masih menggendong Chaca. Bibi melangkah ke lantai dua dan membukakan pintu kamar. Kamar dengan nuansa pink dan penuh gambar hellokitty memenuhi pemandanganku. Aku meletakkannya pada springbed berukuran large dengan perlahan. Aku membuka sandalnya dan menyelimutinya. Lalu, kubelai rambutnya dan kukecup keningnya sebagai ungkapan perpisahan kami. "Kita berpisah sementara ya Cha," gumamku pelan lalu meninggalkannya. Bibi terpaku melihatnya. Aku tersenyum lalu berpamitan pada Bibi segera pulang. "Bi, Chaca jangan dimarahi kalau bangun. Dia sedang mencari kebahagiannya menemukan sebuah keluarga. Tanyakan pelan-pelan jika nanti sudah terbangun," tukasku kemudian melenggang pergi. Bibi mengangguk paham dengan semua yang aku ucapkan. Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN