Hayolo ... yang belum tap love dan follow! Di tap-tap dulu ya.
Happy readings~
Aku melanjutkan perjalanan menuju rumah. Sampai di rumah sekitar pukul 20:45 WIB. Rasa lelah dan ngantuk yang mendera, membuatku merebahkan tubuh di kasur. Tidak mencari keberadaan Ayu terlebih dahulu. Apa peduliku!
Keesokan paginya, hari pertamaku kerja setelah cuti panjang. Pagi-pagi sekali aku berangkat. Tentu saja masih mengabaikan Ayu.
Aku berangkat lebih pagi menghindari macet. Hari pertama harus fresh, tidak boleh kusut apalagi jika hanya gara-gara macet.
Akhirnya, aku sampai di hotel tempatku mengais rizki bertahun-tahun lamanya. Baru menginjakkan kaki di hotel, semua rekan kerjaku berhamburan menyapa dan mengucapkan selamat.
Buset! Apanya yang diselametin. Pernikahanku yang berumur beberapa hari sudah diujung tanduk. Aku membalas mereka hanya dengan senyuman saja. Aku mengingat saat-saat bersama Chaca membuat senyumku lepas.
Aku menuju ruanganku bekerja. Duduk di kursi kebesaranku lalu memeriksa beberapa pekerjaan yang selama beberapa hari ini aku tinggal. Tidak ada masalah besar, pelayanan yang bagus, pemasukan yang stabil dan kerja tim yang solid. Aku acungi jempol untuk teamku di hotel ini.
Andra, sebagai assistan managerku mampu menghandle semua pekerjaanku. Bangga dong punya teman bisa diandalkan. Terlepas dari masalah pribadi kami. Keseriusanku buyar mendengar ketukan pintu.
"Masuk!" ucapku mendongakkan kepala melihat siapa yang datang.
Andra! Jangan sampai dia emosi di sini.
Andra mendekati meja, diam dan tanpa ucapan sepatah katapun membuatku mendongak dan menatapnya.
"Berdiri Gand!" perintahnya tidak mau dibantah. Hei, di sini siapa Bossnya?
"Berdiri aku bilang!" teriaknya sekali lagi.
Tidak mau memperpanjang masalah aku menurutinya. Berdiri menghadapnya dengan memejamkan mata. Aku pasrah dengan bogeman yang akan dia layangkan.
Kenapa aku tidak merasakan pukulan apapun. Mataku menyipit, kubuka sedikit untuk mengintipnya.
Sejurus kemudian dia menubruk tubuhku, memelukku dengan erat membuatku terkejut.
"Maafin aku Gand, kemarin aku khilaf memukuli kamu," ucapnya penuh sesal.
Aku membalas pelukannya. Meskipun dalam hati bertanya-tanya, tapi aku tahan biarkan dulu Andra menuntaskan bicaranya.
"Maaf aku gak dengerin kamu dulu. Maafin aku yang terbawa emosi," ujarnya mengeratkan pelukan.
Busset gak bisa napas aku kenceng amat meluknya. Aku melepas paksa pelukan tersebut lalu memandanginya.
"Gimana gimana? Coba jelasin pelan-pelan. Jangan asal gencet orang sembarangan," sinisku sambil merapikan kemejaku.
"Ya ampun Gan, kamu tuh ya jadi orang santai banget! Udah disalahin diem aja gak ada pembelaan, babak belur juga gak ada perlawanan lagi. Cemen tau gak!" sindir Andra bersandar di meja kerjaku.
"Aku mana bisa mukul kamu Ndra. Kamu itu udah aku anggap saudara sendiri. Lagian aku ngerti kok kamu lagi emosi. Dan mau jelasin apapun juga kamu gak bakal terima. Yang salah kamu benerin. Begitupun sebaliknya yang bener akan terlihat salah di matamu," tuturku membuat Andra semakin bersalah.
"By the way dari mana kamu tahu kebenarannya?" imbuhku sembari duduk kembali di kursi kebesaranku.
"Sepulang dari caffe, aku pulang dulu ngademin otak. Gara-gara lihat gadis sok akrab sama kamu semakin buat panas aja. Terus 30 menit kemudian gadis itu nelepon pake HP kamu. Dia yang jelasin semuanya," tukas Andra meminum kopiku di meja.
"Chaca?" tanyaku mengerutkan kening.
"Iya kayaknya. Aku lupa namanya. Ya intinya dia cerita semua yang kamu ceritain ke aku. Terus katanya kamu nolongin dia pas mabuk jadi jaketmu bisa ada sama tuh cewek. Gitu sih yang aku tangkap," jelas Andra bersedekap.
Aku memanggut-manggutkan kepala. Jadi dalang semua ini adalah Chaca. Gak nyangka kucing liarku punya pemikiran luas dan peduli. Aku pikir dia tidak mau ambil pusing masalahku. Ternyata dia cukup andil.
"Thanks Bro, kamu mau percaya sama aku," ucapku menepuk pundaknya.
"Terus, gimana rencanamu sama Ayu? Aku bener-bener minta maaf. Gara-gara aku kamu harus ngalamin hal kayak gini," ujarnya penuh sesal.
Aku berpikir sejenak, haruskah aku mengatakan keinginanku untuk berpisah dari Ayu? Apa Andra akan membenciku? Ah itu urusan belakangan.
"Aku mau pisah aja Ndra, aku gak mau memaksakan seseorang masuk ke dalam hidupku yang sederhana ini," kataku dengan mantap.
"Kali ini aku gak akan ikut campur masalah kamu. Kamu tahu yang terbaik buat dirimu sendiri. Sekali lagi maaf Gand, gara-gara aku semua ini harus terjadi." Lagi-lagi Andra menyesal.
"Tapi Gand, mmm ... apa kamu sudah tahu?" tanyanya ragu.
"Tentang apa?" Aku balik bertanya.
"Om Sup, mertua kamu menderita penyakit jantung. Aku harap, kamu bisa membuat keputusan yang tepat dan terbaik," tukas Andra menepuk bahuku lalu meninggalkan ruangan.
Apa? Jantung?
Aku memijat keningku, kepalaku sedikit pusing mendengar ucapan terakhirnya. Aku memutuskan untuk ke luar sebentar mencari udara segar.
Aku datang ke caffe dekat hotel. Lumayan ramai karena memang lokasinya strategis. Oiya aku teringat dengan Chaca. Karena kalau bukan gara-gara dia, pasti sampai sekarang Andra masih marah sama aku.
Aku mencari kontak terakhir yang menghubungiku ketika Chaca mabuk. Dan, dapat! Aku segera meneleponnya. Tersambung, tapi lama tidak diangkat.
Apa Chaca masih tidur? Aku mencobanya sekali lagi. Masih tidak diangkat, tapi aku tidak menyerah.
Pada teleponku yang ke lima, aku merasa lega. Tapi, tunggu apa yang aku dengar ini.
"Dasar anak sialan! Mau jadi apa kamu, Hah? Pergi tidak ijin. Bahkan sampai tidak pulang. Anak tidak tahu diuntung kamu ya!" teriak seseorang bersuara berat diseberang telepon.
Aku memastikan sekali lagi bahwa itu adalah nomor Chaca. Aku search ulang panggilan terakhir malam itu, cuma nomor ini. Berarti benar, aku tidak salah sambung.
"Apa peduli Daddy dan Mommy? Selama ini aku merasa hidup sendiri. Tidak pernah dianggap ada diantara kalian. Kalian terlalu sibuk dengan dunia kalian masing-masing," jawab seseorang yang aku yakini adalah suara Chaca.
Jadi dia bertengkar dengan kedua orang tuanya? Aku diam mendengarkan dengan seksama.
"Jangan salahkan aku! Ini semua tidak akan terjadi jika kalian tidak mementingkan pekerjaan diatas segalanya dibandingkan apapun termasuk melihat tumbuh kembang anak Anda!" teriaknya lebih tinggi.
"Apa pernah Daddy membacakan cerita sebelum aku tidur? Apa pernah Mommy membantuku belajar saat aku baru pertama kali menulis. Apa pernah Mommy dan Daddy mau melihat coretan pertamaku di buku gambar" teriaknya dengan nada bergetar.
Aku yakin dia sedang menangis sekarang. Ya Tuhan Cha, hatiku nyeri dengerin kamu nangis.
"Diam! Bersyukur kamu masih punya orang tua. Kami kerja keras banting tulang semua untuk kamu! Untuk masa depan kamu!" bentak pria itu tak mau kalah.
"Aku juga ingin seperti anak-anak lainnya Mom, Dad. Aku ingin diantar sekolah, diajari belajar, menggambar, bertamasya bersama. Harta bisa dicari Dad. Tapi kasih sayang orang tua tidak bisa dibeli oleh apapun!" ucapnya dengan sesenggukan.
PLAK!
Aku mendengar suara tamparan. Apa Chaca ditampar. Astaga Cha, aku gak kuat lagi dengernya. Aku mematikan telepon.
Aku bergegas menuju rumah Chaca saat itu juga. Pikiranku kalut dan kacau membayangkan Chaca kesakitan seorang diri. Mendengar tangisnya saja membuat hatiku seperti diremas oleh tangan-tangan tak terlihat.
Aku bersumpah akan membuatmu bahagia Cha. Ya Tuhan ... lindungi gadis kecilku, lindungi kucing liarku. Jangan biarkan Chaca merasakan sakit yang lebih dalam lagi.
Aku mengendarai dengan kecepatan tinggi. Bahkan aku menerobos lampu merah. Sungguh aku sangat mengkhawatirkan kondisi Chaca. Hanya ada Chaca dalam pikiranku saat ini.
Bersambung~