Pengkhianatan Ayu

1029 Kata
Author POV Pagi hari adalah waktu paling sibuk bagi sebagian besar manusia. Bekerja, sekolah atau sekedar membersihkan rumah. Tak terkecuali Ayu, ia sedang membersihkan rumah Gandhi. Dia menggerutu karena sudah dua malam suaminya tidak pulang. Padahal sebenarnya semalam Gandhi pulang dan berangkat pagi-pagi sekali. Tanpa bertemu dengannya terlebih dahulu. Rasa sakit hati Gandhi membuatnya malas untuk bertatap muka dengan wanita itu. Terdengar deru suara mobil di luar, membuat Ayu menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia memperhatikan siapa gerangan yang datang. Karena ia yakin itu bukan mobil suaminya. Kedua mata Ayu membulat dengan sempurna saat melihat orang yang berada di balik kemudi itu. Sebuah mobil mercedez berwarna silver terparkir di halaman rumah Gandhi. Ayu tampak panik. Ia menolehkan kepala ke kiri dan kanan memastikan tidak ada orang yang melihat. Lalu, Ayu segera berlari ke halaman dan menarik tangan orang tersebut ketika baru keluar dari mobilnya. Ayu panik, dan langsung mengunci pintu rumah, menutup seluruh gorden jendela. "Mas!" pekiknya lalu menghambur ke tubuh kekar pria itu. "Hai Sayang," sahut pria itu. Pria tersebut membalas pelukan Ayu. Seakan mereka saling menumpahkan kerinduan dalam diri masing-masing. Ya, pria itu adalah Anjar. Pacar Ayu yang selalu memberi harapan palsu dengan mengiming-imingi pernikahan semu. Namun begitu mudahnya Ayu terperangkap dengan Anjar yang hanya menginginkan tubuhnya saja. "Kamu kemana aja Mas? Kamu jahat. Kenapa selalu menghilang saat aku membutuhkanmu? Kenapa kamu tidak ada kabar ketika aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku?" ucap Ayu menangis sambil memukuli d**a bidang pria itu. "Maaf Sayang, aku lagi ada tugas di luar kota. Untung Handphone kamu aktif. Jadi aku busa lacak keberadaan kamu. Apa ini rumah suami kamu?" Anjar membelai kepala Ayu menghapus air matanya. Ayu mengangguk, "makanya aku cepet-cepet kunci pintunya. Takut ada tetangga yang lihat. Kamu sih nggak nelepon dulu. Kan kita bisa ketemu di luar," gumam Ayu masih betah di pelukan lelakinya itu. "Lalu, dimana suami kamu?" tanya Anjar menyelipkan rambut Ayu ke belakang telinga. "Entahlah udah dua malam dia gak pulang," ucap Ayu pelan. "Tapi aku tidak peduli. Aku sangat merindukanmu Sayang," Anjar tersenyum menyeringai. Ayu semakin menyeruakkan kepalanya pada d**a Anjar. Membuat lelaki itu dengan mudah menghujani ciuman pada puncak kepala wanitanya. "Sayang, aku sangat merindukanmu. Aku menginginkanmu," bisik Anjar di telinga Ayu. "Aku juga sangat merindukanmu Mas. Bahkan aku belum pernah melakukannya dengan suamiku. Aku hanya mau kamu," ucap Ayu genit mengalungkan lengannya pada leher Anjar. Anjar memegang kedua pipi Ayu, memandang bibirnya lamat-lamat. Kemudian menyatukan bibir mereka. Pria itu mengulum, menyesap dan menggigit bibir Ayu. Hingga mulutnya sedikit terbuka, sehingga memudahkan Anjar memainkan lidahnya menari-nari dan mengeksplore rongga mulut Ayu. Tangan Anjar juga mulai bergerilya meremas kedua bukit kembar Ayu, membuatnya terbuai dan mengeluarkan desahan kecil. Lama kelamaan keadaan semakin memanas. Anjar yang sudah tidak sabar karena sesuatu yang berada di bawah sana sudah mengeras sedari tadi. Anjar mendorong tubuh Ayu ke sofa dan menindihnya dengan bibir yang masih saling bertaut. Kemudian, Anjar menyusuri ceruk leher Ayu, menciumi setiap lekuk tubuh Ayu danmemberikan banyak tanda kepemilikan di sana. Ayu begitu terhanyut dalam permainan Anjar. Desahan-desahan Ayu membuat Anjar semakin bergejolak, ia semakin bersemangat melancarkan aksinya. Nafsu yang sudah memenuhi jiwanya tidak bisa ia hentikan. Tangannya membuka dengan kasar piyama yang dikenakannya. Anjar melahap dua aset kembar Ayu yang menyembul karena ia sudah melepaskan semua pakaian yang dikenakannya. "Aaahh ... Mas," desah Ayu meremas rambut Anjar dan terus menggeliat. Secepat kilat Anjar juga melucuti pakaian yang membalut tubuhnya. Tanpa meninggalkan kain sehelai benangpun. Kemudian, Anjar melakukan penyatuan pada tubuh mereka. Desahan, racauan dan lenguhan memenuhi ruang tamu Gandhi. Keringat mengucur dari tubuh keduanya. Hati dan pikiran mereka sudah dibalut oleh nafsu. Tanpa memikirkan dosa dan akibat perbuatan mereka. Lama mereka memadu kasih, hingga keduanya telah sampai pada puncaknya. Tubuh keduanya bergetar menikmati sensasi luar biasa. Lalu Anjar beralih ke samping Ayu. Ia memiringkan tubuhnya, memandangi wajah Ayu yang menurutnya mempesona itu. Jemarinya menyusuri wajah Ayu yang masih memejamkan mata. Deru napas mereka masih tersengal-sengal. "Terima kasih Sayang," Anjar mencium Ayu dari samping. Ayu membuka matanya lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tangannya meraih tengkuk Anjar memberikan ciuman pada bibirnya. Membuat Anjar kembali terbakar hasratnya. Kemudian mereka melakukannya lagi dan lagi hingga mereka benar-benar kehabisan tenaga. "Sayang, di mana kamar kamu? Aku lelah dengan posisi seperti ini. "Itu Mas," ucap Ayu menatap ke arah pintu. Anjar lalu meraup tubuh polos Ayu memindahkannya ke kamar yang selama ini ditempati Ayu. Anjar melemparkan tubuh wanita itu di kasur. Lalu ia merangkak naik dan menindihnya. Dengan rakus, Anjar kembali melumat bibir Ayu bergantian atas dan bawah. Membelitkan lidah keduanya hingga saling bertukar saliva. Jemari Anjar bermain-main pada inti wanita itu. Membuat Ayu menggelinjang penuh kenikmatan. Ayu tidak mau kalah, ia juga meremas keperkasaan Anjar dan terus menggerakkannya. Dengan kedua bibir mereka masih menyatu. Lalu mereka melakukannya lagi. Dengan berbagai macam gaya. Entah sampai berapa lama mereka melakukan perbuatan dzolim itu. Bahkan Ayu sama sekali tidak memikirkan bagaimana suaminya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah kabut nafsu. "Mas, kalau aku resmi bercerai kamu pasti nikahin aku kan? Aku benar-benar belum pernah melakukannya dengan Gandhi, Mas. Karena aku sangat mencintaimu," ujar Ayu membelai wajah Anjar. "Iya Sayang aku pasti akan menikahimu," jawab Anjar mencium tangan Ayu. "Kapan kamu mengenalkan pada orang tuamu, Mas?" tanyanya merebahkan kepala di d**a Anjar yang terlentang. Anjar membelai rambut panjang Ayu, ia terdiam sejenak. "Nanti saja kalau kamu sudah resmi bercerai. Papaku sudah meninggal Sayang. Aku hanya tinggal dengan Mama sekarang," sahutnya. "Kapan Mas? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Ayu terkejut. "Sudah lumayan lama. Aku begitu terpukul, tidak bisa memikirkan yang lain. Aku terpuruk ketika ditinggalkan Papa," ucapnya sendu. "Maaf ya Sayang, aku tidak mengetahuinya," sesal Ayu. "Nggak apa-apa, Sayang," balas Anjar. Mereka saling berbincang hingga akhirnya ketiduran dengan saling berpelukan. Nafsu yang berkobar pada tubuh mereka membuat lupa akan dosa dan akibat dari perbuatannya. Dua jam kemudian, Anjar terbangun lebih dulu sebelum Ayu. "Sial, aku ketiduran selama ini," umpatnya pelan. Dengan hati-hati dan perlahan, Anjar menyingkirkan tangan Ayu yang membelit tubuhnya. "Aku harus segera pergi dari sini. Sebelum ada yang memergoki aku." Cepat-cepat ia memunguti pakaiannya yang antah berantah di luar, lalu mengenakannya. Anjar kembali ke kamar, dia menyelimuti Ayu lalu pergi meninggalkannya. Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN