Yuklahh yang belum segera tap love ya~
***
Aku tidak memedulikan keselamatanku sendiri. Pikiranku berkabut, semua bayangan buruk yang menimpa Chaca membuatku panik.
Aku telah sampai di gerbang depan rumah Chaca. Pintu gerbang terbuka, dua mobil beriringan ke luar.
Aku segera turun dari mobil dan meminta ijin masuk. Satpam tersebut sudah pernah mengenali wajahku, sehingga tidak sulit untuk meminta masuk.
Aku berlari meninggalkan mobilku. Aku hampir gila memikirkan Chaca. Pintu rumah aku ketuk dengan sekeras-kerasnya dan berulang. Aku juga memencet bel dengan tidak sabaran. Bahkan aku menendang pintu besar tersebut karena tak kunjung dibuka.
"Bi, Cha! Tolong buka pintunya!" teriakku panik menggedor pintu dan memencet-mencet bel rumah tersebut.
"Bi Ratih! Biii! Chaca! Cepat buka pintunya!" Aku tendang pintu itu sekali lagi dengan tenaga penuh.
Brak!
Pintu terbuka, ternyata tidak dikunci. Astaga! Buang-buang tenaga. Tahu gitu langsung kubuka dari tadi. Pintu sialan! Diam saja dari tadi.
Aku segera berlari ke lantai dua. Menemukan keberadaan Chaca. Aku terjatuh berkali-kali karena kakiku meleset tidak tepat pada anak tangga. Untung saja tidak sampai menggelinding ke bawah.
Aku terus berlari. Tangga itu terasa jauh sekali kunaiki. Hingga mencapai lantai teratas aku terengah-engah. Keringat bercucuran di wajahku. Aku berlari kembali menuju kamar Chaca.
Tanpa kuketuk aku mendorong pintu tersebut. Chaca meringkuk di atas kasur bergelung selimut hingga lehernya. Tubuhnya masih bergetar dan suara tangis sesenggukan masih memilukan. Bibi masih setia menunggunya sambil menangis.
Chaca tidak menyadari kedatanganku. Karena posisinya membelakangi pintu. Aku memberi kode pada Bibi untuk meninggalkan kami sendiri. Syukurlah Bibi menyetujuinya.
Aku duduk di tepi ranjang. Kusentuh bahunya pelan yang masih naik turun karena sesenggukan. Dia masih tidak bergeming.
"Cha!" panggilku pelan masih menyentuh bahunya.
Chaca membalikkan tubuhnya. Ya Tuhan! Wajahnya penuh luka lebam, sudut bibirnya berdarah, air matanya mengalir begitu derasnya. Melihatku ia semakin menangis.
Hatiku tercabik-cabik melihatnya seperti ini. Aku segera menarik tubuhnya mendekat dan menempelkannya pada d**a bidangku. Chaca juga memelukku era. Kuciumi puncak kepalanya berulang-ulang. Berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
Aku diamkan dia sampai puas menumpahkan air matanya. Tidak peduli kemeja putihku penuh air mata dan ingusnya. Aku terus memeluknya, membelai kepalanya lembut sesekali mengecupnya, mengusap punggungnya memberikan ketenangan.
Sangat lama dia berada dalam pelukanku. Aku turut meneteskan air mata. Aku sungguh lemah jika melihatnya seperti ini. Aku merasa gagal melindunginya. Hatiku sangat sakit turut merasakan kepedihan yang dialami Chaca.
Setelah Chaca lebih tenang, aku mengintipnya. Menengok ke bawah memastikannya. Ternyata ia tertidur. Aku merebahkannya perlahan agar tidak membangunkannya. Aku melihat Bibi masih diambang pintu. Aku segera menghampirinya.
"Bi, tolong segera ambilkan air es beserta washlapnya. Juga salep untuk mengobati lukanya," perintahku yang langsung diangguki oleh Bi Ratih.
Aku kembali ke kasur. Aku membelai lembut kepala Chaca. Mencurahkan seluruh kasih sayangku untuknya. Aku sangat menyayangi kamu Cha. Aku sakit melihatmu seperti ini.
Tak berapa lama, Bibi membawakan apa yang aku perintahkan tadi. Dengan telaten aku mengompres kedua pipinya yang lebam dan sudut bibirnya yang terluka.
Ya Allah aku ngeri melakukannya. Tangan apa yang tega menyakitimu sampai seperti ini Cha. Di mana hati nuraninya. Rasanya aku ingin menggantikan posisinya saja. Biar aku saja yang merasakan rasa sakit itu. Sebagai orang tua bukankah harusnya mendidik bukan menyakiti sampai seperti ini.
Kuselimuti tubuhnya, aku masih duduk di tepi ranjang. Aku menyuruh Bibi duduk di sampingku menceritakan kronologi kejadiannya.
"Bagaimana kejadiannya Bi?" Aku menegakkan dudukku dengan salah satu kaki bersila di kasur.
"Anu Den, tadi pagi-pagi sekali Tuan dan Nyonya sedang sarapan menanyakan keberadaan Non Chaca. Sudah kujelaskan kalau Non Chaca sudah pulang dan masih beristirahat," tutur Bi Ratih mengenggam erat kedua tangannya.
"Lalu, karena sejak kemarin Non Chaca tidak bisa dihubungi, Tuan jadi marah besar. Beliau langsung menuju kamar Non Chaca membangunkannya dengan kasar dan membentaknya. Bibi kasihan Den sama Non Chaca. Ini salah Bibi ... semua salah Bibi," ucapnya berderai air mata.
"Yang lebih parah, beliau memukul Non Chaca tanpa ampun ketika Non Chaca membela diri. Bibi menyaksikannya sendiri ketika Tuan melayangkan pukulan demi pukulan pada Non Chaca. Hatiku sakit Den melihatnya," Bibi menangis sesenggukan.
Aku mengusap punggung tangannya. Aku tahu apa yang dirasakannya. Mendengarnya saja membuatku pilu. Apalagi jika melihatnya langsung. Bisa-bisa kupatahkan tangan-tangan yang menyakiti Chaca.
"Sejak kecil, Non Chaca selalu kesepian Den. Cuma Bibi yang dia punya. Kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Bahkan tidak pernah menanyakan kabar atau keadaan Non Chaca. Bibi sangat kasihan padanya," imbuhnya ketika tangisnya mulai mereda.
Ya Tuhan, gadisku ternyata kamu begitu kuat, kamu mampu melewatinya selama bertahun-tahun. Aku membelai kembali kepalanya.
"Bi, tolong siapin baju-baju Chaca!" perintahku membuatnya mengerutkan kening.
"Tidak Den, nanti Tuan marah besar jika tahu," elaknya khawatir.
"Kalau Chaca seperti ini terus menerus, tidak baik untuk perkembangan mentalnya Bi. Dia akan semakin tertekan. Dan bisa menyebabkan depresi. Bibi mau itu terjadi sama Chaca?" jelasku membuat Bibi berpikir ulang.
"Tidak Den, Bibi gidak mau Non Chaca terluka lagi. Tapi kalau boleh tahu Aden akan bawa Non Chaca kemana?" tanyanya memastikan Chaca ditempat yang aman.
"Kami akan tinggal di panti asuhan. Tempat dia menemukan kehangatan keluarga dan kebahagiaan seperti kemarin," tukasku diangguki oleh Bibi.
Kemudian Bibi menyiapkan baju-baju Chaca dimasukkan ke dalam tas ransel. Aku menunggunya hingga terbangun sambil memantau kinerja bawahanku melalu gadget.
Aku juga meminta bibi untuk menyiapkan makan siang. Aku yakin sejak pagi dia belum sarapan. Beberapa jam kemudian, Chaca menggeliat. Dia membuka matanya perlahan. Matanya membelalak melihatku.
"Apa?" tanyaku singkat.
Dia bergegas bangun dan menyandarkan tubuhnya pada headboard kasur.
"Ba ... bagaimana bisa Om di sini?" tanyanya gugup melihat ke arahku.
"Jadi kamu gak sadar tadi peluk-peluk aku?" godaku menaik turunkan alisku.
"A ... aku pikir itu hanya mimpi," ucapnya memandang lurus ke depan.
Aku mengacak rambutnya dan tertawa, "kalau mimpi mana mungkin aku bisa di sini Cha. Makan dulu ya aku suapin."
Chaca mengangguk bersemangat. Aku menyuapinya sedikit demi sedikit sampai makanannya habis.
"Cha, kita ke rumah Bunda ya, mau nggak?" tawarku sambil menyeka sisa makanan di bibirnya.
Chaca tersenyum dan mengangguk mantap mengiyakan. Tentu saja kamu mau jika dibandingkan harus tinggal di kandang macan ini.
"Mau berangkat sekarang?" ucapku menyentuh dagunya.
"Iya Om, tapi aku siapin baju dulu," tukasnya menyibak selimut hendak turun.
Aku menahannya memegang lengannya dan menggelengkan kepala. Lalu aku menenteng sebuah tas ransel dan tertawa.
"Bibi sudah menyiapkannya," kataku.
Chaca terlampau bahagia. Ia menubrukku dengan keras. Aku terkejut dengan serangan tiba-tiba itu, belum ada persiapan akhirnya terjatuh. Posisiku tidur dan dia memelukku dari atas.
Astaga! Jantungku!
Bersambung~