Mengamankanmu

1100 Kata
Jantungku serasa ingin melompat dari tempatnya. Hatiku menghangat mendapat perlakukan seperti ini. Aku membalas pelukannya, merasa telah pulang ke rumahku. Kupejamkan mataku menikmati desiran darahku. Ini bukan nafsu, tapi perasaan sayang yang sesungguhnya. Keinginan untuk terus menjaga dan melindunginya. Meski harus kugadaikan nyawa sekalipun. "Cha, udahan peluknya aku gak kemana-mana kok," candaku membuatnya terjingkat. "Ma ... maaf Om," ucapnya gugup merapikan rambutnya. Aku tertawa dan mengacak rambutnya gemas. "Mau mandi dulu nggak?" tanyaku beranjak dari kasur. "Iya, Om!" teriak Chaca berlari ke kamar mandi. Aku ke luar kamar mencari keberadaan Bi Ratih. Langkahku terhenti ketika melihatnya sedang membersihkan meja makan di lantai bawah. Aku segera menyusulnya. "Bi, bisa minta tolong?" tanyaku semakin dekat. Bi Ratih menghentikan pekerjaannya, mendongak dan menatapku. "Iya Den, apa yang bisa saya bantu?" tanyanya meletakkan washlap di tangannya. "Tolong, jika orang tua Chaca pulang jangan ceritakan apapun tentangku. Jangan beri tahu informasi apapun tentang keberadaan Chaca. Saya janji akan bawa kembali Chaca ketika kedua orangtuanya sudah sadar dengan kesalahan mereka," tuturku menyentuh kedua bahunya. "Tapi Den, Bibi takut," jawab Bibi penuh keraguan. "Bi, percayalah, kehadiran seseorang akan terasa begitu berarti ketika orang di sekitarnya sudah benar-benar kehilangan. Saya hanya memberi sedikit pelajaran pada beliau agar menghargai Chaca. Dan bisa menyayangi Chaca sepenuhnya." Aku menghela napas panjang. "Kemudian beliau juga sadar, kebahagiaan itu tidak bisa diukur hanya dari materi saja. Anak adalah anugerah terindah yang termasuk kebahagiaan tersendiri pada tiap-tiap orang tua. Padahal tidak semua orang bisa merasakannya. Banyak pasangan di luar sana yang sedang mendamba tangisan bayi. Sudah diberi anugerah kok disia-siakan," sindirku menyandarkan tubuhku di meja dan bersedekap. Bibi mengangguk paham dengan apa yang aku katakan. Aku sangat berharap ia mau bekerja sama denganku. Semoga misi ini berhasil. "Baiklah Den, Bibi akan merahasiakannya. Semua demi kebaikan Non Chaca. Kasihan sekali selama ini dia tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya," ucapnya menyendu. "Terima kasih banyak Bi," ucapku seraya menjabat tangannya. Aku kembali ke kamar Chaca. Dia sudah siap dengan balutan kemeja panjang dan rok selutut. Aku suka melihat penampilannya yang lebih tertutup dan make up natural sesuai usianya. "Sudah siap?" tanyaku menutup pintu. "Udah, Om!" ujarnya bersemangat. Aku menggendong tas ransel tersebut dan melangkah ke luar. "Eh tunggu sebentar, Om!" seru Chaca kembali mendekat meja kamarnya. Aku melihat dia mengeluarkan handpone, kunci mobil, debit card dan kredit card. Chaca menggeletakkannya di meja. Kemudian dia mengambil secarik kertas beserta bulpen. Aku menunggunya, tidak tahu apa yang dituliskannya pada kertas putih tersebut. Setelahnya, Chaca menyelipkan kertas itu di bawah HPnya. Lalu berjalan setengah berlari menghampiri dan meraih tanganku. Langkahnya begitu bersemangat. Senyumnya tidak lepas dari bibirnya. Meski dengan noda luka di wajahnya, tak mampu mengurangi kadar kecantikannya. "Pelan-pelan, Cha!" tukasku. "Aku gak sabar Om. Kita ke rumah Bunda kan?" ujarnya penuh semangat. Aku mengangguk mengiyakan. Kami berjalan berdampingan ke luar dari kamar. Dengan kompak menuruni anak tangga satu per satu. Bibi sudah menunggu di anak tangga terakhir. Chaca memeluknya erat, mungkin Bibi sudah dianggap seperti ibunya sendiri. "Bi, jaga diri baik-baik ya. Chaca akan menghubungi Bibi ketika sampai nanti," ujarnya sambil melepas pelukan. "Non juga jaga diri ya, Den titip Non Chaca," ucapnya menoleh ke arahku dengan menitikkan air mata. "Tenang aja Bi, aku pasti menjaganya dengan baik," sahutku lalu mengajak Chaca segera pergi. Mobil sudah melaju menuju panti. Chaca diam sedari tadi, tidak mengeluarkan suara sedikitpun. "Masih sakit?" tanyaku menyentuh pipinya, tangan lainnya masih fokus menyetir. "Sakit di wajah bisa cepat hilang Om. Tapi sakit di hati sampai kapanpun gak akan hilang." Chaca menoleh ke arahku, tatapannya sendu. "Sabar, kamu harus menjadi gadis yang kuat. Tunjukkan pada beliau kalau kamu patut dibanggakan. Buat beliau menyesali waktu yang telah hilang saat bersamamu," ucapku mengusap kepalanya pelan. "Oiya Cha, makasih ya kamu dah bantuin aku. Kalau bukan karenamu mungkin sampai sekarang aku masih musuhan sama Andra," tukasku fokus kembali menatap ke depan. Chaca hanya tersenyum. Dia seperti tidak berminat untuk berbicara, aku mengerti. Tak terasa mobil sudah sampai di pekarangan panti. Adik-adik yang sudah hapal dengan mobilku berhambur mendekatiku. "Kak Chaca!" pekik mereka bersamaan ketika Chaca turun dari mobil dan langsung memeluknya. "Hei, kalian gak nyambut Mas?" protesku merasa diabaikan. Mereka terkikik lalu beralih memelukku. "Bunda mana Dek?" tanyaku setelah mereka melepaskan pelukan. Aku melihat Bunda baru ke luar dari rumah. Beliau terkejut, tidak menyangka kami akan datang secepat ini. Chaca berlari mendekati Bunda dan memeluknya erat. Bunda membalasnya penuh kasih sayang, membelainya dengan lembut. Chaca menangis dalam diam. Dia takut terdengar oleh adik-adiknya. Tanpa sengaja, aku melihat Santi berjalan melalui kami. Dia tidak menyapaku sama sekali. Mungkin dia masih marah denganku. "Bun, ke kamar Gandhi aja," bisikku pelan meninggalkan dua wanita hebatku. Bunda mengedipkan matanya, setelah Chaca lebih tenang, Bunda segera menyusulku. Aku segera merapikan baju-baju Chaca di lemari. Berbagi tempat dengan baju-bajuku yang masih ada di sini. Bunda duduk di tepi ranjang bersama Chaca. Lalu, Chaca merebahkan tubuhnya dengan kepala bersandar di pangkuan Bunda. Bunda menyibak rambut yang menutupi wajahnya. Beliau terkejut melihat kondisi Chaca dari dekat. Karena sedari tadi beliau tidak memerhatikannya. "Gan? Apa yang terjadi?" ucap Bunda menyelidik masih membelai rambut Chaca. Aku menghela napas panjang, lalu menjelaskan semua kejadian yang menimpa Chaca. Bunda yang berhati lembut itu, menangis mendengarnya. Tidak menyangka orang tuanya tega melakukan kekerasan pada darah dagingnya. Aku mengusap bahu Bunda menyuruh beliau tenang, agar Chaca tidak semakin terbebani. Bunda menutup mulutnya menahan isakan, aku duduk di sampingnya, lalu memeluknya. Tanganku yang satu mengusap puncak kepala Chaca yang ada di pangkuan Bunda. Cukup lama kami berdiam di kamar. Setelah semuanya tenang, Chaca mendudukkan dirinya. "Bunda, maafin Chaca karena bakal ngrepotin Bunda terus," ujarnya. "Ngomong apa kamu Cha? Bunda itu ibu kamu juga. Bunda nggak pernah merasa direpotkan oleh anak-anak Bunda. Ini rumah Chaca juga, jangan pernah sungkan ya," balas Bunda mencium kening Chaca. "Terima kasih banyak ya Bun," ucapnya. "Mmm ... sama aku nggak terima kasih nih?" godaku menaik turunkan alis saat dia menoleh. "Hihi ... iya Om, makasih banyak ya." Chaca sudah bisa tersenyum kembali. Semoga kamu menemukan kenyamanan dan kebahagiaan di sini Cha. Meskipun aku tidak bisa menjanjikan kemewahan dan harta yang berlimpah. "Cha, Bun, Gandhi pamit dulu ya. Jarak hotel ke sini terlampau jauh. Jadi, aku ke sini pas libur aja. Chaca kalau ada apa-apa hubungi aku pakai telepon rumah ya," pesanku diangguki oleh Chaca. "Hotel?" tanya Chaca. "Iya, aku kerja di hotel Cha." Aku mencium punggung tangan Bunda, mengacak rambut Chaca lalu melenggang pergi. "Titip Chaca ya Bun, kalau nakal jewer aja," pesanku di ambang pintu. Bunda dan Chaca hanya tertawa saling berpelukan. Ada sedikit kelegaan melihatnya di sini. Setidaknya dia aman selama beberapa hari ke depan. Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN