Pikiranku terasa panas mengingat keadaan Chaca. Jika dibiarkan terus menerus tentu saja tidak baik untuk keadaan psikisnya.
"Huuuufffft, hari yang melelahkan," gumamku saat berhenti di lampu merah.
Lho kenapa malah menuju rumah? Astaga pikiran kemana mana jadi nggak konsen gini, sekalian pulang ajalah istirahat. Lagian udah deket juga.
Tin ... tin! Suara klakson mobil kubunyikan saat berpapasan dengan Pak Roy tetangga sebelah.
Aku membuka jendela mobil. Tidak sopan menurutku jika aku hanya nyelonong saja. Lagian selama ini aku jarang berkomunikasi dengan tetangga. Hanya Pak Roy yang kerap menyapaku.
"Lho Mas Gandhi, baru pulang Mas?" sapanya berdiri menghampiri saat mencabut rumput depan pagar rumahnya.
Berhubung beliau mendekat, aku turut menghentikan mobil dan menjawab sapaannya.
"Iya Pak, capek jadi ijin pulang lebih awal," jawabku sopan.
"Aku pikir mobil Mas Gandhi baru tadi. Soalnya ada di halaman rumah Mas sejak pagi sampai siang tadi. Dan rumah tertutup rapat," jelasnya membuatku mengerutkan kening.
Siapa yang dimaksud Pak Roy? Bertahun-tahun aku mendiami rumah itu, tidak pernah kedatangan tamu selain orang tua Ayu beberapa waktu silam.
"Eee ... mungkin sales Pak, kalau begitu saya pamit dulu ya Pak Roy, mari!" Senyumku menguar beriringan kujalankan mobil kembali yang tinggal beberapa meter.
Aku masih penasaran dengan mobil yang dimaksud oleh Pak Roy. Ketika tiba di rumah, keadaan sunggu sepi. Semua pintu tertutup rapat, begitupun gorden jendelanya.
Tanganku meraih daun pintu dan membukanya. Tidak dikunci? Langkahku terhenti ketika memasuki ruang tamu. Mataku menyipit, melihat banyak manik-manik berceceran di lantai.
Aku memungutnya satu per satu. Oh ternyata kancing baju. Apa? Tunggu! Kancing baju sebanyak ini berceceran, bagaimana bisa?
Aku mengetuk pintu kamar Ayu berulang kali, lama menunggu baru terbuka. Penampilan Ayu terlihat berantakan. Ia terus memegang kerah bajunya.
"Lama sekali kamu membuka pintunya? Ngapain aja?" tanyaku menyelidik.
"Maaf aku ketiduran," ucapnya menundukkan kepala tidak berani menatapku.
Aku melirik Ayu sekilas. Tubuhnya gugup dan menegang. Tanpa sengaja pandanganku terarah ke sofa, mataku membelalak melihat pakaian Ayu berserakan di belakang sofa.
Aku memungutnya, meneliti satu per satu. Kucocokkan dengan kancing yang kupungut tadi. Jumlahnya dan warnanya sesuai.
Aku menghubungkan perkataan Pak Roy dengan bukti-bukti yang ada di tanganku. Mataku memerah, ototku menegang, tanganku mengepal.
Aku menyingkirkan kedua tangan Ayu dengan kasar dari tubuhnya. Dasar jal*ng! Lehernya penuh dengan cupangan. Ayu terkejut, air matanya mulai mengalir di pipinya.
"Dengan siapa kamu melakukannya?" bentakku tidak bisa menahan emosi lagi. Kuremas baju beserta kancing tadi.
Tubuh Ayu gemetar, kepalanya semakin tertunduk. Kedua tangannya menangkup badannya sendiri seolah bersiap melindungi diri.
"Jawab! Dengan siapa kamu melakukannya!" Aku melemparkan benda yang ada ditanganku sekeras-kerasnya tepat di wajahnya.
"Ayu Wulandari! Sekali lagi jawab pertanyaanku. Dengan siapa kamu melakukan zina! Kamu bangga ya masuk neraka melalui jalur VVIP?" teriakku lebih keras lagi.
"Sialan kamu, dasar wanita jal*ng! Murahan! Kamu tidak mau melayani suami sah malah menyerahkan tubuhmu sama laki-laki b*jingan?" umpatku kesal dengan amarah yang sudah tidak bisa aku tahan lagi.
Sakit yang digoreskan kemarin masih menganga. Dan sekarang ditaburi garam. Perih, sakit, dadaku sesak karena emosi.
"Haaaaahhh!" teriakku penuh amarah. Aku menendang meja kayu berlapis kaca. Suaranya menggelegar, serpihan kaca berserakan dimana-mana.
Ayu terjingkat dan terduduk. Menangis, hanya itu yang ia lakukan. Entah dia menyesal atau tidak. Yang pasti kesalahannya sudah tidak bisa ditolerir lagi.
"Aku pikir kamu benar-benar berubah. Ternyata kamu bermuka dua. Dasar wanita siluman!" geramku menginjak-injak meja yang sudah antah berantah.
Deru napasku terdengar kasar, dadaku naik turun dan gigiku bergemelatuk.
"Ayu Wulandari binti Suparman, saya Gandhi Bagaskara menceraikan kamu!" ucapku lantang dan tegas menjatuhkan talak 1 untuknya.
Ayu memohon agar aku tidak melakukannya. Bahkan dia sampai berlutut di kakiku.
"Ayu Wulandari binti Suparman, saya Gandhi Bagaskara menceraikan kamu!" talak kedua dengan lancar aku ucapkan.
"Ayu ...," ucapanku terhenti.
Aku melihat darah mengalir dengan deras di lengan Ayu. Ia menyayat lengan kanannya dengan pecahan kaca meja. Kejadiannya begitu cepat. Ya Allah aku paling gak kuat melihat darah.
"Ayu, Ayu, bangun!" Aku menepuk-nepuk kedua pipinya. Aku panik melihat bajunya yang basah berlumuran darah. Kepalaku mulai pusing, dan perutku terasa mual. Darahnya tidak berhenti mengalir.
"Sialan! Merepotkan saja!" umpatku kesal.
Tanpa pikir panjang, aku menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit. Mataku sesekali melihatnya dari kaca spion.
"Aaaaaaarrrrghhh! Murahan!" Aku memukul-mukul setir mobil, meluapkan emosiku.
Tak berapa lama, aku telah sampai di rumah sakit. Aku turun dari mobil lalu memanggil perawat yang sedang berjaga. Malas saja jika harus menggendongnya.
Mereka membawanya di brankar lalu berlarian menuju IGD. Aku mengikutinya santai saja. Tidak ada kekhawatiran berarti. Kalau sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan?
Aku menjambak rambutku frustasi, mengusap rambutku kasar. Disaat seperti ini aku membutuhkan rokok untuk membantu menenangkanku. Meskipun aku tidak terbiasa menyesap benda itu, tapi jika dalam perasaan kalut seperti ini lumayan sedikit membantu.
Aku berdiri bersandar pada tiang depan ruang IGD, tempat di mana Ayu ditangani. Kekecewaan dan rasa sakit yang kurasa, sudah mendarah daging.
Pintu ruangan terbuka, seorang suster berlarian mengambil stok darah. Mungkin dia kehilangan banyak darah. Ah bukan mungkin, memang iya.
Aku menyesap rokok yang sulut kuat-kuat saking emosinya. Bahkan sampai aku terbatuk-batuk karena tidak bisa mengendalikan asapnya. Aku langsung membuang dan menginjaknya sampai mati.
Ingin rasanya kuinjak Ayu seperti puntung rokok itu. Tapi aku masih punya hati. Aku paling tidak bisa memukul perempuan. Wanita adalah tulang rusuk yang berada di dekat hati untuk dilindungi dan disayangi.
Tapi pepatah itu tidak berlaku untuk pengkhianat seperti Ayu. Meskipun begitu, tetap saja aku tak kuasa memukulnya. Sesakit apapun yang kurasa.
Aku pergi membeli air mineral dan segera meminumnya. Rokok sialan! Bukannya meringankan malah menambah beban dan sesak di d**a.
Aku kembali ke IGD, tepat saat Dokter ke luar dari ruangan. Aku berjalan santai ke arahnya, tanpa menunjukkan ekspresi berlebih.
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanyaku ketika sampai di depannya.
"Pasien kehilangan banyak darah. Untung saja cepat dibawa ke sini dan ditangani. Ada beberapa jahitan pada lukanya, lumayan banyak karena lukanya terlalu dalam dan panjang," tukas Dokter memasukkan tangannya ke dalam saku.
Cih! Lebih panjang dan dalam luka hati saya. Tidak bisa dijahit oleh Anda.
"Untuk masa pemulihannya, harap untuk tidak mengangkat beban apapun dulu. Dikhawatirkan akan terjadi pendarahan lagi," jelas Dokter membuatku mengangguk paham.
"Boleh saya bawa pulang sekarang?" tanyaku tanpa basa basi.
"Tunggu sampai pasien sadar dulu untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Ada yang ingin ditanyakan lagi?"
"Tidak Dok, terima kasih banyak."
Dokter tersebut berpamitan, dan untungnya tidak terlalu kepo. Beliau tidak menanyakan apa yang terjadi.
Ayu segera dipindahkan ke ruang perawatan. Aku berjalan santai mengikuti perawat tersebut mendorong brankar. Dia masih belum sadarkan diri.
Aku bingung, haruskah aku kabari bapaknya jika putri kesayangannya menggila? Haruskah aku mengatakan jika Ayu sudah melakukan dosa besar?
Teringat dengan ucapan Andra tentang penyakit ayah mertua, membuatku mengurungkan niatku.
Ayu telah sampai di ruang perawatan. Aku menunggunya di luar. Padahal ini kesempatanku untuk berpisah darinya. Tapi kenapa harus sesulit ini?
Aku merogoh ponsel dan mencoba menghubungi Chaca. Aku gugup mencari kontak rumah Bunda. Tanganku gemetar saat menggeser-geser touchscreennya.
"Hallo," suara di seberang sana membuatku tenang. Chaca kebetulan yang mengangkatnya.
"Cha," panggilku pelan.
"Om!" pekiknya.
"Cha, maaf mungkin beberapa hari ini aku gak bisa menemuimu. Ada sedikit masalah," ucapku dengan nada berat.
Berat sekali aku mengatakannya. Karena jauh darinya sebentar saja membuatku sangat merindukannya. Chaca diam, mungkin dia kecewa. Dia langsung menutup sambungan teleponnya.
"Aaaaaaaaarrrrrgh!!!!" teriakku menendang tong sampah yang ada di depanku.
"Sial! Semua gara-gara wanita ular itu!" Aku mengusap wajahku kasar berjalan mondar-mandir tidak tenang.
Bersambung~