Sekedar Iba

1045 Kata
"Maafin aku mengecewakanmu Cha," gumamku duduk di kursi tunggu menyangga dagu dengan kedua tangan dan memejamkan mataku. Pintu ruangan terbuka, seorang suster menghampiriku mengatakan jika Ayu sudah siuman. Aku menyeret kakiku yang terasa berat melangkah. "Sabar Gandhi ... sabar." Aku mengelus d**a sebelum akhirnya menggapai pintu ruangan dan melangkah masuk. Kedua bola mata kami saling beradu. Langkahku semakin dekat, ekor matanya mengikuti setiap gerakanku. "Apa sebenarnya maumu Ayu?" geramku dalam hati. "Gimana keadaan kamu?" ketusku mencairkan suasana. Ayu tidak menjawab, hanya air mata yang diperlihatkan. Paling juga air mata buaya. Sorry Yuk aku gak akan mudah terhasut. Lama kami terdiam, sampai seorang dokter menghampiri dan memeriksa keadaannya. Aku menjauh, membiarkan dokter melakukan tugasnya. Selang beberapa menit, Dokter menghampiriku menyatakan jika Ayu diperbolehkan pulang besok pagi. Aku hanya diam saja mendengarkan tidak menanggapinya. "Pak, mohon selama seminggu ini lukanya tidak terkena air dulu. Dan setelah obatnya habis mohon segera kontrol lagi, memastikan jahitannya sudah melekat dengan sempurna atau sebaliknya," jelas dokter hanya kujawab dengan anggukan. Aku kembali mendudukkan diri di sofa, "panggil saja jika butuh apa-apa!" ucapku sinis. Aku mengeluarkan gawai dari kantong celana. Memantau laporan kinerja teamku hari ini. Aku menemukan beberapa kejanggalan dalam hal pelayanan hotel. Salah satunya tentang penilaian buruk dari tamu hotel tersebut. Aku segera melakukan meeting melalui zoom cloud meeting dengan beberapa jajaran staff. Sekitar tiga puluh menit kami bertatap muka, aku segera mengakhiri meeting tersebut. Syukurlah dapat teratasi dengan baik. Aku menutup gawai, melirik Ayu sebentar kemudian berjalan mendekatinya, "mau minum?" tawarku. Dia menatapku sendu, lalu mengangguk. Aku mengambilkan gelas yang ada di nakas. menyentuh tengkuk dan meminumkannya. Sepertinya dia benar-benar kehausan. Tanpa jeda, dia meminumnya hingga tandas. Setelahnya, aku menyuapi makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Kami masih saling diam. Aku tidak menghiraukan pandangannya yang selalu mengarah padaku. Aku hanya membantunya selama dia masih dalam pemulihan. Tidak ada maksud apa-apa, meskipun hatiku selalu sakit ketika berinteraksi dengannya. "Istirahatlah, aku mau mencari makan. Besok pagi kamu baru boleh pulang," ucapku membantunya tidur lalu meninggalkan ruangan. "Terima kasih," lirih Ayu yang masih sempat aku dengar. Aku berjalan menuju kantin rumah sakit. Tidak bisa ke luar jauh-jauh karena Ayu sendirian. Aku berdiri mengantri di stand bakso. Saat ini tidak nafsu makan nasi sama sekali. Butuh yang seger-seger, termasuk Chaca. Setelah mendapat giliran, aku segera mengambil dan membayarnya. Kemudian, mencari tempat duduk yang nyaman menurutku. Aku memilih di pojokan, tidak terlalu terekspose publik. Aku mendudukan diri, lalu melakukan panggilan via video call. Tak lama, terlihat wajah wanita cantik dengan senyum menawannya. Meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad, bagiku beliau tetap wanita tercantik yang bertengger di hatiku. "Bundaaaa ... kangen ...," teriakku bahagia melihatnya. "Apaan? Baru berpisah beberapa jam juga," sahut Bunda di seberang. "Kangen Chaca Bun, hehe," cengirku sambil me menuangkan saos ke mangkok. "Eleh ... nih Chaca Bunda kantongin," canda Bunda tertawa ngakak. Tiba-tiba ada tangan yang merangkul Bunda dari belakang, aku hafal pemilik tangan itu. Kepalanya bersembunyi di balik tubuh Bunda. "Cha, keluar dong!" pintaku memohon. Namun dia tetap bersembunyi di belakang Bunda. Aku memberi kode pada Bunda agar bergeser tempat. Sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas. Wajah imutnya terpampang di layar ponselku. "Chaca ... jangan marah dong. Aku lagi ada musibah, kalau semua sudah baik-baik saja aku pasti langsung ke sana kok," jelasku sambil mengaduk-aduk baksoku. "Kenapa Om? Kamu terluka? Kok seperti di rumah sakit sih itu?" tanyanya panik. Aku tersenyum, sekarang mengobrol denganku tidak menggunakan Lo Gue lagi. Sudah lebih akrab dengan aku dan kamu. Aah ... senangnya dalam hati. "Aku gak bisa cerita sekarang, nanti ya kalau aku sampai sana. Tenang aja aku baik-baik aja kok. Senyum dong," perintahku. Chaca tersenyum manis seperti biasanya. Uuhh gemas sekali, kalau di dekatnya pasti aku udah acak-acak rambutnya seperti biasanya. "Udah dulu ya, jangan nakal, jangan ngrepotin Bunda, bantuin Bunda, good girl OK?" cerocosku menasehatinya. "Iya Om, cepet pulang ya. Bye," ucap Chaca lalu mematikan teleponnya. Syukurlah Chaca sudah tidak marah lagi. Aku lega, kemudian segera menghabiskan makananku dan kembali ke ruang rawat. Hari sudah menjelang malam, Ayu sudah terlelap dalam tidurnya. Akupun merebahkan tubuhku di sofa panjang. *** Keesokan paginya, aku terbangun lebih dulu. Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Aku mengecek keadaan Ayu, sedikit demam. Seorang suster datang membawa makanan dan air hangat untuk membersihkan diri. Kemudian melepas infus yang sudah habis, karena ia dijadwalkan pulang pagi ini. Aku mengambil washlap, mencelupkannya ke air hangat dan menyapu permukaan kulit Ayu. Aku melakukannya perlahan, namun tetap saja membuatnya terbangun. Entahlah apa yang ada dipikirannya. Ayu hanya diam menatapku. Aku terus menyapu tubuhnya, mulai dari wajah, tangan dan kaki. Setelahnya, aku membantunya bangun dan menyuapi makanan yang sudah disediakan. Aku tidak mengeluarkan suara sedikitpun. "Aku tebus obat dulu," pamitku meninggalkan ruangan setelah selesai menyuapi makan. *** "Bisa jalan?" tanyaku setelah kembali dengan obat di tanganku. Ayu mengangguk, lalu menurunkan kakinya perlahan. Baru menjajakkan kaki di lantai tubuhnya limbung. Mau tidak mau aku harus menangkapnya. "Kalau tidak kuat jangan dipaksa!" ketusku meraih tubuhnya. Aku menggendongnya ke mobil, lalu melajukan dengan kecepatan sedang. Aku berhenti di supermarket, hendak membeli semua kebutuhan dapur. Seingatku tidak ada apapun di kulkas. "Kamu tunggu di sini, aku mau beli bahan-bahan untuk di masak," tukasku ke luar dari mobil. Ayu hanya mengangguk. Dengan cekatan, aku memilih aneka sayuran, daging, ikan, dan segala kebutuhan pokok lainnya. Tidak butuh waktu lama, aku sudah kembali dengan menenteng tas belanja. Aku meletakkannya di bagasi. Setengah berlari menuju jok depan dan duduk di belakang kemudi. Jarak yang sudah tidak terlampau jauh, membuat kami cepat sampai di halaman rumah. Aku menggendong Ayu ke kamarnya, merebahkan tubuhnya perlahan dan menyelimutinya. Lenganku dicekal dengan tangan kirinya saat hendak melangkah pergi. Aku menoleh, melihat tatapannya sekilas. "Butuh apa?" tanyaku tanpa basa basi. Ayu menggeleng, "maafin aku Mas," ucapnya sendu masih menggenggam erat lenganku. Aku melepaskan tangannya perlahan, lalu pergi meninggalkannya. Aku kembali ke depan mengambil belanjaan, kemudian menatanya satu per satu di kulkas. Melihat ruang tamu hatiku kembali memanas. Teringat dengan tragedi hari kemarin. Aku membuang meja yang sudah hancur dan membersihkan serpihan-serpihan kaca yang berserakan. Untung saja aku sudah terbiasa melakukannya. Semua karena Bunda, aku terlatih menjadi pria yang mandiri dalam segala hal. Memasak, mencuci dan membersihkan rumah bukan hal yang sulit bagiku. Kepalaku sedikit pusing, memikirkan bagaimana nasibku kedepannya. Sementara biarkan saja dulu lah. Kasihan juga melihatnya seperti itu. Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN