Siang harinya, aku sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan makanan. Aku memasak sup daging, telur dadar dan tempe goreng.
Mungkin bagi sebagian orang ini menu sederhana. Tapi bagiku ini sudah menu spesial, karena sedari kecil aku belum tentu bisa selalu makan-makanan tersebut.
Bunda memang selalu menyediakan yang terbaik, tapi kapasitasnya tidak bisa banyak. Hanya seadanya saja. Karena menjadi anak asuh yang paling besar, aku selalu mengalah dengan adik-adikku. Aku sangat bersyukur dengan keadaanku sekarang.
Setelah aku hidangkan di meja makan, aku menyiapkan makanan untuk Ayu. Dia tidak ke luar kamar sejak kepulangannya.
Aku membuka pintu kamarnya. Dia sedang terdiam melihat langit-langit. Air matanya terus mengalir di pelipisnya.
Langkahku semakin dekat, kuletakkan punggung tangan pada keningnya. Dia menoleh ke arahku. Kenapa terasa sangat panas?
"Makan dulu Yuk, biar cepat pulih," ucapku duduk di tepi ranjang.
Ayu menggelengkan kepalanya. Tangisannya semakin pecah, aku bingung. Apa yang terjadi? Ini sebuah bentuk penyesalan atau apa? Batinku bertanya-tanya.
Aku menghela napas panjang. Aku paling tidak tega melihat wanita menangis. Meskipun dia orang yang menyakitiku sekalipun, aku tetap memperlakukannya dengan baik. Ini hanya sekedar iba dan empati, tidak lebih.
Aku membangunkannya, mengusap air matanya, lalu mulai menyuapinya makan.
"Entah kamu suka apa nggak. Aku cuma bisa masak yang sederhana saja," celotehku sembari menyuapinya.
Ayu tersenyum, dan menganggukan kepalanya. Yah mau tidak mau dia harus memakannya karena tidak ada makanan lain. Secara rasa, lumayan lah. Nggak kalah dengan warung sebrang jalan sana.
Aku menyiapkan obat-obatnya dan membantunya minum. Hari ini aku kembali ijin tidak masuk mengontrol pekerjaan secara langsung. Aku hanya melakukan pengecekan berkala melalui gawaiku.
"Tidur lagi ya, demam kamu belum turun," ujarku kembali merebahkannya.
Aku mengemasi bekas makanan ke dapur lalu mengisi tenagaku sendiri. Setelah mencuci piring kotor, aku kembali ke kamar Ayu membawa baskom berisi air hangat.
Kuperas kain yang basah dengan air hangat tersebut lalu kuletakkan di dahinya. Wajahnya semakin pucat, ada sedikit kekhawatiran untuknya. Hanya sedikit.
Setelah dia tertidur, aku kembali ke kamar. Teringat, Chaca belum mempunyai Handphone aku berinisiatif membelikannya.
Aku tidak bisa sedetikpun tanpa kabar darinya. Tidak enak jika terus-terusan mengganggu Bunda. Aku segera bersiap dan pergi ke counter pusat pembelian HP.
Aku memilihkan sesuai dengan kesukaannya, warna pink dengan softcase hellokitty mencuat di atasnya. Lucu kayak dia ... haha.
"Kakak pinky boy ya, haha!" sindir seorang gadis yang berdiri di sampingku.
"Haha ... bukan buat saya Dek," elakku sambil mengecek satu per satu kelengkapan dan kualitasnya.
"Ooh ... buat pacarnya Kak?" tanyanya lagi.
Gemas sekali aku sama orang yang banyak tanya dan kepo urusan pribadi orang.
"Bukan," jawabku singkat.
Gadis itu mendekat. Ih apaan sih cabe-cabean ini risih tau gak?
"Ini buat gadis yang akan menjadi masa depan Saya!" tegasku meliriknya dengan tajam. Membuat gadis itu menciut.
Penjaga counter tampak menahan tawa, mungkin menertawakan dia yang kepalang malu. Aku tidak peduli.
Aku segera melakukan pembayaran, sudah termasuk simcard dan kuisi contact nomor HPku. Kemudian, bergegas ke rumah Bunda untuk menyerahkannya. Semoga kamu suka ya Cha!
Tidak sabar bertemu, aku memacu kendaraan dengan kecepatan lumyan tinggi. Namun tetap berhati-hati memerhatikan keselamatan.
Perasaanku membuncah ketika mobilku sudah memasuki pekarangan rumah Bunda. Aku tidak sabar segera berlari membawa paper bag.
Tanpa mengetuk, aku membuka pintu terengah-engah. Santi tepat berada di depanku. Dia terkejut tidak percaya.
"Mas Gandhi!" pekiknya tersenyum lebar.
"Hai San," sapaku hanya melaluinya.
Kudengar dia menghentakkan kakinya di lantai. Aku tidak mau terlalu menanggapinya, agar dia tidak berharap lebih padaku.
"Bunda!" teriakku menuju dapur. Eh sebenarnya pengen ke kamarku sih. Tempat di mana Chaca singgah. Tapi gak sopan kalau langsung nyelonong masuk.
Aku sampai di dapur. Berteriak memanggil-manggil Bunda dengan pandangan tetap pada pintu kamarku. Padahal, bisa saja beliau ada di kamarnya sendiri. Sengaja aja biar Chaca ke luar. Haha ...
"Huft kemana dia? Kenapa tidak ada jawaban!" gumamku berbalik badan menuju kamar Bunda.
Terdengar canda tawa riuh di kamar Bunda. Aku mengintip di balik pintu. Hatiku menghangat melihat tawa gadisku yang tidak ada beban seperti itu.
Tidak salah aku menitipkannya di sini. Bunda mampu memberikan kasih sayang seutuhnya pada Chaca. Saking terpesonanya, aku tidak tahu sejak kapan Chaca berjalan ke arah pintu.
Dia membuka pintu dengan keras. Aku terjungkal ke depan menubruknya. Kami terjatuh, kepalanya terbentur lantai, dan aku menindihnya.
Astaga! Aku merasa sangat bersalah. Dia pasti begitu kesakitan. Aku segera membangunkannya, mengusap-usap kepala belakangnya yang terbentur tadi.
"Cha ... maaf, nggak sengaja. Masih sakit?" tanyaku khawatir masih terduduk di lantai.
Bunda langsung berdiri menghampiri kami. "Kamu ngapain Gan di depan pintu?" Bunda menggeleng-gelengkan kepalanya.
Chaca masih meringis kesakitan. Aku semakin merasa bersalah. Lalu meraih kedua pundaknya dan membantunya berdiri.
"Sakit banget Om. Iih apaan sih, Om ngintip ya?" ucapnya manja masih mengusap kepalanya.
Aku juga masih membelai kepalanya. Sesekali tangan kami bertabrakan. Seperti ada sengatan pada tubuhku.
"Engg ... enggak kok, aku mau masuk tadi. Tapi kamu buka pintunya kenceng banget Cha, maaf ya," jawabku gugup kepergok olehnya.
"Oh ya Cha, ini buat kamu. Biar mudah berkomunikasi dan tidak ada yang ganggu," bisikku membuat Bunda menatapku curiga. Mata Chaca berbinar, seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.
"Ngomong apa kalian? Kenapa bisik-bisik? Ngomongin Bunda ya?" kata Bunda mendekati kami.
Kami hanya tersenyum kikuk. Aku mengusap tengkukku yang tidak gatal. Chaca hanya mengalihkan pandangan saja.
"Bun, Gandhi harus pulang sekarang. Di rumah sedang ada masalah," ucapku menyalami tangan Bunda.
"Masalah apa?" tanya Bunda dan Chaca bersamaan.
"Ciye ... anak sama Bunda kompak," candaku mengusap kepala Chaca.
"Belum saatnya Gandhi cerita. Pamit dulu ya, salam buat adik-adik," ucapku melambaikan tangan.
"Gak makan dulu Gand? Chaca udah bisa masak lho," teriak Bunda mengikutiku di belakang.
"Lain kali ya Bun," pekikku sambil membuka pintu mobil.
Chaca dan Bunda mengantarku hingga depan pintu. Mereka melambaikan tangan dan berpesan agar berhati-hati.
Hari sudah menjelang sore. Lalu lintas cukup padat karena bersamaan jam pulang kerja. Aku sampai di rumah sekitar pukul 5 sore.
Aku mengintip kamar Ayu, dia masih tertidur. Aku mengecek suhu badannya dan syukurlah demamnya sudah turun. Aku bergegas mandi kemudian menyiapkan air hangat untuk membasuh tubuh Ayu.
Seperti biasa, aku hanya membasuh muka, tangan dan kakinya saja. Dia terbangun, saat aku hendak ke luar tanganku ditarik olehnya.
"Kenapa?" tanyaku menoleh ke belakang.
"Terima kasih Mas, maafin aku," ucapnya sendu.
Aku tidak membalas, meluruskan pandangan dan berjalan kembali. Sejuta kata maafmu tidak mampu menyembuhkan lukaku.
Aku kembali ke kamar, mengecek handphone yang sedari tadi kutinggal di kamar.
Astaga! Banyak sekali panggilan dan pesan dari Chaca.
Bersambung~