Kesal (Chaca)

1165 Kata
Chaca POV Aku terbangun dari tidur ketika mendengar gedoran pintu diiringi teriakan-teriakan Daddy. Perlahan, mengerjapkan kedua mata lalu duduk dan bersandar pada headboard kasur. Pintu terbuka! "Dari mana aja kamu?" pekik Daddy ketika langkahnya semakin dekat. Handphone di bawah bantal terasa bergetar sepertinya ada telepon. Aku hanya memasang mode getar, jadi seringnya nggak kedengeran kalau ada telepon. "Cari kebahagiaan!" jawabku singkat sambil meraba HP. "Kebahagiaan apa yang kamu cari, hah? Kamu sudah mempunyai segalanya. Daddy sudah mencukupi semua kebutuhan kamu!" marahnya lagi. "Tidak! Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan apapun di rumah ini. Aku selalu kesepian," ucapku tanpa melihat Daddy. Aku melirik nama yang tertera di layar, Om Tampan. Mataku membelalak, jangan-jangan nelepon dari tadi. Aku menggeser slide hijau lalu meletakkannya di samping. Daddy marah besar, semua umpatan dan kata-kata kasar diluapkan. Aku puas bisa melampiaskan semua yang aku rasakan selama ini. Meskipun berakhir babak belur di muka mulusku ini. Yah, aku dipukuli Daddy tanpa ampun. Mommy diam saja tidak berani melakukan apapun. Dia nurut dan takut jika ngebantah Daddy. Nanny Ratih, menangis sesenggukan di ambang pintu. Setelah puas mengumpat dan memarahiku, Mommy dan Daddy pergi. Kemana lagi kalau bukan ke perusahaannya. Aku mah nggak pernah ada dalam prioritasnya. Aku menangis sejadi-jadinya, menahan nyeri, perih dan panas yang menjalar pada seluruh wajahku. Apa segitu nggak pentingnya hidupku di mata mereka? Sakit di wajahku masih bisa diobati. Tapi hati ini? "Non, yang sabar ya." Nanny membelai kepalaku lembut. Aku merebahkan tubuh lagi. Aku merebahkan tubuh lagi membelakangi Nanny, ada yang menyentuh pundakku. "Cha!" suara itu .... Aku menoleh benar saja sesuai dugaan, Om Gandhi di sini. Aku dipeluk, diobatin, aku ngerasa disayang banget. Aku pikir ini adalah halusianasi. Ternyata salah, ini beneran nyata. Aku diajak ke rumah Bunda lagi, tentu saja aku mau. Mau banget malah, di rumah, selalu ngerasa hidup sendiri. Sedangkan di rumah Bunda ramai, penuh kehangatan dan kekeluargaan. Aku ninggalin semua fasilitas yang diberi oleh orang tuaku, Handphone, debit dan credit card, kunci mobil. Ini kan yang mereka mau. Harta adalah segalanya bagi mereka, sedangkan aku sama sekali nggak penting dalam hidupnya. Aku menulis secarik kertas, aku selipin di bawah handphone. Lalu aku sama Om Gandhi berjalan beriringan dan kompak. Aku seneng banget. Sampai di rumah Bunda, aku disambut dengan baik oleh keluarga keduaku. Pertama lihat Bunda, aku langsung memeluk dan menangis sejadi-jadinya. Lalu diantar ke kamar Om Gandhi. Aku merebahkan kepala di pangkuan Bunda, menikmati sentuhan demi sentuhan tangan Bunda. Beliau menyibak rambut dan terkejut "Apa yang terjadi Gan?" pekik Bunda dengan suara bergetar. Mungkin wajahku begitu seram kali ya penuh luka lebam gini. Om Gandhi menceritakan kronologinya. Bunda turut menangis sejadi-jadinya. Bunda terus membelai dengan seluruh kasih sayangnya. Lalu mengobatinya lagi. Meskipun tadi udah diobatin Om. Om Gandhi pamit katanya kerja di hotel. Aku jadi kepikiran pengen ikutan kerja. Pengen bisa dapetin duit karena kerja keras sendiri. Belajar dari Om Gandhi, yang bisa hidup mandiri. Aku juga harus bisa. Cuma nanti dulu kalau luka-luka ini udah kering. Aku tidur dalam pangkuan Bunda. Bersyukur sekali bertemu dengan beliau, aku ngerasain ketulusan seorang ibu. Kasih sayangnya melebihi ibu kandungku sendiri. *** Sore harinya aku terbangun. Bunda sudah tidak ada di kamar. Kemudian aku bergegas mandi, berpapasan sama si kunti. Siapa lagi kalau bukan Santi. Dia baru aja ke luar dari kamar mandi. "Heh, cewek manja! Kamu pakai pelet apa hah? Mas Gandhi sama Bunda bisa sampai nempel gitu sama kamu?" Si kunti dorong pundakku, sampai aku terjengkang ke belakang karena nggak ada persiapan. "Oh aku tahu, kamu pasti drama ya? Tuh muka pada benjut abis ngapain kamu? Jangan-jangan kamu hobi berantem ya. Dasar cewek manja yang bar-bar," sinisnya bersedekap. Aku memutar bola mata malas. Aku lagi nggak mood diajak jambak-jambakan. Tapi kupingku panas denger cerocos si kunti yang pedesnya level 10. "Yah ... gimana dong, emang Bunda dan Om Gandhi lebih sayang ke gue deh sepertinya," ucapku sambil pura-pura berpikir. "Lo iri sama gue?" tambahku nggak kalah sinis. "Cih ngapain iri sama cewek bar-bar kaya kamu?" ujarnya memanyunkan bibir dan berlalu pergi menabrak tubuhku sampai limbung. Uuuhhh tu bibir pengen aku tarik terus karetin dah dasar kuntilanak gila. Belum beranjak, aku mendengar suara telepon. Tak menunggu lama, aku segera mengangkatnya. Ternyata Om Gandhi yang mengatakan tidak bisa datang karena ada masalah. Huft, aku kecewa. Tanpa berucap apapun aku tutup teleponnya. Lalu bergegas mandi. *** Keesokan harinya, aku bantuin Bunda. Mulai belanja ke pasar, bersih-bersih, memasak dan mencuci. Sangat melelahkan, tapi seru banget. Apalagi waktu di pasar, tawar menawar sama penjual ikan dan sayur kayak orang mau berantem. Haha ... Bunda keren. Ini pengalaman pertamaku, pengalaman yang nggak bakal pernah bisa aku lupain. Mungkin bagi orang-orang kaya, uang nggak ada artinya. Tapi bagi bunda yang merawat banyak anak, sekecil apa pun sangat berarti. Makanya sebisa mungkin beliau mengirit namun tetap memberikan yang terbaik untuk anak-anak panti. Setelahnya aku istirahat di kamar. Aku kagum kamar cowok tapi serapi ini. Padahal gak terlalu besar. Aku menyusuri tembok yang terdapat banyak sekali foto-foto. Mulai dari Om Gandhi sejak bayi, anak-anak hingga bersama adik-adik panti lainnya. Mungkin Bunda baru nemuin adik-adik ketika Om sudah beranjak remaja. Tunggu! Kenapa foto Om ketika balita terlihat familiar? Aku mengambil satu bingkai figura. Keningku berkerut seraya menyusuri setiap jengkal gambar yang ada di bingkai tersebut. Aku bergegas ke kamar Bunda untuk memastikan. Tok ... tok! "Masuk!" teriak Bunda dari dalam kamar. "Bunda ...," ucapku bergelayutan di lengan Bunda. "Anak Bunda, kenapa?" sahutnya mengusap pipiku lembut. "Bunda, apa ini bener foto Om Gandhi?" ucapku menyerahkan sebuah bingkai. "Iya Sayang, kenapa?" tanya Bunda. Hah? Wajahnya kenapa mirip sekali sama .... Bunda menyenggol lenganku membuat terkejut dari lamunan. "Ada apa, Sayang?" tanya Bunda membelai kepala gue "Eh, enggak apa-apa Bun. Chaca cuma mastiin aja kok," seruku sambil tersenyum. Bunda mengusap pipi dan bibirku, "ini pasti sangat sakit ya?" Aku mengangguk mengiyakan ucapan Bunda. Tapi aku tetap ingin terlihat ceria. Aku nggak mau hanya gara-gara ini aku jadi lemah. "Sebentar lagi juga sembuh Bun," jawabku memegang lengan Bunda dan menciumnya. "Chaca gadis yang kuat," puji Bunda mencium keningku. Aku bener-bener tersanjung, merasa kehadiranku itu penting. Mataku menatap arah pintu yang sedikit terbuka. Aku berpamitan sama Bunda untuk kembali ke kamar. Saat kutarik handle pintu dengan keras. Brugh! Aku kejedot lantai sangat keras karena ditabrak oleh Om Gandhi. Astaga! Sakit sekali. Dia merasa sangat bersalah. Tangannya turut mengusap belakang kepalaku. Aku sempat mau marah, tapi kan aku juga kangen. Haha ... yaudahlah lupain. Om Gandhi kasih aku paper bag. Aku intip isinya, kok kayak HP. Hah? Pengertian banget sih. Kan jadi makin sayang. Oopps .... Dia buru-buru pergi. Pria itu selalu mengatakan sedang ada masalah. Masalah apa sih sebenernya? Aku penasaran banget. Satu jam kemudian, aku mengecek HP yang dibeliin Om Gandhi. Aaaahh ... suka banget aku. Ada warna pink, ada hellokitty-nya juga. Ya ampun, aku peluk HP itu. Meskipun gak sekeren HP yang lamaku, tapi ini udah seneng banget. Ini termasuk keluaran terbaru. Aku coba hubungi Om yang contactnya udah disave di sini. Tapi aku kesel, puluhan panggilan dan pesanku diabaikan. Seserius apa sih masalahnya? Menyebalkan. Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN