BRAK! Aku berhasil mendobrak pintunya. Aku melihat seorang pria paruh baya bertubuh kekar menindih Chaca. Bahkan melumat bibir Chaca dengan kasar. "Chaca!" teriakku. Tubuhku memanas, aku berlari mendekatinya kemudian menendang punggungnya dari belakang hingga tersungkur di lantai. Lalu kulayangkan pukulan yang bertubi-tubi. Sepertinya dia mabuk, karena tidak berdaya melawanku. "Kurang ajar!" Aku terus menghajarnya. Wajahnya sudah penuh luka lebam. Untuk yang terakhir, aku memberikan pijakan sangat keras pada perut buncitnya. Dia hanya mengerang kesakitan. Kemudian segera menelepon security untuk mengamankannya. Aku beralih ke Chaca yang terduduk lemas di lantai. Dia menunduk dan menangis sesenggukan. Tubuhnya memeluk dirinya sendiri sangat erat. Aku turut berjongkok menyamakan tingg

