"Tunggu! Kenapa ke rumah sakit?" tanya Anjar malas bergerak. "Ayu di rumah sakit. Kemarin, ayahnya meninggal sehingga dia drop. Mungkin karena pengaruh kehamilannya juga," jelasku berhenti melangkah. "Aku harus panggil kamu apa?" tanya Anjar mulai berdiri. Aku menjabat tangannya memperkenalkan diri, "Gandhi." Dia tidak menyambut tanganku, malah langsung memelukku. Aku sempat terkejut, namun kemudian membalasnya. "Maafkan aku dan terima kasih banyak," ujarnya sendu. "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Yang harus dipikirkan adalah langkah ke depan," sahutku mengusap punggungnya. Aku mengajaknya ke restoran yang masih buka untuk makan malam. Perutku keroncongam sejak tadi belum terisi karena nguntitin dia. Kami berjalan sebentar ke seberang jalan. Karena di sana terdapat resto yang buka 2

