Aku terus memantau Chaca sembari menyetir. Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya. Sepertinya, sekarang lebih mabuk dari yang kemarin. Menopang tubuhnya saja sudah tak mampu.
Ya ampun Cha!
Air matanya terus mengalir. Apa perasaannya begitu sedih? Dalam keadaan tidak sadar aja dia terus mengeluarkan air mata.
Jemariku sesekali menyeka air matanya. Pandanganku tidak terlalu fokus ke depan. Tunggu, sekarang sudah pukul 00:30. Bunda sudah tidur belum ya.
Chaca semakin terisak, pilu hatiku mendengarnya. Aku turut sesak merasakannya.
Kamu ada masalah apa sih Cha? Jangan membuatku khawatir.
"Om ...." Suaranya bergetar dan berulang-ulang.
Samar-samar namun masih bisa terdengar jelas oleh telingaku. Apa kamu memanggilku Cha? Apa aku menyakitimu? Sungguh banyak sekali pertanyaan yang bersarang di otakku.
"Hump!"
Sepertinya Chaca hendak muntah. Aku menepikan mobil. Menurunkannya perlahan, dan yah sedetik kemudian dia muntah.
Untung tidak mengenaiku lagi. Ya ampun Cha, yang seperti ini lho bikin aku enggak tega. Aku terus memijat tengkuknya memudahkannya mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Setelah kurasa cukup, aku menggendongnya sampai mobil. Dia menyeruakkan kepalanya di dadaku, seperti bayi yang sedang mencari kenyamanan. Kedua tangannya mengalung di leherku.
"Chaca ... jangan menggodaku!"
"Jangan pergi, Om ... jangan tinggalin gue," gumamnya lemah. Kedua matanya terpejam.
Aku meletakkannya di jok mobil belakang. Agar dia nyaman tidurnya. Kusibak rambutnya yang menutupi wajahnya. Kubelai pipinya perlahan.
"Aku nggak akan kemana-mana Cha," ucapku mengecup keningnya sekilas.
Lalu aku segera melanjutkan perjalanan. Kuhentikan mobil di halaman luas toko retail 24 jam. Aku membeli obat penawar mabuk, anti mual dan pusing.
Setelahnya, aku terus melajukan kendaraan. Sampai pada akhirnya aku berhenti di depan pos siskamling. Aku turun dari mobil.
"Paman Dul!" sapaku pada Paman yang kebetulan berjaga.
"Gandhi, apa kabar?" sahutnya merentangkan tangan menyambut kedatanganku.
"Baik Paman. Bunda sudah tidur belum ya?" tanyaku memeluknya.
"Sepertinya belum, baru saja beliau menerima tamu," jawab Paman.
Aku mengangguk paham. Lalu, berpamitan untuk masuk menemui bunda Hanin. Beliau yang merawatku sejak bayi.
Pintu depan kuketuk. Hanya dua kali ketuk pintu terbuka. Seorang wanita yang menua, namun tidak mengurangi kadar kecantikannya.
Aku menyambut tangannya mencium punggung tangannya lalu memeluknya.
"Bunda, Gandhi kangen," ucapku mengusap punggungnya lembut.
"Tumben ingat sama Bunda. Biasanya sibuk kerja kamu," sinis Bunda yang memang aku benarkan.
Aku hanya menyengir kuda. Iya, aku biasanya hanya sebulan sekali bahkan kadang dua bulan sekali mendatangi Bunda karena memang aku fokus kerja. Dan karena cuti masih beberapa hari lagi, aku memutuskan untuk menengoknya.
"Bunda, Gandhi mau nitip seseorang di sini boleh?" tanyaku hati-hati.
"Siapa? Perempuan atau laki-laki? Dewasa apa anak-anak?" cerca Bunda.
"Eee ... perempuan Bunda. Usianya sekitar 19 tahun. Dia ... dia tadi habis mabuk, Bun. Dan sekarang tidak sadarkan diri," ucapku ragu-ragu. Takut jika Bunda marah atau tidak menerimanya.
Bunda Hanin terkejut. Mungkin beliau takut aku neko-neko. Apalagi statusku yang sudah tidak sendiri lagi. Tatapannya seolah ingin menelanku bulat-bulat.
Bunda akan marah jika aku melakukan sesuatu yang menyimpang. Aku bisa merasakan beliau sangat menyayangiku.
"Bunda, Gandhi jelasin dulu. Jadi dia itu gadis yang butuh perhatian Bun. Dia anak orang kaya, tapi orang tuanya tidak pernah memedulikannya. Alhasil dia salah pergaulan dan jadilah seperti ini Bun," jelasku sebelum terkena amukannya.
"Astagfirullah ... kasihan sekali. Lalu di mana dia?"
"Ada di mobil Bun. Gandhi takut Bunda marah. Makanya tanya dulu ke Bunda," sahutku.
"Eh, cepat bawa ke sini. Nanti susah napas di dalam mobil, buruan!" titah Bunda membuatku panik.
Aku berlari ke mobil dan segera menggendongnya. Chaca sudah tidak berdaya. Bunda menyiapkan kamarnya. Setelahnya menungguku dan membukakan pintu.
Aku mengikuti Bunda ketika sudah menunggu di ambang pintu. Kuletakkan perlahan tubuhnya di kasur. Memang hanya kasur biasa. Aku harap Chaca gak marah ketika terbangun nanti.
Aku lega Bunda tidak marah dan malah menerima Chaca dengan terbuka. Terima kasih Bunda. Cha, semoga kamu nyaman di sini. Pandanganku tidak lepas darinya sedikitpun.
"Bun, tadi Gandhi gak sempat beli pakaian buatnya. Karena sudah jam segini gak ada yang buka Bun," jelasku karena pakaian Chaca basah terkena muntahan.
"Nanti Bunda pinjamkan ke Santi dulu untuk sementara," saran Bunda.
"Bun, sekarang aja. Pakaiannya basah terkena alkohol. Nanti dia masuk angin Bun," tuturku membuat Bunda mengerutkan kening.
"Iya ... iya, kenapa kamu bawel sekali sih. Ada apa sebenarnya? Setelah ini jelaskan semuanya sama Bunda!"
Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal dan hanya tersenyum saja. Dari dulu Bunda selalu tahu apa yang aku sembunyikan.
Aku kembali duduk di ruang tamu. Menunggu Bunda yang mengganti pakaian Chaca. Beberapa menit kemudian, Bunda datang dan duduk di sampingku.
"Kenapa isterimu?"
Nah kan jleb banget. Padahal aku belum cerita apa-apa tentang Ayu. Tapi Bunda dengan mudah menebaknya.
Aku tidak bisa menyembunyikannya dari Bunda. Aku menceritakan semua rentetan kejadian yang aku alami.
Mulai dari Ayu yang merendahkanku, meminta cerai, mengabaikanku, memfitnah dan sampai aku bertemu dengan Chaca.
Oh ... tak lupa ayah mertua yang memarahiku karena dihasut oleh anaknya. Tapi aku juga bercerita malam berikutnya mereka tiba-tiba datang. Dengan sikap yang berbeda 180°.
Mereka yang tiba-tiba bersikap baik padaku dan memohon-mohon agar anaknya tidak diceraikan. Ayu juga memohon agar tidak bercerai.
Bunda menangis mendengarnya. Beliau berdiri lalu memelukku erat. Aku yang tadinya biasa saja ikut menangis. Bunda mengelus kepalaku lembut, mencium puncak kepalaku bertubi-tubi.
Aku terharu Bunda percaya sepenuhnya padaku. Aku menumpahkan semua tangisanku di pelukan Bunda. Aku tahu sebenarnya aku rapuh. Aku selalu menutupinya. Tapi aku tidak bisa menutupi apapun dari Bunda.
"Bunda, terima kasih sudah percaya sama Gandhi," ucapku ditengah isak tangisku.
Lemah? Iya. Aku lemah di depan ibuku. Tapi aku akan menjadi manusia berhati batu ketika di luar sana. Ibu memukul punggungku.
"Ngomong apa kamu? Gimana bisa Bunda tidak percaya sama anak bunda?"
"Terima kasih banyak Bunda," ujarku semakin mengeratkan pelukan pada perutnya.
Bunda masih membelai kepalaku lembut. Membuatku mengantuk.
"Bunda," panggilku.
"Hmm?" gumamnya.
"Minta tolong dong Bun,"
"Apa Sayang?"
"Tolong sayangi kucing liarku seperti Bunda menyayangi Gandhi."
Bunda melepaskan pelukannya. Mendongakkan kepalaku, mengusap sisa-sisa air mataku. Dari pancaran matanya bertanya-tanya maksudku.
"Dia seperti kucing liar yang Gandhi pungut di jalanan Bun," jelasku.
Bunda tertawa terbahak-bahak. Memukul pundakku.
"Kamu ini sembarangan menyamakan orang!" Bunda pura-pura marah.
"Abisnya dia lucu Bun. Kasihan dia Bun, kurang perhatian dan kasih sayang selama ini. Padahal sebenarnya dia gadis yang baik, Gandhi yakin itu," tuturku dengan mantap.
"Kamu menyukainya?"
DEG!
Aku tidak pernah kepikiran sampai sana. Aku pikir perasaan ini sebatas sayang dan ingin melindunginya saja. Tapi,
Bersambung~