Kembali

1027 Kata
Aku menghela napas panjang lalu mengangkat kedua bahu Ayu agar berdiri. Kemudian mengajaknya masuk ke rumah beserta kedua orang tuanya. "Silahkan duduk Pak, Buk. Saya buatkan minum dulu," tuturku melangkah pergi. "Tidak Mas, biar aku saja," ujar Ayu lembut. Memuakkan! Cari perhatian ya. Aku kembali duduk, karena Ayu menyentuh lenganku menghentikan langkah. "Saya pikir Anda akan mengantarnya lebih lama dari ini," ujarku membuka percakapan. Jemariku saling bertaut di atas pahaku. "Setelah aku pikir-pikir tidak baik dilihat tetangga Nak, kalau Ayu terlalu lama di rumah," sahut ibu mertua. "Oh," jawabku singkat. Pak Sup, ayah mertuaku terlihat bimbang. Aku sih santai saja. Aku menghormatinya seperti ayahku sendiri. Selama ini aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. "Gandhi," panggilnya pelan. "Iya Pak," sahutku. "Bapak minta maaf sudah kasar sama kamu. Bapak tidak seharusnya ikut campur masalah rumah tangga kalian. Bapak salah sudah menghakimi kamu. Saya harap kamu bisa sabar menghadapi sikap kekanak-kanakan Ayu," ujarnya membuatku menelan ludah kasar. Perasaanku tidak enak. Mendadak dia bisa berubah dalam sekejap. Ayu datang membawa minuman dan camilan yang sudah kusediakan di dapur. Lalu ikut bergabung bersama kami. Duduk tepat di sampingku. Ngapain nih orang mepet-mepet. Sabar Gandhi sabar. Kalau dia bisa berakting di depan semua orang, kamu jangan mau kalah. "Maafin kami ya Nak Gandhi, padahal Ayu sudah sepenuhnya tanggung jawab kamu, tapi kami malah membuat hubungan kalian jadi keruh," tambah Ibu Norma. "Mas, maafin aku ya. Aku janji akan jadi isteri yang baik," tutur Ayu bergelayutan di lenganku. Sumpah pengen kulempar ke rawa-rawa kamu Yuk! "Nak, kami mohon. Pernikahan kalian yang baru berumur 2 hari, jangan sampai berujung perceraian. Ini menyangkut nama baik keluarga. Para tetangga pasti akan menggunjing kami jika sampai itu terjadi," jelas Pak Sup dengan nada rendah. Aku menatap wajah mereka satu persatu. Wajah renta ayah dan ibu mertua. Aku sangat menyayangi mereka, seperti orang tuaku sendiri. Bagaimana bisa aku berkata tidak pada beliau. Tapi putrimu sungguh keterlaluan. Aku berdehem, mencairkan suasana agar tidak terlalu serius. "Mari Pak, Buk diminum dulu," ujarku mempersilahkan. "Kami mohon Nak Gandhi, kalian jangan berpisah. Maafkan kesalahan Ayu." Tetiba tangis ibu mertua pecah. Ada apa? Apa mereka sudah tahu semuanya? Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu? "Mmm ... baik Buk, kami akan memikirkannya lagi matang-matang," ujarku. *** Setelah lama berbincang, orang tua Ayu berpamitan pulang. Meninggalkan anak perempuannya. Saat ke luar, berpapasan dengan mobil Chaca yang masih terparkir rapi di sana. Satu jam lamanya, Chaca menangis. Orang yang peduli dengannya akan meninggalkannya. Bersatu kembali pada isterinya. Chaca merasa akan sendiri lagi. Perasaannya kalut. Matanya sembab, kepalanya masih bersandar pada setir mobil. Meratapi nasibnya. Merasa lelah, Chaca menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gas sekuat-kuatnya. Disaat seperti ini, tujuannya cuma satu, club. Chaca memang sudah berjanji dengan Gandhi. Namun, mengingat dia akan kembali dengan isterinya membuat Chaca frustasi. *** Aku mendengar deru suara mobil sangat keras, lalu aku beranjak mengintip dari balik tirai jendela. "Chaca baru pulang?" batinku. Aku terkejut, ada tangan yang melingkar di perutku dan kepalanya bersandar di punggungku. "Mas, lihatin apa?" suaranya manja. "Lepas!" bentakku. "Mas, maafin semua ucapanku kemarin ya. Aku benar-benar bersalah. Aku udah nyakitin hati kamu. Bahkan aku tidak menjalankan kewajibanku sebagai isterimu. Aku benar-benar menyesal Mas. Aku minta maaf," isaknya. "Lepasin Ayu!" bentakku sekali lagi. Mata Ayu berkaca-kaca. Aku tidak akan terkena bujuk rayumu lagi. Cukup sekali saja aku memujamu. Namun kau sendiri yang mematahkan rasa itu. Aku memang bukan pria kaya, juga anak yatim piatu yang hanya dibesarkan di panti asuhan. Tapi aku masih punya harga diri. Dan ketika kamu sudah menginjak harga diri itu, aku tidak akan pernah bisa menghapus dari ingatanku. Kamu sudah mempunyai rapot merah di hatiku Ayu. Jangan harap ada remidi lagi. "Kenapa kamu berubah, Mas?" ujarnya memelas. "Hei! Sadar gak kamu? Aku seperti ini karena ulahmu sendiri. Gila! Kamu gak malu menjilat ludah sendiri, hah! Apa kamu amnesia? Lupa dengan apa yang kamu katakan kemarin!" suaraku meninggi. "Sudahlah, aku lelah dengan kepura-puraanmu. Aku muak melihat wajahmu. Jangan memancing emosiku lagi!" imbuhku berbalik. Aku mengakhiri perdebatan kami. Jika diteruskan hanya akan membuat hatiku semakin sakit. Aku memutuskan beristirahat sejenak di kamar. Tak berselang lama, Ayu menghampiriku. Duduk di tepi ranjang dan hendak naik merebahkan tubuhnya. "Ngapain kamu?" geramku. "Mau istirahat, Mas," jawabnya pelan. "Keluar! Jangan pernah injakkan kakimu di kamar ini lagi. Tidur di kamar tamu!" teriakku menunjuk arah pintu. Dia ketakutan. Aku tidak peduli. Dia sendiri yang membuat sifatku seperti ini. Ayu beringsut berpindah ke kamar tamu. Saat ini aku belum bisa diajak berdiskusi dengan baik. Kepalaku terasa panas. Dadaku bergemuruh karena emosi. Baru saja pintu kamarku tertutup, aku mendapatkan telepon dari nomor yang tidak kukenal. "Nomor siapa ini?" gumamku. Aku mengangkatnya. Siapa tahu penting. Kugeser slide hijau pada layar ponsel. "Halo!" "Mohon maaf Pak mengganggu tengah malam. Tapi saya bingung harus menghubungi siapa, di sini tertera nomor Anda yang terakhir dihubungi," ucap seseorang di seberang telepon. "Siapa? Ngomong yang jelas," ujarku. "Di Club D'Angle, tolong ke sini Pak. Seorang wanita mabuk berat dan sudah waktunya kami tutup Pak," balasnya. Hanya satu orang yang terlintas dipikiranku. "Chaca!" Aku bergegas meyambar kunci mobil dan berlari ke garasi. Menyalakan google maps untuk membantuku sampai di lokasi tersebut. Jalan yang lengang terasa begitu lama. Aku tidak pernah ke club. Jadi, aku sedikit kesulitan menemukannya. Setelah berputar-putar selama 25 menit, akhirnya aku sampai di lokasi. Buru-buru aku memasuki ruangan. Aroma alkohol dan asap rokok yang pekat langsung menyeruak di rongga pernapasanku. Kerlap kerlip lampu masih menyala. Sudah tidak ada musik yang memekakkan telinga, karena memang sudah mau ditutup. Banyak karyawan lalu lalang membersihkan sampah yang berserakan, menyapu dan mengepel meja juga lantai. Mataku menyapu ke seluruh ruangan. Suasana yang sepi membuatku mudah menemukannya. Itu dia, astaga kucing kecilku kenapa kamu mabuk lagi? Kenapa kamu mendatangi tempat lucknut ini. Aku duduk di depannya. Memandangi wajah polosnya lekat-lekat. Bibirnya meracau mengucapkan kata-kata umpatan. Lalu tiba-tiba menangis. "Jangan pergi, Om. Jangan tinggalin gue," ucapnya diambang kesadaran. Aku terkejut dan bertanya-tanya. Apakah aku yang dia maksud? Cha, kenapa gak dengerin ucapanku. Aku segera memapahnya ke mobil, lalu memakaikan sabuk pengaman. Aku bingung mau mengantarkannya kemana. Sejenak aku berpikir. "Mmm ... baiklah ke sana saja," gumamku sambil menyalakan mobil. Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN