"Bun ... Chaca kecelakaan," ucapku pelan dengan nada bergetar. "Ya Allah Chaca ...." Bunda berteriak histeris. Aku membiarkannya, karena akupun masih merasakan sesak di d**a. "Di mana lokasinya?" tanya Bunda setelah lebih tenang di seberang telepon. Akupun tidak tahu ini di mana. Aku menoleh ke arah pintu. Terdapat identitas rumah sakit tersebut. Aku menyebutkan dengan lirih namun masih bisa didengar oleh Bunda. Setelahnya kami mengakhiri panggilan. Mungkin sekarang Bunda sedang bersiap menuju ke sini. Seorang perawat menghampiriku, membawa beberapa alat medis. Aku diam saja tak bergeming. Dia mulai membersihkan luka-lukaku dan mengobatinya, beberapa bagian di balut kasa. "Kalau tidak diobati bisa infeksi, malah bahaya. Jangan sampai kekasihmu sadar tapi kamu malah sakit. Yakinlah, di

