Dilihat dari atas, Dukuh Pesawahan tampak seperti pulau di tengah-tengah sawah, dikelilingi hamparan padi dan palawija. Secara geografis, perkampungan itu terpisah dengan induk desa. Jaraknya sekitar lima ratus meter dari jalan raya.
Akses ke kampung itu berupa jalan setapak yang lebarnya hanya lima meter. Sepanjang jalan itu, ditumbuhi pohon kelapa. Kondisinya memprihatinkan, berupa tanah liat, yang jika musim hujan sangat becek. Permukaannya tidak rata. Di beberapa titik terdapat cekungan tajam.
Dulu, Dukuh Pesawahan hanya sebuah gundukan tanah seluas kurang lebih seratus delapan puluh meter persegi, yang digunakan oleh seorang tuan tanah untuk menampung panen sementara. Pada masa itu, hanya berdiri dua bangunan terbuat dari papan yang berfungsi sebagai tempat tinggal sementara para petani dari luar desa, pada saat panen raya tiba.
Setelah sang tuan tanah meninggal, persawahan itu dijual kepada para penduduk setempat. Lambat laun, karena semakin sempitnya lahan tempat tinggal, gundukan tanah itu di jadikan permukiman. Semakin lama luasnya semakin bertambah karena sawah di sekitarnya diurug, dari waktu ke waktu. Selanjutnya, kampung itu terkenal dengan sebutan Dukuh Pesawahan.
Sekarang, Dukuh Pesawahan menjadi pemukiman permanen. Tercatat tidak kurang dari lima puluh keluarga yang mendiami kampung tersebut. Menimbang semakin padatnya penduduk, pemerintah desa menjadikan kampung itu satu RT, berdiri sendiri.
Sementara itu di jalan raya, sebuah angkot baru saja berhenti di depan pasar desa. Seorang lelaki muda bertubuh atletis turun. Ia menyerahkan selembar uang pecahan lima ribuan kepada sopir. Angkot meneruskan perjalanannya. Lelaki muda itu berdiri, memandang ke sekeliling. Ia adalah Slamet yang sedang mengemban tugas dari gurunya.
“Ojek, Mas?” Seorang tukang ojek menawarkan jasa.
Slamet mengangguk. “Ke Dukuh Pesawahan bisa?”
“Bisa.” Tukang Ojek menyalakan motor. Ia menyilakan calon penumpangnya untuk segera naik. “Mari, Mas!”
Slamet meletakkan p****t di jok. Tukang Ojek tancap gas, mengantarkan penumpang pertamanya pada hari ini. Mereka melewati jalan samping pasar, menuju Dukuh Pesawahan.
“Kalau boleh tahu, mau berkunjung ke rumah siapa?” Tukang Ojek bertanya.
“Haji Bakir!” Slamet menjawab.
“Oh, Pak Haji?” Tukang Ojek mengangguk-anggukkan kepala, tahu harus ke mana mengantarkan penumpang.
Angin kemarau mengibas-ngibaskan rambut Slamet yang panjang sebahu. Ia memejamkankan mata, menikmati kesejukan pagi dan hangatnya mentari.
Sepeda motor berjalan pelan, menghindari lubang. Dari kelincahannya, si tukang ojek tampak sekali menguasai medan perjalanan dengan baik. Sesekali ia mempercepat laju kendaraan saat melewati jalan yang sedikit bagus.
Mereka sampai pada permukiman. Tampak oleh Slamet deretan rumah di kanan dan kiri jalan yang kebanyakan terbuat dari papan jati. Di sebuah pertigaan, si tukang ojek menghentikan kendaraan.
“Sudah sampai, Mas! Rumah Haji Bakir yang berwarna biru itu!” Tukang Ojek menunjuk ke sebuah rumah di pinggir jalan.
Slamet turun dari jok. “Berapa ongkosnya, Pak?”
“Lima ribu saja!”
Slamet menyerahkan selembar uang lima ribu. “Terima kasih ya?”
“Sama-sama!” Tukang ojek menerima uang, lantas tancap gas.
Slamet memandang rumah bercat biru. Bangunan berbentuk minimalis, berlantai keramik itu sangat kontras dengan rumah-rumah di sekitarnya yang hanya terbuat dari papan. Kemewahannya seolah menjadi penegas status sosial di kampung ini.
Di ruang tamu, Isna meletakkan ponsel demi melihat ada orang asing sedang memperhatikan rumahnya. Ia bangkit, keluar dari rumah.
Slamet mengangguk sopan kepada Isna. “Assalamu alaikum.” Ia melangkah, mendekati pintu rumah.
“Waalaikum salam.” Sepasang mata Isna berbinar. Wajahnya berseri-seri, terpaku melihat seorang lelaki tampan bertubuh atletis sedang mendekatinya.
Dunia serasa bergerak lambat, bagi Isna. Langkah Slamet seperti sebuah slowmotion. Mirip dalam film India, lelaki itu berjalan perlahan dengan rambut terkibas-kibas. Pandangannya lurus ke depan.
“Apa benar ini rumah Haji Bakir?” Slamet bertanya sopan.
Isna hanya mengangguk. Mulutnya menganga. Lidahnya tercekat, terpesona dengan Slamet, sampai tidak bisa berkata-kata.
“Aku ingin bertemu beliau.”
Pipi Isna bersemu merah. Ia teringat dengan foto yang kemarin dilihatnya. “Oh, jadi kamu yang bernama Slamet?”
Slamet tersenyum, heran kenapa namanya lebih dulu sampai. Tapi ia buru-buru mengangguk. “Benar, saya Slamet.”
“Slamet Tahun Baru, kan?” Pipi Isna bersemu merah. "Tapi aku lebih suka memanggil Kak Ghaissan."
Slamet menjadi gugup, tidak menyangka gadis di depannya bisa mengetahui namanya, baik yang resmi ataupun tidak. “Benar, aku Slamet Tahun Baru alias Slamet Ghaissan. Pak Hajinya ada?”
“A-ada, ada!” Isna membuka pintu lebar-lebar. “Silakan masuk, Kak Ghaissan!”
Slamet melangkah, memasuki ruang tamu.
“Si-silahkan duduk!” Isna menjadi gugup.
Slamet duduk. Ia melempar senyum sopan kepada Isna.
Mendapat senyuman dari lelaki tampan, membuat Isna menjadi salah tingkah. Reflek, ia duduk di sebelah Slamet.
Merasa kikuk, Slamet menggeser pantatnya, menjauhi Isna. Gadis itu mendekatkan tubuhnya lagi. Slamet terpojok, tidak berani geser, karena kalau melakukannya, ia akan jatuh dari sofa.
“Mau minum apa, Kak Ghaissan?” Isna bertanya genit.
“Apa saja yang penting air.” Slamet mencoba mengusir rasa kikuknya.
“Sebentar ya, aku ambilkan!” Isna bangkit, masuk ke ruang tengah dengan buru-buru, akibatnya ia bertabrakan dengan ayahnya.
“Isna, kalau jalan pakai mata!” Haji Bakir menghardik.
“Jalan itu pakai kaki, bukan pakai mata!” Isna tidak mau kalah.
Haji Bakir geleng-geleng kepala atas ulah anaknya.
Melihat kehadiran Haji Bakir, Slamet segera berdiri, memberi hormat. “Saya, Slamet, utusan Ustaz Amin!” Ia mengulurkan tangan.
Pak Slamet tersenyum gembira, menjabat tangan tamunya. “Oh, Ustaz Slamet Ghaissan, silakan duduk!” Ia duduk bersebelahan dengan Slamet. “Bagaimana kabar Ustaz Amin.”
“Baik, alhamdulillah.” Slamet tersipu. “Maaf, saya bukan ustaz. Panggil Slamet atau Ghaissan saja.”
“Kamu memang seorang ustaz.” Haji Bakir menepuk paha Slamet. “Tidak sopan kalau saya panggil dengan nama saja.”
Slamet merasa risih dipanggil ustaz, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak jika Haji Bakir bersikeras memanggilnya dengan embel-embel itu.
“Saya sudah siapkan sebuah ruangan di samping rumah. Maaf, tempat itu dulunya gudang, tetapi sudah saya bersihkan.”
“Terima kasih, Pak Haji. Maaf, merepotkan.”
Haji Bakir menggeleng. “Tidak apa-apa. Hanya itu tempat yang bisa saya sediakan.”
Slamet mengangguk-angguk. Ia menyerahkan amplop warna putih kepada Haji Bakir. “Ini surat dari Ustaz untuk Pak Haji. Mohon diterima.”
Haji Bakir menerima surat dengan gembira. Dengan seksama ia membacanya. Setelahnya ia berujar. “Haji Amin ada-ada saja, pakai surat pengantar segala. Beliau memang luar biasa, melakukan sesuatu dengan serius, tidak pernah menggampangkan persolan.”
Di dapur, Isna cekatan sekali menuang air panas dari termos ke dalam dua gelas yang berisi teh celup. Sambil bersenandung lagu Tum Hi Ho, ia mencelup-celupkan teh dalam gelas. Lagu India itu ia senandungkan dengan cengkok rock and roll, sehingga terdengar seperti rintihan orang yang sedang mengalami sembelit.
Ida merasa heran dengan tingkah adiknya yang di luar kebiasaan. Adiknya itu, jangankan bikin minuman teh, masak air saja biasanya gosong. “Tumben kamu bikin teh, buat siapa?”
Isna mengerling genit. “Buat calon menantu bapak!” Ia terkekeh, meledek kakaknya.
Sepasang alis Ida terangkat. “Siapa?”
Isna meletakkan dua gelas teh ke atas baki. Setelahnya ia meledek Ida. “Ustaz Slamet Tahun Baru!” Ia tertawa, melenggang menuju ruang tamu.
Ida menjadi penasaran. Ia segera mengekor Isna menuju ruang tamu.
Di ruang tamu, Haji Bakir menjelaskan kondisi Dukuh Pesawahan dengan penuh keprihatinan. “Dulu kampung ini sangat religius. Setelah meninggalnya Kyai Abdul Ghani, ayah Ustaz Amin, kampung ini kehilangan sosok ulama kharismatik. Mushola mulai sepi, madrasah tutup, perjudian merajalela. Anak-anak mudanya banyak yang mabuk-mabukan.”
Slamet mendengar penuh antusias dengan keprihatinan mendalam.
“Selama bertahun-tahun, Ustaz Amin tidak mengetahuinya karena menganggap di kampung ini sudah ada Kyai Langgeng. Tetapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri, beliau merasa terkejut.”
“Kyai Langgeng yang terkenal itu?” Slamet bertanya. “Yang subscriber Youtube-nya sampai puluhan ribu?”
“Benar, yang kata anak saya, pengikut Twitter dan instagramnya sampai ratusan ribu. Saya orang kuno, tidak tahu begituan. Tahunya cuma Mbah Gugel.” Haji Bakir terkekeh sejenak. Kemudian wajahnya berubah prihatin. “Sayang, beliau terlalu sibuk dengan undangan ceramah dan bikin konten Youtube, sampai tidak sempat dakwah untuk kampung sendiri.”
Isna muncul dari dalam, meletakkan minuman ke atas meja. Ia mencuri pandang ke arah Slamet.
“Ini Isna Fairuz, putri bungsu saya.” Haji Bakir memperkenalkan anaknya.
Isna mengangguk genit. Slamet membalasnya dengan senyum, membuat hati gadis bungsu Haji Bakir kebat-kebit.
“Silakan diminum!” Haji Bakir mempersilakan.
Slamet mengangguk. “Terima kasih!” Ia menyesap teh panas buatan Isna.
Haji Bakir bertanya kepada Isna. “Mana kakakmu?” Ia heran kenapa yang menyuguhkan minuman bukan Ida seperti biasanya.
Mendengar pertanyaan bapaknya, Ida yang sedang menguping dari balik pintu segera kabur menuju ke dapur. Tanpa sengaja kakinya menginjak ekor kucing.
“Meooong!” Kucing marah, kesakitan akibat tadi keinjak Ida.
“Aku pikir tadi ada di balik pintu itu, ternyata kucing.” Isna menjawab sambil matanya mencari-cari sosok kakaknya. “Apa perlu aku panggilkan?”
“Tidak usah, nanti saja.” Haji Bakir menolak. “Isna, tolong kamu cek kembali ruangan di belakang rumah, pastikan dalam keadaan bersih.”
“Siap, Pak!” Isna menghormat kepada Haji Bakir, seolah bapaknya adalah bendera merah putih. Dengan semangat empat lima, ia menuruti perintah bapaknya.
“Mohon maaf atas kelakuan Isna. Ia memang tomboy, karena sejak kecil temannya laki-laki semua.” Haji Bakir merasa tidak enak hati.
Slamet tersenyum bijak. “Isna yang menyambut saya tadi. Kelihatannya anaknya baik.”
Haji Bakir tersipu. “Oh, ya?”
Slamet mengerjap, meyakinkan Haji Bakir. “Insya Allah tetap menjadi anak baik.”
“Aamiin!”