Slamet tercengang, melihat kondisi bangunan tua reot mushola yang temboknya mulai retak-retak di hadapannya. Kubahnya sedikit miring ke kanan. Jika angin bertiup kencang, ia khawatir akan tumbang yang berpotensi membahayakan warga sekitar.
Dengan penuh prihatin ia mengusap kusen-kusen jendela yang mulai keropos. Kayunya lapuk dan banyak dirayapi. Kacanya retak dengan hanya dilakban saja.
Di beberapa titik lantai serambi ditumbuhi lumut. Ubinnya sudah tidak rata, beberapa di antaranya bahkan terkelupas. Sungguh Slamet merasa miris. Tempat ibadah ini nyaris tidak layak disebut mushola.
Slamet mendongak, memperhatikan eternit. Ia menghitung ada enam lembar yang sudah lepas sehingga jika dilihat dari bawah akan tampak beberapa genting yang posisinya tidak beraturan, bahkan melorot.
Satu-satunya yang masih bagus hanyalah cat dinding mushola yang tampaknya masih baru. Itu pun jika disentuh dengan tangan debunya akan membekas.
Tanpa Slamet sadari, Isna memperhatikan gerak-geriknya dengan bersembunyi dari balik pohon mangga. Gadis itu mengikutinya sejak dari rumah sambil menenteng sapu.
Slamet melangkah menuju kamar mandi. Di sana lebih memprihatinkan. Bak kamar mandi hanya terisi seperempat, dipenuhi dengan jentik-jentik nyamuk. Tak ada pompa air, hanya sebuah sumur yang tak terurus. Katrol pengereknya sudah tidak difungsikan, hanya sebuah tali karet panjang yang terhubung dengan timba yang sedikit bocor. Ia yakin orang yang menimba pasti melakukannya dengan menariknya menggunakan tangan.
Slamet melepas baju koko, menyisakan kaos dalam yang menutupi badan, membuat kelukan bidang dadanya yang kekar terlihat. Sarung ia sisingkan sebatas lutut.
Slamet membuka saluran pembuangan bak mandi, menguras airnya sampai habis. Dengan telaten ia menyikat dinding dalam dan luarnya sampai bersih dan tidak berlumut.
Setelah bak mandi, giliran lantai yang Slamet sikat. Butuh tenaga ekstra sampai lumut dan noda hilang. Keringatnya bercucuran. Sarungnya basah dan sedikit kecipratan kotoran. Beruntung ia membawa satu lagi sarung bersih untuk sholat nanti.
Seluruh dinding dan lantai kamar mandi sudah Slamet bersihkan. Ia meneguk air minum dari kemasan botol, bekal dari rumah. Rasa haus yang ia tahan sejak tadi menjadi hilang. Sekarang ia tinggal mengisi penuh bak mandi.
Slamet memeriksa kelengkapan alat penimba air. Katrol kerekannya sedikit macet. Ia pun mengambil oli yang telah disiapkannya, lantas melumasi rodanya sampai bisa berputar dengan baik. Timba yang sedikit bocor, ia ganti dengan yang baru. Haji Bakir memang sudah menyiapkannya.
Slamet menaiki bibir sumur yang tingginya sebatas pusar. Ia memasang tali karet pada katrol pengerek. Selepasnya ia turun dan menimba air sampai bak mandi penuh.
Bak mandi itu sejatinya tempat penampungan saja. Di setiap dinding terdapat beberapa lubang yang berfungsi mengucurkan air untuk berwudhu. Penutupnya pun ala kadarnya, hanya irisan bekas sandal jepit yang dibentuk sesuai ukuran agar tidak bocor.
Kamar mandi sudah bersih dan bak penampungannya terisi penuh. Kaos dalam Slamet basah, bukan hanya kecripatan air saja, tapi juga keringat. Ia beristirahat sejenak, duduk di serambi sambil menghabiskan sisa air minumnya.
Slamet masuk ke mushola, mencari sapu, tapi tidak menemukannya. Mengetahui hal itu, Isna segera mendekatinya, meletakkan sapu di serambi mushola. Dengan berjingkat ia kembali bersembunyi di balik pohon mangga.
Menyadari tak ada sapu di mushola, Slamet berniat meminjam sapu pada Haji Bakir. Baru beberapa langkah, matanya menangkap sebuah sapu yang tergeletak begitu saja di serambi. Ia merasa heran karena tadi tidak melihat sapu di tempat itu.
Slamet mengedarkan pandangan ke luar mushola, siapa tahu ada orang yang baru meletakkan sapu tersebut. Mendadak ia tersenyum sendiri ketika pandangannya tertambat kepada sosok gadis berambut cepak yang sedang bersembunyi di balik pohon mangga.
“Terima kasih atas pinjaman sapunya!” Slamet berkata lantang agar suaranya sampai ke telinga Isna.
Terlanjur keberadaannya diketahui, Isna menghampiri Slamet. “Biar saja sapu itu untuk mushola.”
Slamet tersenyum kepada Isna. “Atas nama mushola, aku ucapkan terima kasih kepada Kak Ghaissan.”
“Memang kamu apanya mushola?”
Alih-alih menjawab, Slamet tertawa.
“Ditanya kok malah tertawa.” Isna pura-pura cemberut.
Slamet masuk, menyapu bersih seluruh ruangan. Isna memperhatikan gerak-geriknya nyaris tanpa kedip. Dalam hati, gadis itu mengagumi lelaki tampan itu yang dengan ikhlas membersihkan mushola tanpa disuruh. Padahal banyak pemuda di kampungnya, tetapi jangankan merawat mushola, sholat berjamaah saja tidak pernah.
Slamet menoleh ketika mendengar keriuhan. Ia melihat lima anak kecil berlarian menuju mushola. Mereka sangat riang dan berisik. Dua di antaranya berlomba memanjat pohon mangga yang berada di halaman mushola. Ketiga teman mereka bersorak, menyemangati keduanya.
“Tangkap!” Seorang anak berambut keriting melempar mangga ke arah tiga temannya yang berada di bawah. Mangga terhempas ke tanah. “Ah, payah! Begitu saja tidak bisa menangkapnya.”
“Lagi, lagi!” pinta anak-anak yang berada di bawah.
Si keriting memetik beberapa buah mangga. Ia kembali melemparkannya kepada ketiga anak di bawah. Buah-buahan itu menjadi rebutan.
Seorang anak bertelanjang d**a tidak mau kalah dengan si keriting. Dengan cekatan ia memetik beberapa buah mangga. Ia lebih cerdik karena tidak melemparkannya, tetapi menyuruh salah satu anak untuk menangkapnya satu per satu.
“Ada Mbah Suto!” Salah seorang anak berteriak, membuat anak lainnya segera kabur. Mereka tunggang langgang sambil cengengesan.
Seorang lelaki renta berjalan tertatih menuju halaman mushola. Bahu kanannya yang kurus mencangklong cangkul. Tangan kirinya menenteng sebuah bibit pohon pepaya.
Si keriting melompat dari atas, alih-alih turun melalui batang pohon. Ia panik, takut dimarahi lelaki renta tersebut. Beruntung ia bisa mendarat dengan mulus.
Sementara si anak bertelanjang d**a masih sempat memetik sebuah mangga, tidak panik sama sekali. Ia turun dengan hati-hati. Sampai di bawah, ia menghampiri sang kakek. “Terima kasih mangganya, Mbah!”
Lelaki renta yang dipanggil dengan sebutan 'mbah' itu mengangguk senang, tidak bisa menjawab dengan kata-kata karena napasnya terengah-engah.
Dari mushola, Slamet memandang penasaran lelaki renta itu. Ia bertanya kepada Isna. “Siapa kakek itu?”
“Orang-orang memanggilnya Mbah Suto!” Isna menjelaskan. “Beliau yang menanam semua pohon di halaman mushola ini.”
Slamet terkesima, memandang Mbah Suto yang sedang menggali tanah di pojok barat. Ia menaksir umur kakek itu lebih dari tujuh puluh tahun.
“Banyak orang menganggapnya aneh.” Isna berujar.
“Aneh kenapa?”
“Lihatlah!” Isna menunjuk ke arah Mbah Suto. “Ia terus menanam pohon meskipun belum tentu bisa menikmatinya. Orang-orang bukannya berterima kasih, malah menganggapnya pikun, aneh, bahkan ada yang menuduhnya tidak waras.”
Slamet mengernyit. “Kenapa bisa begitu?”
Isna menoleh kepada Slamet. “Orang-orang berpikiran begitu karena memandang segala sesuatu berdasarkan kepentingan pribadi. Mereka berpikir, untuk apa menanam pohon jika tidak bisa menikmati hasilnya.”
“Jadi maksud kamu, orang-orang menganggap Mbah Suto melakukan sesuatu yang sia-sia karena menanam pohon, padahal ia sendiri belum tentu menikmati hasilnya, begitu?”
“Kira-kira demikian.”
Slamet merenung, mencoba mencerna penjelasan Isna. Dalam hati ia mengagumi Mbah Suto. Kakek itu terus melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak, meski dirinya belum tentu akan merasakan hasilnya.
“Tampaknya sekarang Mbah Suto akan menanam pohon pepaya.” Isna memperhatikan Mbah Suto yang sedang menggali tanah. Tidak jauh dari lelaki rent itu, teronggok bibit pohon pepaya.
Mbah Suto terus menggali tanah dengan semangat, meski napasnya terengah-engah. Kaos lelaki renta itu bersimbah peluh. Tenaganya terkuras. Sesekali ia berhenti untuk menyeka keringat di dahi.
Merasa tidak tega, Slamet segera menghampiri Mbah Suto. “Biar saya bantu, Mbah!”
Mbah suto mengatur napas. Ia memandang Slamet, merasa baru pertama kali ini bertemu dengan pemuda itu. “Terima kasih, Nak! Mbah masih mampu melakukannya.” Ia meletakkan bibit pohon pepaya ke dalam lubang galian.
Slamet berinisiatif membantu mengurug akar bibit pohon pepaya. “Dari mana kakek mendapatkan bibit pohon-pohon ini?”
Mbah Suto mengelap keringat di wajah menggunakan kaos. “Beli di kota. Kalau pohon pepaya ini, kakek melakukan pembibitan sendiri di belakang rumah.”
Slamet terkesima, menatap wajah keriput Mbah Suto. Ia malu kepada diri sendiri, kalah dengan lelaki renta di hadapannya.
“Kakek permisi dulu. Terima kasih telah membantu.” Mbah suto mengulurkan tangan.
Slamet menjabat tangan Mbah Suto. “Seharusnya saya yang berterima kasih.”
Mbah Suto mencangklong cangkul di bahu. “Assalamu alaikum!” Ia melangkah, meninggalkan halaman mushola.
“Waalaikum salam!” Slamet memandang punggung Mbah suto, mengagumi lelaki renta itu yang berjalan semakin menjauh.
Isna menghampiri Slamet. “Menurutmu pohon apa yang baru saja Mbah Suto tanam?”
Slamet menoleh, sepasang alisnya terangkat. Ia balik bertanya. “Bukankah itu pohon pepaya?”
Isna menunjuk pohon lain. “Kalau itu?”
Slamet memandang pohon yang ditunjuk Isna. “Pohon mangga.”
“Seratus buat kamu!” Isna mengacungkan dua jempol. “Tetapi bagi Kak Ida, semua pohon di halaman mushola ini hanya memiliki satu nama, tidak ada pohon mangga atau pohon pepaya.”
“Oh ya?” Slamet mengerjap heran. Ia menjadi penasaran. “Lalu ia menamakannya apa?”
“Kak Ida menyebutnya pohon kebaikan karena yang ditanam Mbah Suto adalah kebaikan. Ia tidak menikmati buahnya, tetapi akan mendapatkan hasilnya nanti di akhirat.”
Slamet tersenyum sepakat. “Benar apa yang dikatakan kakakmu. Mbah Suto berinvestasi untuk kehidupan yang abadi, bukan untuk kenikmatan sementara. Selama masih ada yang menikmati buah-buahan yang ditanamnya, selama itu pula amal jariyah akan dinikmati beliau.”
“Kakakku pintar bukan?” Isna tersenyum genit.
“Ya!” Slamet mengangguk mantap.