Angin menampar-nampar kain yang menutupi papan nama madrasah. Kain tersebut terlilit tali yang jika ditarik akan menggeser kain ke samping. Rencananya tali tersebut akan ditarik Pak Kades, sebagai seremonial pembukaan madrasah. Untuk kali kesekian, Pak Kades melirik arloji. Wajahnya menunjukkan kegelisahan. Acara yang sedianya sudah selesai bahkan belum dimulai sama sekali. Padahal ia masih punya acara di tempat lain yang tak kalah penting. Kegelisahan Pak Kades belum seberapa dibanding dengan yang sedang dirasakan Haji Bakir. Sebagai kepala madrasah, ia merasa malu karena acara tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di sebelah Pak Kades, Ustaz Amin, memandang kelas-kelas yang masih kosong. Ia tidak mengerti kenapa belum ada satu pun calon murid yang datang. Menurut laporan yang ia ter

