"Sayang, aku mencintaimu, jadi jangan berpikiran macam-macam, ya!" Damar mencoba meyakinkan Wulan bila dirinya sangatlah mencintai Wulan agar Wulan tidak ragu dengan dirinya. "Mas, aku sudah menikah denganmu, aku tidak akan pernah mengungkit cinta masa lalu. Oke!" "Oke. Baiklah, kita lanjut lagi, yuk!" "Katanya tadi lapar?" "Em, kayaknya ke kasur dulu, baru ke luar cari makan. Setuju?" "Terserah apa katamu, Mas! Aku milikmu!" Mendengar ucapan Wulan, hati Damar berbunga-bunga seperti melayang di atas awan dengan taburan bunga yang harum mewangi. "Hmmm, indahnya hidup bersamamu, Dik!" Damar memeluk Wulan dari belakang dengan mesra. Tanpa aba-aba dari yang punya tubuh, Damar telah melancarkan serangan yang membuat Wulan menggeliat manja. Wulan tanpa sadar mengikuti permainan Damar.

