bc

Di Antara Dua Hati

book_age18+
1.0K
IKUTI
2.8K
BACA
family
badboy
drama
sweet
ambitious
regency
affair
wife
husband
naive
like
intro-logo
Uraian

Kisah seorang pria yang terjerat cinta terlarang dengan wanita lain, sementara ia sudah berstatus sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah.

Damar tergila-gila dengan seorang gadis cantik di kota. Cinta itu bermula saat Damar kerja di kota dan Wulan tinggal di desa. Jarak yang memisahkan mereka membuat Damar leluasa menjalin hubungan dengan gadis yang bernama Gendhis.

Waktu terus berputar hingga Damar hampir melupakan Wulan yang telah memberikan dirinya seorang putri. Tapi saat mengetahui Wulan kembali dekat dengan pria yang jadi cinta pertamanya, Damar mulai sakit hati dan tidak rela untuk melepaskan Wulan. Sebab kejadian itu pikiran Damar akhirnya terbuka, ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Gendhis dan kembali pada Wulan.

Namun, di sisi lain Gendhis tidak terima Damar meninggalkannya begitu saja. Dan di sisi yang berbeda, Wulan masih sakit hati setelah mengetahui cinta dan perjuangannya dikhianati oleh sang suami.

Bagaimanakah cara Damar agar bisa melepaskan Gendhis tanpa menyakitinya? Mampukah pria itu mendapatkan maaf dari Wulan yang telah dikecewakan begitu dalam dan membuat Wulan mau kembali lagi padanya setelah Damar menduakannya selama ini?

chap-preview
Pratinjau gratis
Kamu Membuatku Penasaran
Siang itu Damar pulang ke rumah untuk mengambil barang dan kala itu suasana rumah begitu sepi. Ibu dan Bapaknya ada di rumah keluarga yang ada di desa sebelah yang tengah mengadakan acara mantu. Sedangkan adiknya entah ke mana, Damar tidak tahu. Damar buru-buru saat itu, ia masuk ke rumah yang pintunya tertutup rapat, suasana sunyi sepi di rumah itu membuat Damar bertanya-tanya, "Ke mana semua orang? Mbok Ijah sama Mbak Siti juga pada ke mana ya?" Keluarga Damar termasuk orang yang serba berkecukupan di desa itu, jadi Damar punya dua orang pembantu perempuan dan satu orang sopir. Sedangkan khusus merawat sapi, ada dua orang pegawai laki-laki yang namanya Lek Sukir dan Lek Dibyo yang tinggal di kandang bagian belakang pekarangan rumah Damar. Saat Damar masuk ke dalam rumah dan melewati kamar Windarti, Damar mendengar suara aneh dari kamar tersebut. Suara yang membuat bulu kuduknya berdiri. Suara ranjang berbunyi dan suara seorang wanita yang sedang merintih membuat telinganya menjadi risih. "Sedang ngapain, anak itu di dalam? Jangan-jangan dia lagi…" Damar menggantung pikiran buruknya. Lalu ia berhenti bergumam di depan pintu kamar Windarti, suara yang tadi terdengar jelas, sekarang hilang dan sunyi. "Eh, kok sepi? Ke mana suara tadi? Apa telingaku yang salah dengar ya?" gumam Damar lagi. Damar pun memutuskan untuk mengetuk pintu kamar adiknya. "Win, kamu ada di dalam?" Sunyi, tak ada suara yang terdengar dari kamar Windarti. Damar lalu menarik napas panjang, "Apa aku paling yang salah dengar, kalau ada Windarti di dalam, pasti dia akan menjawab." Damar lalu mengabaikan kejadian yang ada di kamar adiknya. Saat itu dirinya juga sedang buru-buru jadi tak ada waktu untuk mengecek lebih lanjut kamar adiknya yang tertutup rapat. *** Kejadian siang itu sudah Damar lupakan, entah sudah berapa lama Damar sudah tidak ingat lagi. Damar tidak mau ambil pusing, karena semua kembali normal setelah itu. "Pak, aku mau ke luar, sebentar!" kata Damar saat melihat bapaknya duduk di kursi teras sambil menggosok akiknya. "Mau ke mana, Le!" "Mau kumpul bareng teman-teman di gardu." "Nongkrong kok di gardu, Le! Kalau nongkrong di cafe atau warung kopi gitu, lo!" sindir Pak Tejo yang merupakan bapaknya Damar. Damar tersenyum menatap bapaknya. "Aku gak suka ke warung, Pak!" "Anak pinter, itu! Jangan kayak Bapakmu, kalau ada warung kopi terus nongkrong, apalagi yang jaga janda cantik. Wih, Bapakmu pasti betah duduk manis di sana!" sahut ibunya dari arah belakang Damar. "Wih, apalagi jandanya sek jos cantik ayu bagaikan artis, Bapak daftar nomor paling depan, to!" kata Pak Tejo. "Wes janda cantik pula, emangnya siapa lagi yang Bapak kejar, hah!" Bu Tejo mulai kesal. Pak Tejo memandang istrinya yang lagi menatapnya penuh curiga, "Istriku sayang seng ayu dewe, aku tadi cuman kasih penjelasan sama Damar, kalau ada janda cantik yang masih ayu bagai artis ibukota, aku daftar, gitu lo Bu!" "Tidak usah macam-macam, Pak! Wes tuwo, Pak!" sengit Bu Tejo. "Wong cuman becanda aja, Bu! Tidak usah cemberut kayak gitu, to!" "Bapak kalau macam-macam, tak sunat biar putus sampai bawah sing ada di bawah itu, Pak!" ancam Bu Tejo sambil pandangan matanya tertuju pada bagian bawah. "Bu, apa tidak rugi kalau burungku di potong habis?" "Yo, tidak, to Pak! Masalahnya Bapak genit sama janda, jadi biarin aja jadi gundul tuh bawah!" "Hush! Bilang apa itu?" Bu Tejo mengambil majalah mau memukul Pak Tejo, tapi Damar mencegahnya. "Stop! Sudah jangan bercanda lagi!" Bapak dan Ibunya diam sambil saling pandang dengan senyuman tipis di bibirnya, Damar hanya tersenyum mendengar ucapan Ibu dan bapaknya, suasana saling sindir di antara Bapak dan Ibunya sudah biasa Damar dengar tiap hari. "Aku kalau berumah tangga ingin seperti Bapak dan Ibu yang sering bercanda dan saling memberi semangat satu sama lain," kata Damar. "Damar, kalau cari istri jangan kayak ibumu yang cerewet, ya! Nanti kamu pusing, tiap hari dengar istrimu ngoceh!" "Wes, mulai lagi cari masalah sama aku, ya! Awas, ya! Nanti malam tidur sama sapi di kandang!" Bu Tejo melotot ke arah suaminya. "Walah, aku tambah seneng tidur tuk kandang, aku nanti bisa ajak janda ayu yang cantik ke kandang. Hehehe!" canda Pak Tejo yang senang menggoda istrinya. Bruk!!! Majalah melayang ke atas punggung Pak Tejo. Damar terbahak membayangkan apa yang barusan bapaknya katakan. "Kalau Bapak berani lakukan itu, pasti akan ada perang dunia kedua. Hahahaha!" "Gak terima perang aja! Aku kasih sambal mukanya janda ayu tadi, huh!" geram Bu Tejo. "Istriku sayang, kamu ini cuman bercanda, kok yo, diambil hati!" "Tahu ah lah! Bapak iki seneng rondo ayu wae, huh! Sebel aku!" "Hahahaha, bercanda aja, Bu! Cinta Bapak cuman buat Ibu, seorang!" kata Pak Tejo sambil tertawa ringan. "Wes, jangan bicara soal cinta di depanku! Aku jadi ngenes!" sahut Damar yang merasa kesal, "Aku pergi dulu, Bu, Pak!" lanjutnya. Damar lalu pergi ke luar menuju ke garasi motor. Damar membawa sepeda motor scoopy warna merah yang terparkir di garasi rumahnya. Dalam perjalanan Damar terus tersenyum, mengingat canda dan tawa kedua orang tuanya yang memang selalu begitu setiap hari. Rumah tangga kedua orang tuanya selalu adem ayem, dari kecil sampai dewasa Damar tidak pernah mendengar mereka berdua bertengkar hebat. 'Andai aku punya istri seperti Ibuku yang selalu riang dan memberi dukungan pada suaminya. Ibuku adalah wanita yang sangat aku idolakan dalam hidupku. Andai saja ada gadis yang punya sifat seperti ibuku, aku pasti bahagia punya istri seperti dia,' batin Damar yang berharap dalam hati. Di tepi jalan Damar melihat seorang gadis cantik yang sedang berdiri di pinggir jalan dengan membawa bakul berisi telur ayam, gadis berkulit kuning langsat dengan rambut panjang bergelombang, gadis itu terlihat sempurna di mata Damar. Damar berhenti sejenak dan menepikan sepeda motornya, ia menoleh ke arah gadis cantik itu, Damar memandang gadis itu dari balik helm yang masih ia kenakan. "Siapa gadis cantik itu? Aku sudah lama tidak pernah keliling desa ini. Selama aku tinggal kuliah ke kota, aku tidak lagi mengenali orang-orang di sini, sudah banyak perubahan di desa begitu aku kembali," gumam Damar yang begitu penasaran pada sosok gadis yang membuatnya sampai berhenti mengemudi. Damar lalu melihat seorang pria mengendarai sepeda motor Honda Cb mendekati gadis cantik itu, lalu gadis itu naik ke atas sepeda motor pria yang tidak tahu siapa, karena mukanya tertutup helm. Sepeda motor yang dinaiki gadis cantik itu lewat di depan Damar, jantung Damar berdebar kencang saat gadis itu lewat di depannya, rambutnya yang panjang tersibak terkena angin. Wajah cantik dengan senyuman manis terpampang di depan mata Damar. "Hmmm, cantiknya! Siapa dia? Aku kayak pernah melihatnya, tapi aku lupa, di mana aku pernah melihat dia ya?" gumam Damar yang semakin bertanya-tanya. Damar mencoba mengingat tapi ia tetap lupa, "Apa mungkin aku melihatnya di mimpi, kali ya?" Bersambung…

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook