Damar tiba gardu ronda di pertigaan desa, kedua temannya yang bernama Bethik dan Pramono mengobrol dengan akrabnya. Kedua pemuda tampan itu bercanda dengan riangnya. Damar lalu ikut bergabung dengan mereka.
"Damar, kamu sudah ke warung kopi yang di pinggir tugu pasar Weru?" tanya Bethik.
"Durung, ono opo?" jawab Damar.
"Seng jaga warung, uwu ayune, poll!"
"Heleh, opo iyo!"
"Iyo, Dam. Sumpah, ayu tenan! Tapi kamu tidak pernah ngopi di warung, ya!"
"Nggak, aku gak suka ke warung!" jawab Damar datar.
"Sek tah lah! Kamu tahu gadis cantik, gak!"
Damar memukul pelan kepala Bethik. "Gundulmu, kuwi! Mataku sek normal, Ndul!"
"Siapa tahu, kamu gak doyan perempuan, soalnya kamu suka kumpul sama sapi. Hehehe!"
"Wes, mulai lagi bahas sapiku!"
Bethik tertawa ringan, ia senang bisa membuat Damar kesal. Bethik memang orangnya kocak dan ramah. Sebetulnya namanya Hariono, tapi karena ia terkenal jahil makanya dipanggil Bethik yang artinya jahil.
"Dam, kamu tahu, gak! Itu yang jaga warung, janda kembang, lo! Aduh, mana cantiknya kayak putri keraton, Dam!"
"Halah, wong ayu kayak putri kok jaga warkop, Thik!"
"Yo embuh, gak tahu aku, Dam!"
"Paling kamu minum kopi satu cangkir, tapi lamanya minum sampai dua jam. Hehehe!"
"Yo pasti, to!" jawab Bethik sambil mengacungkan jempolnya.
"Dasar, gemblung!" kata Damar sambil terbahak.
"Ngomong-ngomong, kamu kok, belum punya pacar, Dam?" tanya Pramono yang dari tadi diam sambil senyum-senyum mendengar cerita Bethik.
"Aku bukan dirimu yang suka main perempuan, Pram!" sinis Damar.
"Dam, adikmu cantik! Buat aku saja ya!" sindir Bethik.
"Ehemm!" tiba-tiba Pramono berdehem.
"Kenapa dehem? Kamu suka sama Windarti?"
"E-enggak, kok! Biasa aja!" Pramono seperti menyembunyikan sesuatu dari teman-temannya.
"Pram, kamu boleh main sama anak gadis siapa saja, tapi ingat! Jangan pernah menyentuh adikku, ngerti!"
"Uhuk…. uhuk... uhuk..." tiba-tiba saja Pramono batuk-batuk saat mendengar ucapan Damar.
"Kamu kenapa?" tanya Bethik, "jangan-jangan kamu sudah main gila sama adiknya Damar," lanjut Bethik.
"Kalau kamu main-main dengan adikku, awas aja, ya!" ancam Damar.
"Dam, potong aja burungnya. Hahaha!" Bethik tertawa lepas.
Pramono menelan ludahnya, ia masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu, bagaimana dirinya sudah bercinta dengan adiknya Damar, padahal Windarti bukan pacar Pramono.
'Windarti terus godain aku selama beberapa Minggu ini, mana tahan melihat body seksinya! Pria mana yang kuat kalau dapat godaan yang gratis, mana dia masih perawan lagi," batin Pramono yang terus tersenyum manis mengingat kejadian beberapa hari lalu.
Damar dan Bethik yang melihat Pramono senyum-senyum sendiri, mereka langsung tertawa meledek.
"Tuh, lagi bayangin cewek pastinya, lihat aja, mulutnya ngiler kayak gitu. Hehehe!" ledek Bethik.
"Dasar, Bethik kurang ajar! Tutup mulutmu!" bentak Pramono.
Damar hanya senyum-senyum saja melihat kedua temannya saling ejek. Di antara ketiga cowok itu, Damar yang paling kalem dan tidak suka main perempuan.
Walaupun umur Damar sudah 25 tahun, tapi Damar belum tertarik untuk pacaran, padahal Damar termasuk anak orang kaya di desa itu, apalagi Damar juga berwajah tampan.
"Pram, kamu pacaran sama anak cewek mana, sekarang?" tanya Bethik.
Pramono memandang Bethik. "Aku lagi dekat sama Wulan, anaknya Bu Gatot."
"Wulan yang mana, sih?" tanya Damar.
"Walah, kamu itu mana tahu cewek desa ini, Dam! Tiap hari kamu itu cuman tahunya sapi-sapi aja!" ledek Bethik.
"Jangkrik!" mata Damar melotot ke arah Bethik.
"Kriiik! Kriiik! Kriiik!" jawab Bethik sambil tertawa ringan.
"Damar mana tahu gadis cantik, Thik! Dia itu tiap hari cuman tahu kalau sapinya yang paling cantik! Hehehe!" sahut Pramono.
Damar memang anak pedagang sapi, ia juga biasanya merawat sapi setelah pulang kerja dari kantor kecamatan. Damar setelah lulus kuliah sarjana ekonomi, ia bekerja di kantor kecamatan sebagai pegawai honorer, hanya untuk mengisi waktu luang sebagai hiburan saja.
Sebagai anak orang terpandang, tapi Damar tetap bersahaja dan ramah, walau kadang Damar suka merasa risih mendengar omongan orang tentang dirinya yang sekolah sampai sarjana tapi mau ngurus sapi-sapi miliknya.
"Damar, kamu gak pingin nyoba kerja di kota?" tanya Pramono.
"Pingin, tapi ibuku melarang pergi jauh meninggalkan rumah."
"Halah, wong udah besar kok masih mau dikurung di rumah!" cibir Bethik.
Damar tersenyum menatap Bethik sambil memukul pelan pucuk kening Bethik, "Aku masih butuh bimbingan ibuku, dodol!"
"Anak Ibu kamu itu, Dam!" celetuk Pramono.
"Biarin. Aku selama kuliah empat tahun, sudah jarang kumpul keluarga, jadi sekarang waktunya untuk membalas budi kedua orang tuaku," kata Damar.
"Damar, kalau misalnya aku nyentuh adikmu, apa kamu akan marah?" tanya Pramono.
"Aku sudah bilang tadi! Jangan macam-macam dengan adikku, Pram! Aku tahu siapa kamu, jadi jauhi adikku, ngerti!"
"Kalau, adikmu yang minta?"
Damar memandang tajam ke arah Pramono, Damar seakan ingin mengorek informasi dari mata Pramono.
"Apa yang kamu lakukan dengan adikku?"
"Tenang, Dam! Tenang, ya! Aku gak ngapa-ngapain, kok! Tenang aja!" Pramono ketakutan melihat Damar yang spontan berubah marah saat mendengar ucapannya.
"Sudah, ya! Jangan kamu ladeni Pramono koplak yang lagi ngelantur ngomongnya. Damar, kamu tahu sendiri, Pramono suka usil dan jahil, aku rasa dia cuman omong kosong, oke!" Bethik mencoba menengahi mereka berdua.
"Baik, tapi ingat! Kalau sampai kamu main-main dengan adikku, habis kamu, ya!" ancam Damar.
'Adiknya yang nyosor duluan, mana aku bisa tahan. Aku cuman nurut apa maunya Windarti, kalau mau menyalahkan, salahkan saja adikmu, itu Dam!' gerutu Pramono yang hanya berani bergumam dalam hati.
Pramono tidak berani bicara tentang kejadian yang sebenarnya pada Damar, ia takut Damar mengamuk di depannya. Kejadian dengan Windarti satu bulan yang lalu itu masih terus menghantui pikiran Pramono.
Melihat Damar dan Pramono yang saling melotot, Bethik lalu mengetuk kayu papan ronda yang ada di sampingnya.
Tug, tug, tug! suara papan kayu yang diketuk oleh Bethik.
"Damar sudah, aku serius sekarang, ya! Dengar, aku besok akan pergi merantau ke luar pulau," kata Bethik.
"Ngapain di sana?"
Bethik menatap Damar sambil tersenyum. "Aku mau jualan bakso di sana."
"Kalau kerja hati-hati, cari uang yang halal dan barokah, jangan suka main perempuan kayak Pramono," kata Damar sambil menunjuk ke arah Pramono.
"Aku lagi yang kena. Dasar kalian, bisanya iri dengan ketampanan diriku yang membuat para gadis tergila-gila padaku. Jujur, iya, kan?"
"Halah, ganteng diobral, Pram! Halah, percuma, punya wajah ganteng tapi murahan. Hehehe!" ejek Bethik.
"Ganteng, tapi diobral, Pram! Eman gantengnya!" sahut Damar.
"Damar, Bethik!" panggil Pramono.
"Opo!" jawab mereka hampir bersamaan.
"Gak apa-apa, cuman tes, aja! Hehehe, telinganya masih normal apa gak!"
Sedang asyik-asyiknya mengobrol mereka bertiga di kejutkan oleh sapi yang lewat depan mereka dengan lari tunggang langgang.
"Hei! Minggir!!!" suara teriakan seorang pria yang sedang mengejar sapi yang berlari tunggang langgang.
Orang-orang berlarian mengikuti sapi itu dari belakang. Damar lalu berdiri dari duduknya lalu mengamati orang-orang yang berlari tadi.
"Bethik, itu tadi bukannya Lek Sukir?" tanya Damar sambil memandang Bethik.
"Betul, itu Lek Sukir pegawai bapakmu, Dam!"
"Berarti yang lari tadi sapiku, Thik!"
"Lah, iyo Dam, sapi siapa lagi? Lek Sukir itu tukang jaga sapi kamu, Dam! Aneh, kamu itu!"
"Ayok kita ikutan ngejar, yuk!" ajak Pramono.
"Ayok! Gas, sepeda motormu, Dam!" pinta Bethik sambil naik sepeda motornya Damar.
"Sek, toh! Iki wae sek mau di stater sepeda!"
"Ayok, berangkat!" seru Bethik sambil mengacungkan tangannya yang sedang mengepalkan jari-jari.
"Aduh, kamu itu kayak mau perang, aja!" kata Pramono sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Bethik yang kocak.
Bersambung…