Kenyataan yang Memalukan

1110 Kata
Damar melihat kelakuan adiknya semakin aneh, Windarti sudah jarang keluar rumah. Kuliahnya juga cuti dengan alasan sakit. Tapi saat diajak ke dokter, Windarti selalu menolak. Windarti anak perempuan kesayangan di keluarga itu, jadi apapun maunya Windarti akan dituruti, bila ia menolak pergi, maka tidak akan ada yang bisa memaksa dia pergi. Hueekk... hueekk... Tiba-tiba terdengar suara orang lagi muntah-muntah dari arah kamar mandi. Damar beserta kedua orang tuanya saling berpandangan. "Bu, siapa yang muntah itu, Bu? Jangan-jangan itu Windarti, Bu? Bukankah, di dalam hanya ada Windarti, Bu?" tanya bapaknya Damar sambil memandang istrinya. Bu Tejo menatap suaminya, ia juga penasaran dengan suara orang yang terdengar sedang muntah di kamar mandi. "Pak, aku juga penasaran? Tapi yang di rumah cuman ada Windarti, apa Windarti sakit, ya?" Mereka bertiga saling pandang, lalu Damar melangkah masuk diikuti oleh kedua orang tuanya. Saat mereka sudah di dalam rumah, mereka terlihat Windarti keluar dari kamar mandi, ia terlihat sangat pucat wajahnya. Melihat Windarti yang tampak sakit, ibunya segera menghampiri Windarti. "Kamu kenapa, Nduk?" "Windarti, kamu kenapa? Kamu sakit?" sahut Damar. Windarti tidak bisa menjawab, ia hanya menatap Ibu dan juga kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca. Ibunya menuntun Windarti untuk duduk di kursi yang ada di ruang makan, Damar dan juga bapaknya pun ikut duduk di sana. Mereka mengambil kursi di samping tempat duduk Windarti. "Sini, kamu duduk dulu," ucap Bu Tejo sembari memegang tangan Windarti. Windarti terlihat gemetaran, Damar memegang tangan adiknya, "Tangannya dingin sekali, kamu kenapa, Win?" Belum selesai berbicara, Windarti tiba-tiba menutup mulutnya dan beranjak dari duduknya, lalu berlari ke dalam kamar mandi, "Hueekk... Hueekk!" Windarti kembali muntah. Ibunya semakin khawatir, "Ya Allah, kamu kenapa, Nduk?" ucapnya sembari memijat punggung Windarti. Damar memandang ibunya, "Bu, kenapa aku merasa kalau Windarti sudah melakukan sesuatu hal yang salah ya!" Ibu dan Bapaknya Damar terdiam, terlihat jelas raut wajah khawatir dan juga gelisah, bapaknya lalu memandang Damar, "Menurutmu, begitu?" "Bapak, aku lihat Windarti bersikap aneh beberapa hari ini, dia lebih suka diam dan mengurung diri di kamar." "Bapak juga merasa aneh, tapi Bapak pikir itu biasa untuk anak perempuan, mungkin lagi ada tamu bulanan makanya lemes kurang semangat, Bapak pikir seperti itu, Le!" "Bapak, dulu satu kali aku pernah lihat ada anak cowok yang keluar dari rumah ini, padahal semua orang tidak ada di rumah saat itu, hanya ada Windarti dan anak cowok itu, saat itu aku tidak sempat bertanya padanya, karena anak cowok itu keburu pergi, dan cowok itu memakai topi dan kaca mata hitam, jadi aku tidak tahu siapa dia," kata Damar. "Kamu berpikiran kalau adikmu berbuat hal yang senonoh?" jawab Pak Tejo. "Mungkin saja, Pak! Kita mana tahu." "Pernah juga ada suara aneh dari kamar Windarti, tapi aku kira itu cuman perasaanku kala itu. Sekarang aku jadi berpikir kalau saat itu, Windarti lagi berduaan sama laki-laki." Bu Tejo memandang tajam ke arah Damar. "Kenapa tidak bilang Ibu, Le!" "Aku pikir cuman aku yang salah dengar, soalnya suara itu sebentar hilang saat aku berdiri depan pintu kamar Windarti," jelas Damar. "Astaghfirullahaladzim, bapak lupa kalau bapak juga jarang ada di rumah, ibumu juga jualan di pasar, kamu juga kalau pagi sampai sore kerja, jangan-jangan adikmu telah berbuat dosa sama cowok itu, Le!" kata Pak Tejo dengan nada sedih. "Saat kita tidak ada di rumah, Windarti pasti bawa laki-laki masuk." Kedua orang tuanya Damar memandang Damar dengan pandangan mata nanar, bahkan Bu Tejo berkaca-kaca menahan tangis. Windarti kembali ke tempat duduknya, Bu Tejo lalu mendekati kursi Windarti, "Kamu kenapa muntah-muntah terus, Nduk? Kamu masuk angin, tah?" "Tanyakan pada anakmu itu, apa yang dia lakukan saat kita semua tidak ada di rumah, siapa laki-laki yang dia masukkan ke dalam rumah?" ucap Pak Tejo. Damar dan ibunya memandang Pak Tejo dengan heran, "Apa yang Pak katakan, gak mungkin anak kita berbuat yang aneh-aneh, Pak!" "Bu, tanya dulu anakmu itu, baru kita akan tahu apa yang dia perbuat saat kita tidak ada di rumah!" Windarti menunduk, air matanya menetes saat mendengar ucapan bapaknya yang terdengar kasar, Damar yang melihat hal itu segera mendekati Windarti yang menundukkan kepalanya. "Win, aku tahu saat itu ada orang di kamarmu, tapi aku ragu untuk mendobrak pintu kamarmu, Mas saat itu ragu. Sekarang, katakan yang sebenarnya, Win!" Windarti hanya menangis tersedu-sedu, "Maafkan aku, hiks ... hiks ... maafkan aku!" "Kamu?" Ibunya tidak melanjutkan ucapannya, ibunya terlihat ragu untuk mengucapkan kata-kata itu. Windarti tiba-tiba bersimpuh di kaki sang ibu, ia menangis dalam pangkuan ibunya, "Ibu, ampuni aku, hiks ... hiks ... aku hamil, Bu!" "Astaghfirullahaladzim, ya Allah, ya Allah, ya Allah..." hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir Bu Tejo. Air matanya menetes saat mendengar ucapan anak gadisnya itu, rasanya seperti tersambar petir di siang hari bolong. Braaakkk! Suara meja digebrak, Pak Tejo murka, matanya merah membara dibakar amarah. "Dasar anak kurang ajar!!!" Damar segera berdiri dan memegang tangan bapaknya, "Bapak sabar, jangan emosi, bapak ingat Allah, istighfar Pak! Astaghfirullahaladzim, Bapak sabar ya!" "Bapak rasanya ingin mati saja! Ya Allah, ke mana aku akan menaruh mukaku ini! Anak gadisku hamil sebelum menikah, taruh di mana mukaku, ya Allah!!" ucapnya sembari duduk di lantai, hatinya hancur berantakan karena anak gadisnya telah mencoreng aib di mukanya. Di ruangan itu yang masih bisa berpikir normal adalah Damar, karena Bapak, Ibu serta adiknya semua menangis tersedu-sedu. Mereka larut dalam duka, hingga lupa bertanya siapa bapak dari anak yang dikandung oleh Windarti. Setelah beberapa saat kemudian, mereka sudah sedikit tenang, Damar bersuara karena ia begitu sangat penasaran dengan siapa adiknya berhubungan hingga dia sekarang mengandung. "Windarti, jawab dengan jujur! Dengan siapa kamu tidur, hingga kamu hamil seperti ini, hah?" Windarti menyeka air matanya, dengan mengumpulkan keberanian yang masih tersisa, Windarti menjawab pertanyaan kakaknya, "A-anu Mas! A-anu. A- aku dihamili Mas Pramono, Mas!" "Pramono anaknya Pak Dirjo?!" Windarti menganggukkan kepalanya. Damar menghela napas panjang, ia tahu betul siapa Pramono, karena Pramono adalah teman bermainnya sejak kecil sampai ia dewasa, Pramono memang tampan dan gagah, tapi sayang ia suka main perempuan dan terkenal playboy. "Astaghfirullahaladzim, Pramono bukannya dia mau bertunangan dengan Wulan anaknya Pak Gatot?" tanya Bu Tejo. "Aku kok jadi bingung? Pramono itu pacar kamu atau pacarnya Wulan, sih?!" tanya Damar. "Mas Pramono memang pacar Wulan, tapi aku juga suka Mas Pramono," jawab Windarti lirih. "Jadi, kamu berhubungan dengan Pramono, padahal kamu tahu kalau Pramono pacar Wulan?" Pak Tejo memandang Windarti tajam. Windarti menganggukkan kepalanya, "He-em." "Astaghfirullahaladzim ya Allah, apa yang telah kamu lakukan, Nduk! Aku harus bagaimana sekarang, ya Allah!" Bu Tejo menangis histeris. "Bu, muka kita mau di taruh di mana? Ya Allah!" Pak Tejo ikutan menangis. Baru kali ini Damar melihat kedua orang tuanya sangat sedih dan terlihat rapuh. Hati Damar bergejolak, "Awas, kamu Pram! Sudah aku bilang, jangan sentuh, adikku! Tapi kamu tetap sentuh adikku, huh!" Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN