Damar berkacak pinggang, amarahnya memuncak sampai ke ubun-ubun. "Kenapa harus Pramono? Kenapa?!" bentak Damar.
"Mas Damar, aku sungguh minta maaf, Mas."
Windarti tenggelam dalam kesedihan, air mata tak henti-hentinya mengalir deras membanjiri pipinya yang bersemu merah.
"Ibu juga tidak mengerti, ya Allah. Astaghfirullahaladzim, kamu dengan Wulan berteman sudah sangat lama, kenapa kamu tega berbuat itu pada Wulan, Nduk!" ucap Bu Tejo di sela isak tangisnya.
"Ampuni aku, Ibu. Ampun!" suara Windarti memelas di antara isak tangisnya.
Pak Tejo berdiri dan menunjuk jari ke arah Windarti, "Betul. Bapak jadi ingat pada Wulan, bukankah kalian sudah seperti saudara kandung? Kenapa kamu sampai tega berbuat itu pada Wulan?"
"Aku minta maaf, Pak! Tolong ampuni, aku!" Windarti memeluk kaki Pak Tejo.
"Ya Allah. Aku malu, punya anak kayak kamu! Kamu memang tidak punya hati, dasar anak kurang ajar!"
Plaakkk!
Tiba-tiba saja tangan Pak Tejo sudah mendarat di pipinya Windarti. Bekas tamparan tangan bapaknya terasa panas dan juga sakit. Windarti meringkuk memeluk lututnya sambil menangis.
"Pak sudah, Pak! Tolong hentikan!" teriak Bu Tejo.
"Cukup, Pak!" kata Damar, "kita bicara baik-baik, jangan main pukul, Pak!" lanjutnya.
"Pak, kita tidak bisa menghajar Windarti, ia sedang hamil, Pakne!" cegah Bu Tejo. Ia berusaha menahan tangan Pak Tejo yang hendak memukul Windarti.
"Anak kurang ajar! Anak, tidak tahu diri! Anak ini, bikin malu keluarga saja!"
"Bapak sabar, ya! Kalau saat ini Bapak pukul Windarti, masalah tidak akan menjadi selesai, Pak!" kata Damar.
Mereka semua terdiam, ucapan Damar membuat Pak Tejo berpikir ulang tentang perbuatan dirinya, pada anak gadisnya.
Pak Tejo duduk di kursi, hatinya benar-benar hancur. Bu Tejo mendekat sambil mengusap pundaknya pelan, "Pak, kita sekarang harus bagaimana?"
Pak Tejo memegang tangan istrinya dan memandangnya mesra, "Kita gagal menjaga anak kita Bu, kita gagal jadi orang tua yang baik."
Bu Tejo tersenyum kecut, ia lalu duduk di samping Pak Tejo, mata Bu Tejo menganak sungai, butiran air kristal menetes di pipinya yang telah keriput, "Aku minta maaf, Pak. Aku telah gagal menjalankan tugasku menjaga anak kita."
Damar menghela nafas panjang pemandangan di depan matanya membuat Damar sedih bercampur kesal. Damar memandang mereka semua silih berganti. Adiknya duduk di bawah dengan merangkul lututnya, derai air matanya membuat Damar bertambah sedih.
"Ibu, Bapak. Sudahlah, jangan bersedih. Kita hadapi masalah ini dengan hati tenang."
Kedua orang tuanya memandang Damar meminta penjelasan atas kata-katanya tadi, "Tenang katamu?" tanya Pak Tejo.
"Iya, Pak! Kita harus tenang dan berpikir dengan jernih sekarang."
"Damar, bagaimana kita bisa tenang? Adikmu hamil tanpa suami, menurutmu, orang tua mana yang bisa tenang bila anaknya hamil di luar nikah, hah!"
Damar terdiam, ucapan bapaknya ada benarnya, tidak ada orang tua yang bisa tenang menghadapi masalah pelik seperti ini. Ia lalu memandang ibunya yang tertuduk sedih.
"Ibu, Wulan itu teman Windarti sejak kecil, kan?"
"Iya, Windarti suka main ke rumah Wulan, tapi Wulan jarang ke sini, hanya beberapa kali saja ia ke sini, antar telur pesenan Ibu," jelas Bu Tejo
"Betul, Wulan itu anak baik, dia suka bantu ibunya jualan telur, di pasar," sahut Pak Tejo.
"Hmmm, aku ingat dulu Wulan wajahnya manis, kalau sekarang wajahnya sudah seperti apa, ya?" gumam Damar.
"Damar, kita lagi membahas tentang nasib adikmu, kenapa pikiranmu malah ke arah Wulan?" protes ibunya.
Damar tersipu malu, "Aku penasaran wajah Wulan seperti apa sekarang, Bu."
"Mas Damar naksir Wulan paling, Bu!" celetuk Windarti yang melihat gelagat kakaknya yang aneh.
"Diam!" bentak Damar sambil memandang Windarti.
"Sekarang Ibu bingung, kenapa adikmu itu berbuat sejahat itu? Ibu malu sama orang-orang!"
Bu Tejo memandang Damar hampa, raut wajah Bu Tejo terlihat kusut, di usia yang sudah tidak muda lagi, ia di hadapkan masalah yang pelik.
"Aku minta maaf, aku salah, Bu, Pak! Mohon ampuni aku!" ucap Windarti pilu.
"Win, apa Pramono tahu kamu hamil?" tanya Damar.
"Mas Pramono sudah tahu, tapi ia tidak mau tanggung jawab, ia bilang kalau dirinya hanya mencintai Wulan, Mas!" tangis Windarti pecah setelah selesai bicara dengan Damar.
"Pramono kemaren, tidak bicara apa-apa denganku, dia terlihat biasa aja. Aku sungguh menyesal tidak bisa membaca gelagat Pramono, harusnya aku hajar saja dia karena berani main-main dengan adikku!" kata Damar, pandangan matanya menerawang jauh.
Windarti menunduk, ia ingat betul bila dirinya yang merayu Pramono agar mau tidur dengannya, rasa cintanya bertepuk sebelah tangan, jadi Windarti merayu Pramono agar mau dengannya. Walaupun Windarti tahu Pramono hatinya hanya untuk Wulan.
"Maafkan aku yang telah jatuh cinta padanya." suara Windarti bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
"Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu tega mengkhianati temanmu sendiri, kamu sungguh tega!" ucap Damar sembari mengusap wajahnya, "aku malu punya adik kayak kamu," imbuhnya.
"Sekarang kita harus bagaimana?" sela Bu Tejo.
"Aku tidak tahu, Bu! Aku juga bingung."
Damar berjalan mondar-mandir seperti setrika panas, hatinya gelisah dan juga bingung. Kedua orang tuanya juga sama, mereka bingung harus bagaimana menyingkapi masalah itu.
"Damar, kita harus menemui keluarga Pramono, kita harus minta tanggung jawab pada mereka!" kata Pak Tejo.
"Iya, Windarti harus menikah dengan Pramono, kalau Windarti tidak menikah dengan Pramono, kita akan malu besar, Pak! Muka kita akan di taruh di mana?" sahut Bu Tejo.
"Bapak, Ibu, kata Mas Pramono, bila aku ke rumahnya, aku akan mendapat malu saja. Mas Pramono sudah bilang menolak menikah denganku, ia akan pergi jauh dari sini, Mas Pramono bilang begitu," jelas Windarti dengan derai air mata.
Mendengar ucapan Windarti, Damar dan kedua orang tuanya memandang Windarti penuh tanda tanya, "Apa maksudmu?" tanya mereka hampir bersamaan.
"Mas Pramono menolak menikah denganku, dari pada menikah denganku dia lebih baik pergi dari desa ini," kata Windarti sambil menangis.
"Apa katamu? Jadi dia mau kabur?" tanya Damar, "dasar tidak tahu diri, kemaren ketemu denganku tapi bersikap seolah tidak ada masalah apa-apa, dasar kurang ajar!" lanjutnya.
Windarti menganggukkan kepalanya, ia terlihat sedih dan putus asa, "Aku minta maaf, aku bodoh telah mencintai seseorang yang tidak mencintai aku. Aku sungguh menyesal!" tangisnya kembali pecah.
Damar matanya merah menyala dibakar amarah, ia geram dengan sikap Pramono yang arogan, "Enak saja dia mau kabur dari tanggung jawab, dasar kurang ajar!"
Windarti mendekati Damar sambil memegang tangan Damar, dia berkata, "Tolong jangan berkelahi dengan Mas Pramono."
Damar memandang Windarti yang terlihat sangat khawatir, dari dalam matanya mengalir kristal bening. Damar dengan penuh kasih sayang mengusap pipinya Windarti.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku harap kamu tidak lagi memikirkan Pramono, hapus dia dari hidup kamu. Ngerti!"
"Insya Allah," jawab Windarti sambil menunduk sedih, "melupakan Mas Pramono? Mungkinkah itu?" lanjutnya.
"Harus! Kamu harus lupakan laki-laki tidak tahu diri itu, Win."
Windarti memandang Damar dengan pandangan mata yang sendu. Dalam hatinya menolak perkataan Damar yang meminta dirinya melupakan Pramono, sedangkan dirinya sekarang mengandung anak dari Pramono. Mungkinkah Windarti bisa melupakan Pramono?
Bersambung...