Melihat kemarahan Damar, Bu Tejo panik, ia takut Damar mengamuk, karena baru kali ini Damar terlihat murka. Wajah Damar merah bagai udang rebus.
Pak Tejo berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang, "Aku juga tidak terima anakku dibuat begini, aku akan penggal kepalanya Pramono kalau dia kabur dari tanggung jawab!"
Sekarang Bu Tejo jadi tambah bingung, karena bukan hanya Damar tapi juga Pak Tejo suaminya itu juga marah besar, "Aduh, aku harus bagaimana ini, aku takut akan ada pertumpahan darah karena mereka terlihat sangat murka," gumamnya.
"Mas Damar, Bapak! Tolong jangan sakiti Mas Pramono, aku sangat mencintai Mas Pramono!" pinta Windarti sambil bersimpuh di kaki Pak Tejo. Tangan Windarti satunya memegang celana Pak Tejo dan satunya memegang kaki Damar yang memang berdiri di samping Pak Tejo.
Di saat mereka semua diliputi amarah yang memuncak, tiba-tiba ada suara seorang pria dari luar pintu rumahnya.
"Assalamualaikum, ada orang di rumah! Juragan! Juragan ada di dalam?" suara pria itu terdengar jelas dari teras rumahnya.
Mereka saling pandang saling pandang "Siapa itu? Siapa yang bertamu?" tanya Bu Tejo.
"Mana juga Mbok Ijah sama Siti? Kenapa tidak ada yang keluar?" sahut Pak Tejo.
"Mbok Ijah sama Siti lagi keluar, Pak!" jawab Bu Tejo.
"Biar aku saja yang buka pintunya," kata Damar.
Damar lalu melangkah ke luar menuju pintu depan, Damar membuka pintu, nampak seorang pria dengan wajah panik menatap Damar ketakutan.
"Den Damar, maaf! Maaf sapi Aden lepas!" katanya dengan nada ketakutan.
"Lek Sukir, kalau sapinya lepas ya di tangkap sana! Kenapa malah lapor ke sini?" ketus Damar.
"Sapi Den Damar ngamuk di pasar! Aku takut, Den!"
"Kemaren sore sapinya lepas, sekarang lepas lagi, Lek Sukir bisa kerja, gak, sih?!"
"Ada apa?" suara Pak Tejo dari arah belakang Damar.
"Juragan, sapinya ada yang lepas satu Juragan!" jawab Lek Sukir.
"Serius? Kamu bisa kerja, gak!" bentak Pak Tejo.
"Sapinya paling lagi sakit, Juragan! Dari kemaren ngamuk di kandang! Tadi mau saya pindah, eh, malah lepas, juragan!" jelas Lek Sukir.
"Kalau gitu, cepat tangkap, sana!" bentak Pak Tejo.
"Ba-baik, juragan!" ucap Lek Sukir sambil berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Ya Allah, masalah apa lagi sekarang!" keluh Pak Tejo.
"Pak, aku mau bantu Lek Sukir tangkap sapinya," kata Damar.
"Sana, pergi! Jangan lupa, bawa juga Pramono ke sini, aku akan buat perhitungan dengannya!"
"Baik, Pak!" jawab Damar.
Damar lalu mengambil kunci yang ada di atas nakas di ruang tengah, sekilas ia menatap Windarti yang duduk bersimpuh di lantai, "Pergi dari situ! Masuk kamar, sana!" perintah Damar.
Windarti tidak menjawab ia hanya berdiri dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu, Damar lalu berpaling dan melangkah ke luar menuju garasi yang ada di depan rumahnya.
"Aku akan buat perhitungan dengan Pramono, tapi setelah aku urus sapiku yang ngamuk. Huh, sekarang tambah masalah baru lagi, kenapa juga sapi itu lepas, padahal kemarin sore baru saja main kejar-kejaran dengan sapi itu, huh! Jangan-jangan sapi itu kena penyakit sapi gila, lagi!" gerutu Damar.
Damar dengan kecepatan tinggi melaju menyusul orang-orang yang sedang mengejar sapi yang mengamuk, saat Damar sudah dekat dengan gerombolan orang-orang itu Damar berteriak pada Lek Sukir.
"Lek, aku bantu giring ke tempat pojok!"
"Iya, Den Damar!" jawab Lek Sukir.
Damar lalu membunyikan klakson sepeda motornya dan mencoba menakut-nakuti sapinya, tapi malah sapi itu semakin mengamuk menerjang ke sana ke mari. Damar lalu memarkir sepeda motornya di depan pasar.
Saat ini sapinya masuk pasar yang penuh orang-orang yang sedang berjualan dan banyak pengunjung pasar lari ketakutan. Mereka lari sembunyi karena takut kena terjang sapi yang lagi ngamuk.
Suasana pasar yang ada di desa itu kacau balau, sapi milik Damar berlari ke sana ke mari, banyak dagangan orang-orang yang di injak-injak oleh sapi itu, termasuk dagangan Wulandari.
"Dasar, sapi kurang ajar! Telurku pecah gara-gara kamu, tau!" gerutu Wulan sambil memukul sapi itu dengan sapu lidi yang ia pegang, tapi sapi itu malah membabi buta merusak semua dagangannya.
"Aduuuh, jangan di injak telurku!!" teriaknya sembari memukul p****t sapi yang lagi ngamuk itu.
Damar melihat gadis cantik pemberani yang sedang memukuli sapinya, ia segera menarik tubuh gadis itu agar tidak kena tendangan sapi.
"Jangan di pukul, kamu nanti kena tendang sapi!"
Marasa tubuhnya di tarik gadis itu pun meronta, "Ngapain pegang-pegang tubuhku, hah! Dasar kurang ajar!"
Sekarang gantian Damar yang di pukuli sapu lidi oleh Wulan, merasa tidak bersalah Damar pun kesal dengan sikap Wulan.
"Kamu itu sudah di tolong, malah mukulin aku, memangnya aku salah apa?"
"Kamu merasa tidak bersalah? Sekarang aku tanya, milik siapa sapi itu, hah! Yang lepas itu, sapi siapa?"
"Sapiku," jawab Damar sambil menunjuk mukanya sendiri.
"Wulan, jangan bertengkar dengan Den Damar, malu!" kata Lek Sukir.
"Dia ini, Wulan?" tanya Damar sambil memandang Lek Sukir.
"Iya Den, ini Wulan anak Pak Gatot, teman Non Windarti, Den!" jawab Lek Sukir.
"Ternyata Wulan cantik, juga! Pantesan Pramono tergila-gila pada Wulan," gumam Damar.
"Den, aku kejar sapinya dulu, ya!" kata Lek Sukir.
"Iya, sana pergilah!" kata Damar.
"Hei, yang punya sapi ngamuk!" sapa Wulan sambil berkacak pinggang.
"Apa, hah!" jawab Damar, 'nih, cewek cantik banget, gila! Ternyata di desaku ada permata secantik Wulan,' batinnya.
Wulan memandang sinis Damar, "Harusnya kamu jaga sapimu baik-baik! Sekarang ganti rugi kerusakanku. Lihat itu, semua telurku pecah!"
"Hei, gadis sombong! Sapi itu memang sapiku, tapi aku tidak pernah ajarkan ia lepas ke pasar. Ngerti!"
"Cepat ganti rugi!"
"Baiklah! Aku janji akan ganti rugi, tapi setelah aku pulang ke rumah dulu ambil uang, oke!"
"Baik! Lagi pula, aku tahu rumahmu!" sinis Wulan.
"Kalau begitu, kamu datang aja ke rumahku," jawab Damar.
Wulan berubah melunak sikapnya, ia lalu memandang Damar dengan senyuman ramah, "Maaf, aku tadi galak."
Damar tersenyum mendengar suara Wulan yang mulai pelan dan tidak marah-marah padanya, "Gitu dong, cantik."
"Aku memang cantik, wong aku perempuan, kalau laki-laki pasti ganteng."
"Wulan, aku minta maaf."
Melihat Damar yang terlihat bersalah, Wulan mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan sikap Damar, "Kenapa minta maaf?"
"Yang kesatu karena adikku, yang kedua karena sapi aku yang merusak dagangan kamu."
Wulan tersenyum manis semanis gula, melihat senyuman manis tersungging di bibirnya Wulan yang merah merona, Damar terpukau melihat kecantikan gadis itu.
"Andaikan saja kamu jadi milikku," gumam Damar.
Wulan sekilas mendengar Damar mengucapkan sesuatu, tapi tidak tahu apa itu, merasa penasaran, Wulan pun akhirnya bertanya, "Maaf, Mas Damar ngomong apa, sih?"
"Tit-tidak apa-apa, aku tidak ngomong apa-apa."
"Mas Damar baik-baik saja? Kenapa mukanya berubah jadi warna pink?"
Damar tersipu malu di depan Wulan, entah kenapa dirinya jadi salah tingkah di hadapan Wulan.
Bersambung...