"Kamu kira aku apa? Kenapa juga wajahku jadi warna pink?" Damar melebarkan pupil matanya sambil berkacak pinggang.
"Mana aku tahu? Kalau tidak percaya, lihat aja sendiri di cermin, Mas!"
"Masak, sih?" Damar penasaran dengan wajahnya.
"Iya, Mas," jawab Wulan.
Damar merogoh saku celananya, ia mengambil ponsel miliknya dan membuka layar monitor ponselnya, ia mengamati wajahnya di kameranya ponsel.
"Gak ada apa-apa, gini kok!"
Wulan menarik ujung sudut bibirnya, 'Aduh, cowok ini, bikin gemes aja. Pingin aku pukul pakai sapu lidi ini!' batin Wulan.
Damar lalu menutup layar monitor ponselnya dan memasukkan kembali pada saku celananya, "Ok, aku mau pergi dulu."
"Bentar, Mas. Ngomong-ngomong, aku sudah lama tidak lihat Windarti, apa dia kembali ke kampus?"
"Dia cuti kuliah," jawab Damar dengan nada sedih.
"Jaga adikmu dengan baik!"
"Baik. Terima kasih sudah perhatian pada adikku."
"Aku benci adikmu!" jawab Wulan sambil menghela nafas panjang.
"Maafkan adikku, Wulan."
Spontan Wulan memandang Damar dengan seksama, ia merasa kagum dengan kasih saya Damar pada adiknya, di dalam hati Wulan merasa tertarik dengan Damar yang penuh perhatian.
"Ehem, tes, tes, ehem!" suara Damar menggoda Wulan tatkala Damar melihat Wulan yang termenung.
Wulan tersenyum melihat kekonyolan Damar, untuk sementara hatinya terhibur melihat Damar dengan senyuman manisnya. Lesung pipit yang menghiasi pipinya Damar semakin membuat Damar manis dan menarik perhatian Wulan.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Damar memancing Wulan untuk ngobrol.
"Aku baru saja putus kemaren."
"Oh, gitu. Aku jomblo kok, mungkin minat sama aku!" goda Damar.
Wulan tertawa ringan mendengar ucapan Damar, "Mas Damar gak punya, pacar?"
"Belum laku, tuh!"
"Paling Mas Damar jual mahal, jadi cewek pada takut mendekat."
"Kalau kamu yang mendekat, aku pasti mau!" gombalan Damar membuat Wulan tersipu malu.
"Dasar nakal! Bisa-bisanya merayu di saat begini, hehehe!" tawa ceria Wulan membuat Damar terpesona.
"Kamu serius, sudah putus hubungan sama Pramono?" tanya Damar.
"Maaf, bila ada kesalahan adikku padamu," kata Damar tulus.
"Lupakan saja, aku sungguh tidak tahu bagaimana harus bersikap sekarang."
Damar ingin tahu hubungan Pramono dan Wulan sampai sejauh mana, "Kamu sama Pramono masih pacaran?"
Wulan terdiam, tiba-tiba wajahnya terlihat sedih, tangannya memegang keranjang bambu yang ia pegang dengan sangat erat. Damar merasakan kemarahan dalam diri Wulan.
"Eheem!" suara Damar membuat Wulan menatapnya.
Jantung Damar berdebar kencang saat pandangan matanya bertemu pandang dengan Wulan.
"Apa, hah?" Wulan melotot ke arah Damar.
"Gak apa-apa, aku cuman merasa serak tenggorokanku, "He-eh." jawab singkat Wulan.
"Asiiikkk, aku ada kesempatan buat deketin kamu, dong!"
"Apa-an, sih, Mas!" Wulan tersipu malu.
"Damaaaar!" suara teriakan Bethik sambil berlari ke arah Damar.
Damar yang sangat ia kenal suara itu lalu menoleh ke asal suara, "Haduh, Bethik ganggu wae," gumamnya.
"Sapi kamu lepas, malah kamu enak-enakan pacaran, haduuh!" kata Bethik saat sampai depan Damar.
Damar berdiri dari jongkoknya, Wulan juga ikutan berdiri dan tersenyum menyambut Bethik, "Mas Bethik apa kabar?"
"Baik, wong ayu. Kamu makin hari, makin cantik aja!" goda Bethik.
"Ah, Mas Bethik bisa, aja!" Wulan tersipu malu, pipinya menjadi merah muda mendengar ucapan Bethik.
Damar langsung menyela pembicaraan mereka, "Wes ayo pergi dari sini!"
"Ke mana?" jawab Bethik sambil melongo menatap Damar.
Damar memukul pelan ujung kepala Bethik, "Cari sapiku, dodol!"
"Oh, iya, aku lupa, hehehe!"
Wulan tersenyum melihat wajah Bethik yang memang terlihat lucu. Damar memandang Wulan yang tersipu malu dengan pipi yang merah merona warna pink membuat debaran jantungnya seakan ngajak disko.
'Aku rasanya jatuh cinta pada Wulan, haduh, gimana ini!' batin Damar.
"Ehemm! Ehemm!" Bethik berdehem menggoda Damar.
"Opo, toh!" kata Damar sambil memukul pelan kepala Bethik, "ayok, wes!" lanjutnya.
"Ayok!" jawab Bethik.
"Wulan, aku pergi dulu ya! Aku tunggu di rumah kalau mau minta ganti rugi."
"Iyah," jawab Wulan sembari tersenyum ramah menatap Damar.
Damar dan Bethik lalu pergi meninggalkan tempat itu, di depan pasar Damar melihat sekeliling mencari keberadaan sapinya.
"Lek Sukir tadi ke arah mana, ya?" tanya Damar pada Bethik.
"Lek Sukir ke arah selatan tadi. Damar, lagian sapi sering ngamuk kenapa gak di sembelih aja! Kemaren sore ngamuk, sekarang ngamuk! Jangan-jangan sapi kamu sudah gila, Dam!"
"Mana aku tahu, aku bukan dokter sapi."
"Hhmmm," Bethik terlihat cemberut.
Di saat Damar kebingungan memikirkan bagaimana caranya menangkap sapinya, tiba-tiba Lek Sukir dengan seorang pria paruh baya datang dari kejauhan dengan menuntun sapinya.
Damar segera berlari menyambut, "Alhamdulillah sapiku sudah tertangkap."
Orang-orang desa banyak yang mengawal sapi itu dari belakang, sapi besar dengan punuk bagaikan unta itu begitu penurut di tangan bapak tua itu.
Tangan Bapak tua itu mengelus tubuh sapi itu dengan kasih sayang, seolah sapi itu adalah anak kesayangannya, "Wes anak bagus, jangan nakal, yang nurut, ya!" ucap Bapak itu penuh kasih sayang.
Damar mendekat dan dengan sikap tubuh sedikit membungkuk, "Mohon maaf Pak! Saya sudah membuat Bapak repot. Terima kasih atas bantuannya."
"Tidak apa-apa, Damar. Hehehehe, sapi ini lagi tidak enak hati, dia gelisah karena pingin kawin."
"Kayak yang punya sapi, pingin cepetan kawin, hahahaha!" Bethik tertawa begitu mendengar ucapan pria itu.
"Bethik bisa diam, gak! Nanti tak pukul sandal baru tahu rasa!" bentak Damar.
Spontan Bethik diam dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Huh! Gitu aja marah!" gumamnya.
"Pak terima kasih," ucap Damar tulus.
"Iya, sama-sama. Damar, apa kamu sudah menikah?" tanya pria itu.
"Belum, Pak!" jawab Damar.
"Saya juga masih bujang!" sahut Bethik.
"Bapak gak tanya kamu," jawab Bapak itu, lalu pandangan matanya tertuju pada Damar, "Siapa namamu?" imbuhnya.
"Saya Damar, Pak!"
"Mau jadi mantuku?"
"Hah?" Damar melongo menatap pria itu.
Melihat Damar yang melongo, pria paruh baya itu tersenyum manis, "Bapak ini namanya Subroto, Bapak sudah banyak mendengar cerita tentang kamu dari keponakanku."
"Keponakan Bapak orang sini?" tanya Damar.
"Iya, itu rumah yang di depannya ada pohon sawo besar," kata Pak Subroto sambil menunjuk ke arah sebuah rumah besar bergaya Jawa kuno yang masih asli.
Damar termenung memikirkan ucapan pria itu, "Bapak ini aneh? Baru kenal sudah bilang begitu, hehehe!' batinnya.
"Hei, melamun aja!" tegur Bethik yang melihat Damar terdiam mendengar ucapan orang itu.
"Aku tidak kenal dengan Bapak, tapi kenapa Bapak bicara begitu?" bisik Damar ke telinga Bethik.
"Damar, berarti Bapak ini tahu, kalau kamu itu bibit unggul. Siapa yang tidak mau jadi mertuanya Damar Adiyatma Diningrat, hehehe!" goda Bethik.
Pria paruh baya itu tersenyum mendengar ucapan Bethik, "Bapak ini punya anak gadis satu-satunya, jadi sebagai orang tua Bapak ingin mencari calon suami yang terbaik untuk anakku," jelasnya.
"Mohon maaf, rumah Bapak ada di mana? Maaf saya belum pernah melihat Bapak di desa ini," tanya Bethik.
"Bapak tamu di desa ini, Bapak ke sini menjenguk keponakan Bapak yang tinggal di sini."
"O gitu, pantas saja saya tidak pernah melihat Bapak di daerah ini."
"Kamu kenal Dirjo yang rumahnya dekat pohon sawo besar itu?" tanya pria itu.
"Kenal, Pak! Pak Dirjo Bapaknya Pramono teman saya," jawab Bethik.
"Oh, jadi kalian teman Pramono?"
"Betul," jawab Bethik.
Pria itu tersenyum menatap Damar, tapi Damar tidak terlalu perduli dengan pria itu, yang antusias menjawab adalah Bethik. Damar cuek ia merasa kalau pria itu aneh, bagaimana tidak aneh, baru kenal sudah meminta dia jadi mantunya.
Bersambung...