Merasa Bersalah

1129 Kata
"Dirjo itu keponakanku, aku ini keluarga Dirjo dari pihak ibunya. Ngomong-ngomong, Bapak capek berdiri terus sambil memegang tali sapi kamu ini," senyuman kecut terlihat di bibirnya. Sapi yang berbadan besar dan berwarna putih itu sudah tenang dan kembali jinak di tangan Pria itu, entah mantra apa yang di rapalkan orang itu sehingga sapi yang mengamuk bisa dengan mudah takluk di tangannya. Lek Sukir maju dan mengambil tali kekang sapi itu, "Sini aja, Pak! Saya yang pegang sapinya." "Oh, ini silahkan! Sapi kamu sekarang sudah tenang, di bawa pulang aja dan kasih minum air dari dedak biar sapinya segar kembali," kata pria itu. Damar lalu meminta Lek Sukir membawa sapi itu pulang. "Lek, bawa pulang ke rumah jangan sampai lepas lagi," kata Damar. "Baik, Den!" jawab Lek Sukir. Sapi besar itu lalu di bawa pergi oleh Lek Sukir. Orang-orang juga pada pergi semua, mereka kembali kepada aktivitas semula. "Nak Damar, monggo mampir ke rumah Dirjo, kita bisa ngobrol di sana dengan enak," kata Pria itu. "Bapak namanya siapa?" sela Bethik. "Bapak namanya Subroto, tapi biasa di panggil Pak Broto." "Ooo, Pak Subroto, eh, Pak Broto!" kata Bethik. Pak Broto selalu memandang Damar dengan rasa kagum, tapi sepertinya Damar cuek dan tidak peduli dengan pandangan mata Pak Broto, dalam pikiran Damar ia ingin segera pergi dari tempat itu dan mencari Pramono. "Maaf, Pak! Saya harus pergi dari sini, saya masih ada keperluan lain," kata Damar. "Damar, kalau mau jual sapimu tadi, kamu bisa hubungi Bapak!" kata Pak Broto. "Mohon maaf, Pak! Kalau mau beli sapi, hubungi bapakku saja," jawab Damar datar. "Baiklah, aku akan beli sapimu, kebetulan aku juga cari sapi untuk persiapan hari raya Qurban." "Silahkan, saya hubungkan ke Pak Tejo nanti, Pak!" sahut Bethik. "Betul sekali, Pak! Betul kata teman saya ini, kalau misal Bapak berminat dengan sapi saya, silahkan nanti diantar sama Bethik ke rumah saya," kata Damar. Raut wajah Pak Broto spontan berubah saat mendengar ucapan Damar, "Aku mau kamu yang ngantar Bapak ke rumah kamu." "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak! Mohon maaf saya masih ada keperluan penting, Pak! Silahkan nanti diantar sama Bethik aja, ya!" "Lain kali aja! Bapak juga masih ada keperluan," jawab Pak Broto. "Mohon maaf, ya Pak!" Damar menangkup kedua tangannya didepan dadanya dan sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada Pak Broto. "Damar, aku suka sama kamu, kalau kamu masih sendiri, kamu mau jadi menantuku?" tanya Pak Broto. "Widiih, mantap kali kamu, gaes! Kamu dapat lamaran nikah," bisik Bethik. "Diam, kamu!" balas Damar. "Hehehehe, kamu pasti heran dengan ucapan Bapak. Jangan khawatir, anak Bapak cantik, jadi kamu tidak akan kecewa." Damar tersipu malu mendengar ucapan Pak Broto, "Maaf, saya sudah punya kekasih, Pak!" "Pikirkan aja dulu, jangan di jawab sekarang." "Orang ini hebat sekali. wah betul-betul hebat! Baru kenal sudah minta kamu jadi mantunya, ck, ck, ck," bisik Bethik di telinga Damar. "Jangan bercanda, aku lagi tidak ingin bercanda," jawab Damar sambil melotot ke arah Bethik. "Pikirkan aja dulu," kata Pak Broto. "Siap Pak! Mohon maaf saya permisi dulu." jawab Damar. "Iya silahkan!" "Saya juga mohon pamit, Pak!" kata Bethik. "Aassalamualaikum!" kata Damar. "Wa alaikum salam!" jawab Pak Broto sambil menganggukan kepalanya sambil tersenyum menatap Damar. 'Anak muda yang tampan dan sopan, aku sangat suka, aku berharap Gendhis mau bila aku jodohkan dengan anak baik itu,' kata Pak Broto dalam hati. Damar lalu pergi dari tempat itu, ia berjalan menuju ke tempat sepedanya yang di parkir dekat situ, Bethik mengikuti dari belakang, Damar memandang ke arah Bethik, "Kenapa mengikutiku?" "Mau ikut, kamu!" "Aku lagi sibuk, Thik! Besok saja kalau mau ikut aku, kalau sekarang jangan ikutin, aku!" "Hmm, oke!" Damar menatap heran Bethik yang masih berdiri tegak di sampingnya, "Bethik, ngapain kamu masih, di sini?" "Aku lagi mikirin sapimu, ngomong-ngomong sapi kamu itu aneh, ya! Kenapa juga pakai kabur ke pasar? Apa mau beli dawet, di pasar?" "Mana aku tahu, aku bukan sapi," jawab Damar kesal. "Kali aja kamu tahu bahasa sapi, hehehe!" "Bethik super kepo! Aku orang, mana aku tahu pemikiran sapi, mungkin sapi ke pasar cari bininya?" Bethik tertawa terkekeh, "Damar, ternyata kamu bisa ngelawak juga!" Damar dengan cuek memakai helmnya dan duduk di atas sepeda montornya, Bethik heran dengan Damar yang selalu bersikap sederhana, padahal ia orang terkaya di desa itu. Damar selalu pakai sepeda motor padahal punya mobil di rumahnya. "Damar, kamu gak pernah pakai mobilmu? Kalau pakai mobil, kan enak, gak kena panas." "Cuman muter-muter di desa aja, kenapa harus pakai mobil, enakan juga pakai sepeda motor. Awas, minggir!" "Ngomong-ngomong kamu mau ke mana, sih?" "Aku mau mencari Pramono, kamu lihat, nggak?" "Aku gak lihat, tuh! Aku belum lihat Pramono," jawab Bethik. "Ya udah, minggir aku mau lewat!" "Oh iya, tunggu! Kenapa kamu tidak tanya siapa Pak tua tadi? Orang itu kan, masih keluarganya Pramono," kata Bethik. "Ya salam, aku gak mikir sampai sana." "Padahal, Pak Broto tadi sudah bilang kalau Pak Dirjo itu keponakannya." "Aku gak kepikiran ke arah sana," jawab Damar. "Tapi kamu ada perlu apa kamu cari Pramono? Kelihatannya, penting!" tanya Bethik. "Aku ada urusan penting sama Pramono, kamu nggak usah ikut campur. Sana pergi!" hardik Damar seraya pergi melesat mengendarai sepeda motornya. Sambil berkacak pinggang, Bethik memandang kepergian Damar dengan rasa heran, "Ada apa antara Pramono dan Damar, sepertinya ada masalah yang serius di antara mereka berdua," gumamnya. Bethik lalu mau meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba ada suara wanita yang memanggilnya, "Mas Bethik!" Bethik lalu menoleh ke arah asal suara itu, nampak Wulan yang sedang berlari ke arahnya, "Mas, tolong bantu aku!" "Bantu apa?" jawab Bethik. "Mas Bethik tau di mana Mas Pramono?" "Kenapa hari ini, pada nyari Pramono, sih? Damar baru saja mencari Pramono dan sekarang kamu. Emangnya ada apa sih?" "Mas Damar sedang mencari Mas Pramono?" tanya Wulan keheranan. "Iya. Kenapa, sih?" "Gawat, kita harus menyusul Mas Damar!" kata Wulan yang terlihat panik. "Memangnya, ada apa sih? Aku kok, bingung!" "Gak usah bingung, nanti aku jelaskan, sekarang ayo kita susul Mas Damar." "Iya, iya!" Bethik menurut aja saat digandeng oleh Wulan. "Tunggu dulu, emangnya kita mau jalan kaki?" tanya Bethik saat Wulan berjalan sambil memegang tangan Bethik. Wulan menepuk jidatnya, ia lupa kalau tadi dirinya bawa sepeda motor, "Aku bawa sepeda motor." "Aku juga bawa, gaes!" kata Bethik. "Terus gimana? Kita sama-sama bawa sepeda motor?" Bethik menatap Wulan penuh tanya. Ia juga bingung harus bagaimana, dalam hati sebetulnya ingin Wulan naik sepeda motor bersama dirinya. 'Kapan lagi bisa boncengan sama gadis cantik,' batin Bethik. Wulan berhenti dan berdiri di samping sepeda motornya, ia lalu mengunci setir sepeda motornya lalu berjalan ke arah Bethik. "Pakai sepeda motor kamu aja, lagian sepedaku sudah tua, siapa juga yang mau ambil. Ayuk, berangkat!" "Ok, kalau begitu!" jawab Bethik sambil menghidupkan mesin sepeda motornya. Wulan bonceng di belakang, ia sudah duduk sempurna di atas sepeda motor Bethik, "Ayok Bethik, cepat kejar Mas Damar!" "Wookee!" jawab Bethik. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN