Damar mencari Pramono ke rumahnya, tapi rumah Pramono sepi tidak terlihat ada penghuninya. Damar terus mencari dan bertanya di mana keberadaan Pramono, tapi nihil. Pramono hilang seperti ditelan bumi.
"Andai saja aku tahunya itu kemaren, aku pasti bisa mencegah dia kabur, dasar sial! Padahal baru kemaren Pramono kumpul bareng aku di pos ronda, tapi sekarang dah ngilang!"
Damar terus menggerutu di sepanjang jalan menuju rumahnya, dalam perjalanan pulang, Damar bertemu Bethik sama Wulan yang sedang naik sepeda motor. Bethik yang melihat Damar lewat di jalan langsung putar balik mengejar Damar.
Sepeda motor mereka berjalan beriringan di jalan raya, Bethik membunyikan klakson agar Damar melihat ke arahnya.
"Wooii, ayo minggir, dulu!" teriak Bethik.
Damar mengerti akan isyarat Bethik dan segera menepi dan memarkir sepeda motornya di pinggir jalan. Mereka lalu turun dari sepeda motor dan mengobrol.
"Sudah ketemu Pramono apa belum?" tanya Bethik.
"Belum. Aku tidak tahu ke mana lagi aku harus mencari Pramono, rumahnya tertutup dan sepi sepertinya mereka keluar semua."
"Mas Damar, aku bisa bicara sebentar, denganmu?" kata Wulan, "aku ingin bicara berdua saja, soalnya ini penting," lanjutnya.
"Oke!" jawab Damar.
Bethik yang mendengar ucapan Wulan, merasa dirinya seperti penghalang di antara mereka berdua, jadi Bethik memilih untuk pamit, "Damar, aku pulang dulu, ya! Aku tidak mau jadi nyamuk buat kalian."
"Oke, sana pergi, ganggu aja!"
Damar sambil terkekeh, dengan muka masam Bethik berlalu pergi, sepeda motornya melaju kencang di jalan raya meninggalkan Damar dan Wulan yang sedang berdiri di pinggir jalan.
"Oke, kamu mau ngomong apa?" kata Damar.
"Mas, aku tahu alasan kenapa Mas Pramono pergi," kata Wulan.
"Jadi, kamu tahu soal adikku dan Pramono?"
Wulan menganggukan kepalanya, "Aku tahu, Windarti sudah cerita, kemaren."
"Maafkan, adikku! Dia masih lugu."
Wulan tersenyum sinis. "Windarti temanku sejak kecil, tapi semenjak aku dekat sama Mas Pramono, ia berubah ketus padaku."
Wajah Wulan terlihat sedih, Damar merasa tidak enak hati, karena adiknya yang telah membuat Wulan patah hati.
"Maaf, aku sungguh minta maaf atas nama adikku aku meminta maaf padamu."
"Yang membuatku sedih bukan itu. Aku sedih karena Windarti sekarang dalam keadaan sulit, aku kasihan padanya."
"Wulan, hatimu begitu baik, kamu pasti akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Pramono."
"Aku sudah merelakan semuanya, aku juga sudah memaafkan Windarti."
"Aku heran kenapa kamu sampai pacaran dengan Pramono? Apakah kau tidak tahu kalau Pramono itu anak yang suka main perempuan?"
"Aku tidak tahu, aku tidak punya banyak teman untuk bertanya, aku juga tidak pernah bermain-main selayaknya seorang anak muda. Waktuku banyak aku habiskan untuk membantu orang tuaku."
"Kamu gadis yang sangat baik dan juga cantik!"
Wajah Wulan merona merah, pipinya berubah warna menjadi warna pink karena malu, "Mas, tolong antar aku pulang, ya! Aku takut dicari ibuku, karena sudah dari tadi aku keluar rumah."
"Wulan tunggu, dulu! Siapa saja yang tahu kalau adiku sedang hamil?"
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya cuman aku, adikmu dan juga Mas Pramono."
"Baiklah! Aku minta tolong rahasiakan kehamilan, adikku. Tolong kasihani adikku, jangan sampai orang-orang tahu. Aku mohon!"
"Mas, Windarti itu sudah seperti adikku sendiri, walau dia telah menyakiti perasaanku, tapi aku tetap sayang karena dia sudah seperti adikku kandungku."
"Tolong jaga rahasia ini, ya!"
"Baik!" jawab Wulan sembari tersenyum manis.
Jantung Damar berdebar kencang meloncat ke sana ke mari, jantungnya seakan sedang disko saat melihat senyuman manis Wulan, 'Ya Allah, aku sepertinya jatuh cinta pada Wulan, semoga aku bisa memilikinya,' batin Damar.
"Mas ..." panggil Wulan.
"A-apa, Dik," jawab Damar gelagapan.
"Ayo antarkan, aku pulang!"
"I-iya," jawab Damar terbata-bata, ia salah tingkah di depan Wulan saat mereka beradu pandang.
"Aku antar pulang, naiklah ke sepedaku."
Wulan tiba-tiba teringat dengan sepeda motornya yang ia parkir di tepi jalan tadi, "Mas, bukan pulang ke rumah, tapi antar aku ke jalan dekat rumah Pak Dirjo karena sepedaku ada di sana."
"Ok, naik aja dulu ke sepedaku, jangan lupa pegangan yang erat, aku takut kamu nanti jatuh."
"Iya, Mas!" jawab Wulan.
Mereka berdua lalu naik sepeda motor menuju ke tempat sepeda motor Wulan parkir.
****
Tanpa terasa sudah satu minggu berlalu, Damar terus mencari Pramono tapi tetap tidak ketemu. Orang tuanya bilang kalau Pramono telah pergi ke kota Padang untuk merantau mencari nafkah.
Saat Damar ke rumah Pramono dan mencari tahu tentang Pramono, ternyata orang tua Pramono tidak tahu kalau Pramono telah menghamili adiknya.
Keluarga Damar ingin menutup rapat rahasia kehamilan Windarti, tapi apa itu mungkin?
Mereka dihadapkan pilihan sulit, kalau berkata jujur pada keluarga Pramono, maka orang-orang akan tahu kalau Windarti telah hamil di luar nikah. Sedangkan Pramono telah pergi tidak mau bertanggung jawab.
Keluarga Damar memilih pilihan yang sulit yaitu diam dan mengubur semua masalah Windarti untuk mereka sendiri. Selama orang-orang yang tahu rahasia kehamilan Windarti tutup mulut, maka Windarti akan aman.
Sore itu keluarga Damar berkumpul di kamar Windarti, sejak Windarti hamil, ia di larang untuk keluar kamarnya. Saat ini mereka sedang merundingkan suatu cara yang bisa membuat Windarti bisa menutupi kehamilannya.
"Pak, bagaimana sekarang?" tanya Bu Tejo.
"Aku lagi mikir Bu!"
"Andai saja aku punya istri, pasti aku yang akan merawat anak itu sebagai anakku."
Pak Tejo langsung berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Damar dan memegang bahunya, "Kamu memang hebat!"
"Hebat apanya? Apa maksud Bapak?"
"Bu, ucapan Damar tadi membuat aku berpikir bagaimana caranya kita keluar dari masalah ini."
"Pak, aku tidak mengerti apa yang Bapak maksud?"
"Iya, aku juga tidak mengerti maksud Bapak?" sahut Damar.
Pak Tejo lalu duduk di atas kasur di kelilingi anak dan istrinya. Wajahnya terlihat bersemangat, "Dengarkan, Bapak, ya! Ini cara terbaik untuk keluar dari masalah ini."
"Iya Pak, aku dengar ini. Ayo cepat ngomongnya."
"Begini, kita carikan Damar istri yang mau merawat anak Windarti, gimana?"
"Itu sulit, Pak! Mana ada wanita yang mau berkorban untuk membantu kita menutupi kehamilan Windarti, Pak!"
"Bu, jangan dulu putus asa seperti itu. Ayo semangat! Bapak yakin pasti ada wanita yang mau menikah dengan Damar dan mau membantu kita untuk keluar dari masalah ini."
"Maafkan aku, maaf, gara-gara aku, semua keluarga menjadi susah!"
"Sudahlah, semuanya sudah terlanjur sekarang kita harus mencari wanita yang mau menikah dengan Damar," kata Pak Tejo.
"Pak, tolong lamar Wulan untukku!" kata Damar spontan membuat kedua orang tuanya menatap tajam Damar.
"Wulan, anaknya Pak Gatot?"
"Iya, Pak!" jawab Damar.
"Mas, mana mungkin Wulan mau, Mas! Aku yang membuat Wulan menderita, aku pula yang merebut pacarnya. Bagaimana mungkin dia mau masuk ke dalam keluarga kita?" kata Windarti.
"Aku mau Wulan yang jadi istriku," tegas Damar.
"Damar, apa mungkin Wulan mau menikah denganmu? Kamu juga tahu kalau Wulan telah dikhianati oleh adikmu," kata Bu Tejo.
"Iya, Mas! Jangan pilih Wulan, ya Mas!"
Damar memandang adiknya tajam. "Jangan mengaturku! Semua kekacauan ini kamu yang mulai, tau!"
Windarti tiba-tiba bersimpuh di bawah kakinya, "Jangan Wulan, Mas! Aku takut sama Wulan, Mas! Aku juga malu ketemu sama Wulan, tolong cari yang lain saja!"
"Minggir, singkirkan tanganmu! Aku cuma mau Wulan yang jadi istriku. Titik!"
Semua diam mendengar ucapan Damar yang tegas, Damar lalu berjalan ke arah pintu kamar dan keluar begitu saja dari kamar Windarti.
"Enak saja suruh cari wanita lain!" gerutu Damar.
Bersambung...