Kedatangan Tamu Istimewa

1094 Kata
"Aku capek mikir, aku mau istirahat," kata Damar pada dirinya sendiri. Damar setelah keluar dari kamar Windarti, ia hendak rebahan di sofa sambil nonton tv. Tapi baru saja dirinya ingin duduk, tiba-tiba ada suara wanita yang mengucapkan salam di depan pintu rumahnya. "Assalamualaikum, ada orang di rumah? Halo, assalamualaikum!" suara wanita itu terdengar jelas. "Wa alaikum salam," jawab Damar yang kebetulan ada di ruang tamu. "Aduuh, siapa, sih? Mau istirahat sebentar aja, kok, sulit!" rutuk Damar. Memang sejak Windarti hamil, semua pembantu di liburkan selama satu bulan mendatang, jadi rumah Damar sepi tanpa ada orang lain, selain dirinya, Bu Tejo, Pak Tejo dan Windarti. Semua itu dilakukan agar tidak ada orang lain yang tahu akan kehamilan Winarti. Jadi keluarga Damar menginginkan semua rahasia itu tertutup rapat di dalam rumah Damar. Damar berjalan ke arah pintu rumah dan membukanya, alangkah bahagia hati Damar saat melihat Wulan dan Ibunya sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Damar sejenak diam terpaku seakan tidak percaya pada penglihatannya. 'Alhamdulillah, barusan saja aku bicara tentang Wulan dan sekarang Wulan sudah ada di depanku. Apakah ini jodoh?' batin Damar berbunga-bunga. "Damar, Bapakmu, ada di rumah?" tanya Bu Gatot. "A-ada Bu! Bapak ada di rumah, kok!" "Aku ada perlu sama orang tuamu." "Monggo, silahkan, masuk!" kata Damar. "Terima kasih!" jawab Bu Gatot, walau wanita itu sudah tua, tapi raut wajah cantiknya masih terlihat. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah Damar, sekilas nampak wajah Wulan yang terlihat sedih. Damar mencoba membuka obrolan, "Wulan, apa kabar?" "Alhamdulillah, aku baik!" "Mari silahkan, duduk!" kata Damar. Setelah duduk, Bu Gatot memandang sekeliling ruangan dan mengernyitkan keningnya, "Damar, ke mana Mbok Ijah sama Mbak Siti, kok nggak kelihatan?" tanyanya. "Mbak Siti dan Mbok Ijah mereka cuti pulang kampung," jawab Damar. Bapak dan ibunya Damar mendengar ada tamu dan mengenali suara itu, mereka pun keluar dari dalam kamar dan menyambut mereka di ruang tamu. "Eh, Bu Gatot dan Nak Wulan, apa kabar? Nak Wulan sudah jarang ke sini, ya?" sapa Bu Tejo. "Maaf Bu, saya repot di rumah jadi saya jarang main ke sini." Damar terkagum-kagum dengan kecantikan Wulan yang alami, apa lagi senyum Wulan yang manis bagai madu murni, di waktu Damar larut dalam lamunan, ibunya menepuk pundaknya, "Sana duduk! Bengong aja!" Damar tersipu malu, wajah Damar merah seperti udang rebus, membuat Wulan tersenyum sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Mohon maaf Bu Tejo, saya ke sini mau minta ganti rugi, karena dagangan saya hancur di injak-injak oleh sapinya Damar." "Iya, kami sudah berjanji untuk ganti rugi," kata Bu Tejo. Damar hanya menyimak pembicaraan mereka, pandangan matanya sesekali tertuju pada Wulan, 'Ya Allah, cantiknya Wulan, aku sungguh jatuh cinta pada Wulan, mungkinkah Wulan mau menerima cintaku?' batinnya. Sedangkan Wulan hanya diam menunduk, ia tidak berkata sepatah katapun, sikap Wulan itu membuat Damar penasaran dengan Wulan, tapi Damar tidak berani memulai pembicaraan dengan Wulan. "Aku ke sini karena sapi kamu yang menghancurkan daganganku!" ketus Bu Gatot membuat Bu Tejo menunduk malu. Bu Tejo lalu menatap Bu Gatot. "Bu Gatot, kami minta maaf atas kesalahan kami, kami siap untuk ganti rugi." "Berapa juta kami harus ganti rugi?" sahut Pak Tejo. "Aku minta lima juta untuk ganti rugi kerusakanku," jawab Bu Gatot. "Baik, Bu! Tunggu sebentar saya akan ambilkan uangnya." Bu Tejo lalu berdiri dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah, ia hendak mengambil uang buat Bu Gatot. Mendengar suara Wulan, Windarti keluar ke ruang tamu. Wajah Windarti nampak kusut dan pucat, Wulan kaget melihat perubahan besar dari Windarti. Di ruang tamu suasana nampak sedikit kaku dan canggung, Windarti duduk di lantai di sudut ruang tamu, ia tidak berani mendekati Wulan dan juga ibunya. Damar duduk sambil memainkan pulpen yang ia pegang, ia sesekali melirik ke arah Wulan, gadis cantik yang telah mencuri hatinya itu, tak melihat dirinya, walau ada di depannya. Wulan hanya menunduk dan sesekali ia melirik ke arah Windarti. "Ehemm!" suara dehem Pak Tejo membuat semua orang terkejut lalu saling pandang. "Aduh, Pak Tejo ini bikin kaget aja!" kata Bu Gatot. "Maaf, Bu! Tenggorokan saya gatal," kata Pak Tejo, ia berbohong pada Bu Gatot. Sebetulnya ia hanya ingin mencairkan suasana di antara mereka. "Maaf, silahkan di minum, Bu!" kata Damar sambil menyodorkan gelas air meneral. Bu Gatot lalu meraih gelas itu lalu meminumnya, "Alhamdulillah," ucapnya. "Haus ya Bu!" goda Damar. "Tentu saja haus, saya barusan saja selesai membersihkan lapak tempatku berjualan di pasar." "Coba saya jadi mantunya, pasti saya bantu, Bu!" sindir Damar. Bu Gatot memandang tajam Damar yang barusan bicara, "Hmm, semua ini gara-gara kamu, satu minggu ini, aku sibuk benahi lapakku di pasar yang rusak." "Maafkan saya, Bu! Boleh hukum saya jadi menantu Ibu, hehehe!" goda Damar. "Memangnya kamu mau jadi, mantuku?" "Mau banget, Bu!" jawab Damar penuh semangat. "Bu Gatot, Damar kayaknya naksir sama Wulan, kalau Jenengan berkenan, kita bisa besanan," kata Pak Tejo. "Ehemm!" Bu Tejo masuk ke ruangan sambil berdehem. "Bu Gatot, saya akan ganti rugi semua kerusakannya, bahkan, aku akan kasih lebih uangnya, tapi sebelumnya saya ingin tahu, apa Bu Gatot tahu masalah Windarti dan Wulan?" tanya Pak Tejo. "Saya sudah tahu, tapi saya dilarang bicara pada orang lain oleh Wulan," jawab Bu Gatot. "Terima kasih sudah tutup mulut, Bu!" sahut Bu Tejo. "Tapi, harga tutup mulut itu mahal, lo!" sindir Bu Gatot. Mulut Bu Gatot terlihat mencibir. Bu Tejo merasa risih dengan ekspresi wajah Bu Gatot, tapi ia tahan. "Kalau begitu, maukah Bu Gatot besanan dengan kami?" "Hah! Besanan? Apa maksud Bu Tejo?" "Kami akan berikan apa pun permintaan Bu Gatot asalkan, Bu Gatot tutup mulut dan mengijinkan Wulan untuk menikah dengan Damar. Bagaimana Bu?" "Tawaran yang menarik!" jawab Bu Gatot sambil tersenyum sinis. Wanita serakah itu, pikirannya dipenuhi oleh harta benda dan juga kekuasan. "Maaf, Bu! Apa arti semua ini?" tanya Wulan sambil memandang Bu Tejo. "Kami memintamu untuk menikah dengan Damar. Apa, kamu setuju, Nak?" tanya Bu Tejo. "Berikan saya waktu, untuk berpikir," jawab Wulan lirih. "Wulan, apa lagi yang kamu pikirkan? Damar pemuda baik-baik, kamu akan sangat bahagia bila kamu menikah sama Damar," sahut Bu Gatot. "Menikah bukan masalah sepele, Bu!" kata Wulan sambil memandang ibunya dengan mata melotot. Bu Gatot lalu berbisik di telinga Wulan, "Jangan, bodoh! Kalau kamu menikah dengan Damar, kamu akan menjadi nyonya rumah ini, ngerti?" "Tapi, aku-" ucapan Wulan terhenti saat jari tangan Bu Gatot menutup mulutnya. "Ehemm! Maaf Wulan, kami bisa minta tolong padamu," tanya Bu Tejo. Wulan memandang Bu Tejo penuh rasa heran, "Apa itu, Bu?" "Ada apa, sih, Bu?" sahut Bu Gatot. Keningnya mengkerut memikirkan ucapan Bu Tejo. "Aku mau meminta sesuatu pada Wulan," kata Bu Tejo. 'Aduh, kira-kira Bu Tejo mau minta tolong apa ya?' batin Wulan. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN