Penyesalan yang Datang Terlambat

1175 Kata
Suasana sejenak hening menunggu Bu Tejo untuk melanjutkan bicaranya. Bu Gatot nampak tidak sabaran ingin segera mendengar ucapan yang belum selesai Bu Tejo ucapkan. "Bu Tejo, ada apa sih?" desak Bu Gatot. "Sabar, Bu! Tunggu Ibuku bernafas dulu." kata Damar. "Aiish, kamu itu bikin Ibu kesal, ya!" kata Bu Gatot sambil memandang Damar tajam. "Aku memangnya salah, apa?" jawab Damar tanpa dosa. "Kalau ngomong itu pelan-pelan, Damar!" Damar menggaruk-garuk kepalanya, ia merasa dari tadi bicaranya pelan, tapi kenapa malah kena marah. "Maaf kalau saya salah." "Begitu baru benar, bicara dengan orang tua harus pelan dan hormat, ngerti!" Damar mengangguk perlahan, Wulan tersenyum melihat wajah Damar yang ditekuk karena dibentak ibunya, "Kasihan kena marah, dasar bocah bandel." "Aku tidak salah, kenapa dibentak?" balas Damar. "Tuh, bantah lagi. Dasar bandel!" Wulan ikutan bicara. "Aku bandel, tapi bikin gemes," balas Damar lagi. "Gemes dari mana? Idiih, sok imut!" "Aku memang imut, tau!" Damar menjawab ejekan Wulan. "Sudah jangan bercanda, Damar!" kata Pak Tejo. "Sudah, ya! Ibu mau bicara serius!" tegas Bu Tejo. Suasana ruangan tiba-tiba mencekam. Mereka semua terdiam mendengar ucapan Bu Tejo, Windarti tertunduk sedih di ujung ruangan, ia tidak berani mendekati mereka. Bu Tejo memandang Windarti lalu melambaikan tangan ke arah Windarti. "Windarti, tolong sini!" panggil Bu Tejo. "Ayo, duduk sini! Kamu kenapa duduk di bawah begitu? Nanti kamu masuk angin, lo!" sahut Bu Gatot. "Windarti, apa yang kamu lakukan, Nak! Ayo sini!" seru Pak Tejo sembari melambai ke arah Windarti yang duduk di lantai sambil bersandar di dinding. Windarti menatap Pak Tejo dengan perasaan hati yang campur aduk, ia takut mendekati tempat duduk mereka terlebih ada Wulan dan ibunya yang duduk di kursi itu dengan pandangan sinis. Dengan langkah gontai Windarti mendekat dan duduk di kursi sofa yang ada di ruangan itu. Dalam benaknya terbayang kisah satu minggu yang lalu saat Wulan datang ke rumahnya dengan hati riang, tapi pulang dengan hati hancur. Windarti merasa sangat berdosa, karena telah menghianati persahabatan mereka. Windarti masih terbayang jelas saat Wulan bercerita tentang kisah asmaranya dengan Pramono pacarnya. Waktu itu Wulan datang dengan wajah ceria. "Win, kamu tahu gak! Mas Pramono tadi pagi ke rumah, ia bilang mau melamarku," kata Wulan penuh semangat kala itu. Windarti sangat terkejut, "Mas Pramono, mau melamarmu?" "Kamu kok, terkejut? Biasa aja kalee!" sindir Wulan. "Kamu serius? Mas Pramono mau melamarmu?" "Iya, Win! Mas Pramono bilang begitu. Kenapa? Kamu, kok, jadi aneh?" "Tidak apa-apa, aku hanya kaget saja, kenapa begitu cepat Mas Pramono mau melamar kamu?" ucap Windarti dengan suara bergetar menahan kesedihan. Hati Windarti kesal, bagaimana bisa Pramono mau melamar Wulan, sedangkan dirinya saat ini sedang mengandung anak Pramono, kalau Pramono menikah dengan Wulan, terus nasib anak yang di kandungannya bagaimana? "Win, kamu kok bengong, sih?" tegur Wulan. "Oh, maaf aku lagi memikirkan sesuatu. Ayo lanjutkan ceritamu tadi," kilah Windarti, ia berbohong untuk menutupi kegelisahan hatinya. Wulan pun melanjutkan ceritanya, "Win, aku senang, soalnya Mas Pramono akan melamarku dan berjanji selalu setia padaku!" "Hueeekk! Hueeekk! Tiba-tiba saja Windarti merasa mual dan ingin muntah, ia lalu berlari ke arah kamar mandi. Wulan lalu mengikuti Windarti dari belakang. "Kamu kenapa?" tanya Wulan. Windarti tidak menjawab, ia terus mengeluarkan isi perutnya yang terasa mual. "Hueeekk! Hueeekk!" "Kamu masuk angin, kah?" tanya Wulan. "Gak tahu. Aduuh, perutku mual terus, Lan!" "Sudah? Ayo sini, kalau sudah!" Wulan menuntun Windarti ke pingir tempat tidurnya, Wulan memijit pundak Windarti. Melihat sikap Wulan yang baik hati, Windarti jadi menangis dan memegang tangan Wulan erat. Windarti dengan berlinang air mata, memberanikan diri membuka suaranya, "Jangan terima lamaran Mas Pramono, tolong jangan terima lamarannya!" Wulan lalu mengubah posisi duduknya, kini ia sudah duduk berhadapan dengan Windarti. "Win, apa ada yang kamu sembunyikan? Kenapa kamu menangis?" Windarti mulai salah tingkah, ia mulai tidak tenang, jari-jemarinya saling meremas, air matanya juga terus mengalir di pipinya, melihat Windarti bersikap aneh, Wulan semakin curiga. "Ada apa, sih! Jangan bikin aku senewen!" "Wulan, tolong jangan marah padaku, tolong jangan terima lamaran Mas Pramono, aku mohon!" "Kenapa? Kenapa, aku harus menolaknya?" "Wulan, aku minta maaf telah berbuat salah padamu, tapi aku sungguh mencintai dia!" "Apa maksudmu? Apa yang barusan kamu katakan?" "Emmm, A-nu, a-nu, itu ..." Windarti berhenti bicara dan menunduk sembari menangis. Melihat sikap aneh Windarti, Wulan semakin kesal karena penasaran, "Windarti, tolong bicaralah yang jelas!" "Wulan tolong berjanjilah padaku, kamu tidak akan marah dan benci padaku," ucap Windarti memelas sembari memegang tangan Wulan. Walau tidak tahu maksud dari ucapan Windarti, tapi Wulan menganggukan kepala tanda setuju, "Iya, cepat katakan!" "Aku hamil. Aku tidak berani bilang pada orang tuaku, aku bingung, Wulan! Aku tidak tahu harus bagaiman?" ucap Windarti. "Astaghfirullahaladzim, terus apa hubungannya denganku, Win?" "Jangan terima lamaran Mas Pramono, tolong jangan terima lamaran dia, ya!" ucap Windarti sembari bersimpuh di di kaki Wulan. Melihat gelagat yang tidak beres, Wulan semakin curiga, pikirannya kacau, "Jangan-jangan kamu? Kamu sama Mas Pram ...?" "Maafkan aku, bukan aku yang mulai, tapi Mas Pram yang mulai duluan, aku minta maaf, Wulan!" Wulan seperti mendengar petir di siang bolong, ucapan Windarti membuat seluruh tubuh Wulan bergetar menahan kesedihan dan amarah yang memuncak. "Sungguh tega sekali kamu, Win!!" "Ampuni aku Wulan, aku sungguh minta maaf, aku tidak tahu perbuatanku itu bisa membuat aku hamil sekarang!" "Hah! Jadi kamu hamil?" pekik Wulan. "Hussh, Wulan! Tolong pelankan suaramu!" "Kamu pengkhianat! Kamu tidak jujur padaku!" geram Wulan. "Bukan begitu maksudku, aku tidak bermaksud merebut Mas Pram darimu, tapi aku tidak bisa menahan rasa cintaku padanya." "Kamu sungguh tega, bukankah kamu tahu, dia itu pacarku? Kenapa kamu khianati aku? Bahkan kamu sekarang mengandung anaknya! Sungguh kamu tega!" tangis Wulan tak terbendung lagi. "Wulan, maafkan aku, Mas Pram yang minta tidur denganku, aku tidak bisa menolak permintaannya, tolong maafkan aku!" "Apaa! Alasan, aja kamu, Win!" "Aku mencintai Mas Pram, aku sangat mencintainya!" kata Windarti. "Sungguh kamu sudah keterlaluan, Win! Aku sungguh benci padamu!" Wulan pun pergi meninggalkan rumah Windarti dengan derai air mata dan hati yang hancur berantakan. Itulah terakhir kali Windarti bertemu Wulan. Sejak saat itu Windarti di penuhi rasa bersalah kepada Wulan. Persahabatan mereka ternodai oleh cinta buta Windarti. "Win! Windarti!" suara Pak Tejo membuat Windarti tersentak dari lamunannya. "I-iya Pak! Ada apa?" Windarti tergagap agak terkejut mendengar ucapan bapaknya. "Kamu itu dari tadi bengong, mikir apa?" "Aku-" Windarti tidak sanggup meneruskan ucapannya. Windarti lalu memandang Wulan dengan perasaan bersalah, tanpa ia sadari, air matanya mengalir deras di pipinya. Wulan lalu berdiri dan mendekati Windarti, "Sudah, sudah ya! Jangan menangis lagi." "Maafkan, aku!" ucap Windarti sambil memegang tangan Wulan. "Sudahlah! Aku sudah memaafkan kamu!" kata Wulan. "Makanya, jadi cewek itu jangan murahan!" sindir Bu Gatot. "Ibuuk!" teriak Wulan sambil melotot ke arah Bu Gatot. "Ada apa, sih?" "Ibu kenapa bicara seperti itu?" "Memang kenyataannya begitu!" Mendengar ucapan Bu Gatot yang sinis itu, Bu Tejo menunduk malu. Suasana sejenak hening. Wulan segera mencairkan suasana dan berkata, "Maaf, ya Bu! Maaf, Ibu saya bicara kasar." "Kamu anak yang baik, pasti sangat beruntung pria yang bisa menyunting kamu sebagai istrinya," ucap Pak Tejo, yang kagum dengan sikap dan pribadi Wulan yang baik hati. 'Hmmm, drama! Ada maunya, maka bilang begitu,' batin Bu Gatot sambil menarik ujung sudut bibirnya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN