Ucapan Wulan Membuat Damar Luluh
Windarti terharu, ia lega karena sudah mengungkapkan perasaan dalam hati yang telah menyiksanya selama beberapa hari ini, beban di hatinya sedikit berkurang.
Terkadang memang kata-kata yang menyentuh hati membuat kita merasa sangat dicintai.
"Lupakan, aku sudah tidak marah padamu. Aku sekarang malah kasihan padamu, Win!"
Windarti memegang tangan Wulan, dengan derai air mata Windarti duduk bersimpuh di bawah kakinya, "Wulan, tolong maafkan, aku ya!"
"Eh, ngapain, kamu!" pekik Wulan kaget melihat Windarti yang tiba-tiba bersimpuh, "ayo cepat bangun!"
Tatapan mata Wulan penuh kasih pada Windarti, padahal Windarti telah mengkhianati Wulan, tapi Wulan dengan lapang d**a mau memaafkan Windarti.
"Win, aku sekarang malah kasihan sama kamu, kesucianmu sudah terenggut dan sekarang malah di tinggalkan seperti ini."
Mendengar ucapan Wulan, Damar semakin jatuh hati pada Wulan, 'Aku jatuh cinta pada Wulan, semoga ia jadi jodohku,' batin Damar.
Senyuman tipis tersungging di bibir Wulan, wajah cantik Wulan terpancar jelas, wajah bentuk oval dengan hidung mancung, mata sedikit sipit, serta rambut panjang bergelombang yang sengaja terurai indah.
Pesona kecantikan Wulan yang cantik alami, tutur bahasanya sopan dalam berkata, ramah, baik hati dan juga murah senyum, membuat semua laki-laki muda maupun tua, terpesona padanya, begitu juga Damar yang terpesona melihat Wulan.
'Aku harus mencari cara agar Wulan mau menerima cintaku, dia harus jadi milikku!" batin Damar.
"Eh, ngomong-ngomong, kapan Windarti akan menikah dengan Pramono?" tanya Bu Gatot.
Suara Bu Gatot memecah keheningan ruangan itu, pandangan matanya tertuju pada Bu Tejo.
Mendapat pertanyaan itu, Bu Tejo menjadi bingung mau jawab apa, karena tidak akan ada pernikahan antara Pramono dan Windarti. Pramono menolak menikah dengan Windarti.
"Tidak ada pernikahan, Bu!" jawab Bu Tejo sambil menaruh sebuah amplop coklat besar yang berisi uang.
"Loh, kok gitu?"
"Pramono menolak menikah, ia melarikan diri."
"Hah!" Bu Gatot mulutnya menganga.
Mata Bu Tejo berkaca-kaca, terlihat jelas ia sedang menanggung beban derita yang sangat dalam. "Itulah kenapa kami mau meminta bantuan wulan."
"Bagaimana, toh, ini?" Bu Gatot semakin penasaran, matanya terbelalak seakan tak percaya.
"Pramono pergi entah ke mana, orang tuanya juga tidak tahu, tapi kami tidak membicarakan tentang kehamilan Windarti pada orang tua Pramono," jelas Bu Tejo.
"Astaghfirullahaladzim, ya Allah! Terus bagaimana nasib anak yang di kandungan Windarti?" sahut Bu Gatot.
"Tapi, Bu! Kabar kehamilan Windarti baru kita saja yang tahu, kan?" sela Wulan sambil memandang Bu Tejo.
"Iya, itu mangkanya kita meminta, kalian untuk tutup mulut," kata Pak Tejo.
"Tapi, kehamilan itu tidak bisa di sembunyikan, lambat laun orang-orang akan tahu kehamilan Windarti," jawab Bu Tejo penuh rasa putus asa.
"Maaf, ini bukan urusanku, ngapain kami di ikut sertakan?" tanya Bu Gatot.
"Bu, tadi aku sudah bilang mau minta tolong pada Wulan dan keluarga Ibu, kami ingin meminta Wulan untuk menjadi istrinya Damar dan ikut andil membantu Windarti."
"Sek ini, aku jadi bingung, Bu?" ucap Bu Gatot sambil memegang kepalanya.
"Iya, Bu sebenarnya ada apa? Apa yang bisa saya bantu?" kata Wulan.
"Wulan, jangan lancang!" bentak Bu Gatot, "kita tidak tahu masalah mereka apa, jadi gak usah ikut campur!"
"Bu, Windarti temanku sejak kecil, bagaimana bisa aku diam melihat temanku menderita?" jawab Wulan.
"Helleh, teman kok makan pacar teman! Wulan, kamu terlalu baik hati, Nduk! Temanmu yang kamu sayang itu, hamil dengan pacarmu, Nduk! Bagaimana kamu sebaik itu pada dia, hah!" ketus Bu Gatot.
Windarti terharu, ia menangis tersedu mendengar ucapan Wulan yang begitu baik padanya, walau dirinya telah jahat pada Wulan, tapi Wulan masih memikirkan yang terbaik untuknya.
"Wulan, sungguh aku menyesal! Aku minta maaf padamu, ya!" ucap Windarti sambil menangis tersedu.
Wulan mendekati Windarti, ia memegang bahunya dan membelai rambutnya, "Tenanglah, jangan sedih lagi, ya! Aku ada di sini untukmu!"
Windarti memeluk pinggang Wulan erat, Wulan yang berdiri samping Windarti membelai rambut Windarti, "Sudahlah! Cukup jangan menangis lagi!"
Suasa di ruang tamu itu menjadi sendu, mereka semua larut dalam rasa haru. Setelah menenangkan hatinya Bu Tejo memandang Bu Gatot dengan mata masih sembab karena habis menangis.
"Bu Gatot, bolehkah saya minta Wulan untuk menjadi menantuku?"
"Hah! Serius?" Bu Gatot melogo seakan tak percaya apa yang ia barusan dengar.
"Kami minta Wulan untuk menjadi menantu di rumah ini, apa Ibu izinkan, Wulan menikah dengan Damar?"
Bu Gatot terdiam sejenak, ia tidak menyangka mendapat sebuah tawaran pernikahan dari orang terkaya di desa itu.
'Pak Tejo anaknya cuman dua saja, tapi sawah dan juga tanah milik Pak Tejo berhektar-hektar luasnya. Apakah Pak Tejo serius tentang pernikahan Wulan dan Damar?' batin Bu Gatot.
"Bagaimana, Bu? Ibu setuju?" tanya Pak Tejo.
"Piye, Nduk! Kamu mau jadi mantuku?" sahut Bu Tejo sambil memandang Wulan.
Damar melirik ke arah Wulan yang pipinya bersemu warna pink, 'Aduh, ayune awakmu, Dik!' batin Damar.
"Emmmm, a-anu, Bu! Saya, saya pikir dulu, nggih!"
"Jangan pikir lama-lama, Dik! Takut aku nanti keburu tua!" goda Damar sambil tersenyum mengoda.
"Ah, Mas! Bisa aja!" balas Wulan tersipu malu.
Saat orang tuanya meminta Wulan untuk menjadi istrinya, jantung Damar berdebar kencang seakan meloncat ke sana ke mari, hatinya berbunga-bunga, ingin rasanya ia berteriak keras sambil berkata, Hooree! Tapi semua itu hanya dalam hati.
"Wulan, Bapak ingin mantu secantik dan sebaik dirimu, Nduk!" sahut Pak Tejo sambil memandang Wulan.
"Anakku cantik dan baik hati, jadi jangan buat main-main!" tegas Bu Gatot.
"Kami sungguh-sungguh, Bu! Jangan khawatir Damar akan menjaga Wulan dengan baik, kami janji, Bu!" tegas Pak Tejo.
"Dik, kamu mau menikah denganku?" ucap Damar sambil memandang Wulan.
"Cara melamar yang aneh!" gerutu Wulan.
Pak Tejo tertawa ringan, "Maafkan kami, Nduk! Ini hanya secara lisan saja, saat kamu setuju menikah dengan Damar, maka kami akan melamar dirimu secara resmi."
Bu Gatot hatinya berbunga-bunga, ia sangat senang mendengar ucapan Bu Tejo, tapi ia tetap bersikap terhormat dan santun tanpa terlihat merendahkan diri
'Aku harus terlihat cuek seakan tidak butuh, agar mereka semakin mendambakan anakku, huh! Enak saja, anakku cantik, jadi mereka harus bayar mahal untuk maharnya, kalau cuman mahar sedikit, aduh! Sorry, ya!' batin Bu Gatot.
Bu Gatot memang matre, banyak pemuda yang suka dan ingin melamar Wulan, tapi setelah Bu Gatot tahu asal muasal keluarga mereka yang miskin, langsung lamaran mereka ditolak begitu saja.
Bu Tejo memandang Bu Gatot yang terlihat bengong, 'Wanita matre ini, lagi mikirin apa ya?' batinnya.
"Eeheem!" Pak Tejo berdehem untuk memecah keheningan, "ini kok pada diam semua!" imbuhnya.
Bu Gatot tersenyum kecut dan langsung mengambil minum air mineral yang ada di atas meja, ia berusaha menenangkan gejolak hati yang membara terbakar rasa serakah akan harta keluarga Damar.
Bersambung...