"Mohon maaf Bu Gatot, kita bicara hal ini spontan tadi, kami sangat terkesan dengan anak jenengan yang baik hati dan cantik ini, makanya kami langsung ingin melamar Wulan untuk Damar," kata Bu Tejo.
Raut wajah Bu Gatot langsung bersemu warna merah muda, hatinya berbunga-bunga, keinginan hatinya untuk bisa punya besan seperti Bu Tejo akan segera terwujud.
"Ehem ..." Bu Gatot berdehem dan mengelus tenggorokannya, ia berusaha menyembunyikan rasa hatinya.
Melihat sikap Bu Gatot yang salah tingkah, dengan segera Damar menyodorkan air minum dalam kemasan gelas yang tersedia di atas meja.
"Silahkan minum dulu, Bu!"
"Terima kasih, Nak Damar!"
"Nggih Bu," jawab ramah Damar.
"Bagaimana, Bu? Jenengan setuju perjodohan ini?" desak Pak Tejo.
Bu Gatot memandang ke arah Wulan, "Nduk, duduk sini dulu."
Wulan lalu mendekat dan duduk di samping ibunya, Wulan terus menunduk malu, ia terlalu malu untuk memandang keluarga Damar.
"Nduk, kamu mau menikah dengan Damar?" tanya Bu Gatot.
"Maaf, Bu! Aku belum terlalu mengenal Mas Damar, tolong berikan aku waktu untuk berpikir dulu."
Bu Gatot tidak menyangka Wulan akan bicara begitu, ia pikir Wulan akan langsung setuju perjodohan itu, Bu Gatot lalu berbisik ke telinga Wulan, "Kenapa, kamu tolak?"
"Berikan aku waktu untuk berpikir, Bu! Aku belum siap untuk menikah dengan Mas Damar," bisik Wulan.
"Hmmm, kamu harus terima Damar, kapan lagi kita bisa kaya kalau kamu menolak Damar, apa kamu suka jadi kere terus?" bisik Bu Gatot lagi.
"Berikan aku waktu Bu. Maaf, Bu! Untuk saat ini aku belum bisa," bisik Wulan.
Melihat Bu Gatot dan Wulan yang saling berbisik di depan mereka, Damar mencoba bertanya, "Maaf, apa ada masalah?"
"Ah, tidak, tidak kok! Tidak ada masalah apa-apa," jawab Bu Gatot tersipu malu.
Windarti memandang Wulan dengan penuh harap, "Wulan, pikirkan tawaran orang tuaku, aku memang salah, tapi kakakku laki-laki terbaik yang pernah aku kenal, jadi pilihlah Mas Damar menjadi suamimu."
"Maaf, saya minta maaf ya, Bu! Saya tidak akan memaksa Dik Wulan untuk menerima saya, tapi biarkan Dik Wulan dengan tenang di rumah, setelah tiga hari nanti, tolong berikan kami jawaban," kata Damar tegas.
"Kami punya waktu tiga hari untuk berpikir?" tanya Bu Gatot.
Wulan tersenyum sinis, "Aku akan menikah denganmu dan hidup bersama dirimu seumur hidupku, tapi kau beri aku waktu tiga hari untuk berpikir?" kata Wulan,
"Iya, betul! Setelah tiga hari kamu tidak menjawab, maka aku akan melupakan dirimu, oke!"
Damar memandang Wulan dengan tajam, tatapan matanya seperti burung elang yang melihat mangsanya.
'Dasar menyebalkan! Bagaimana aku harus menjawab dalam waktu tiga hari? Sedangkan diriku baru saja lolos dari Mas Pramono, mungkinkah aku bisa menerima Mas Damar?' batin Wulan penuh tanya.
"Aku janji tidak akan pernah mempermainkan perasaanmu," ucap Damar tulus.
"Aku pikir-pikir dulu. Mohon berikan aku waktu," pinta Wulan.
"Baik aku tunggu jawaban darimu."
"Ehemm! Maaf, Bapak menyela pembicaraan kalian, menurut Bapak, Wulan istirahat dulu, ia dari pagi sudah capek kerja di pasar, jadi biarkan Wulan istirahat dan berpikir dengan tenang," ucap Pak Tejo,
"Betul kata Bapakmu, kami ingin istirahat dulu. Tiga hari lagi, datanglah ke rumah kami. Maaf, kami sekarang permisi!" ucap Bu Gatot sambil memandang Damar.
"Saya antar, Bu?"
"Tidak, tidak usah! Ibu dan aku tadi naik sepeda motor," sahut Wulan.
"Oh, iya Bu! Ini uang ganti rugi atas semua dagangannmu yang hancur karena sapi kami," ucap Bu Tejo.
"Terima kasih, Bu! Saya terima uangnya. Maaf saya permisi dulu!" Bu Gatot meraih sebuah amplop berisi uang lima juta.
"Silahkan, tapi tiga hari lagi kami akan berkunjung ke rumahmu, pastikan Wulan menerima Damar," ucap Bu Tejo sambil tersenyum manis.
"Wulan, aku berharap dirimu bisa menjadi kakak iparku," kata Windarti.
Wulan berdiri dan memandang Windarti sendu, "Aku begitu khawatir tentang keadaan dirimu, aku sedih banget melihat dirimu seperti ini, sekarang, kenapa ini harus terjadi, padamu?"
Saat Wulan berdiri dan mau berpamitan pada Bu Tejo, Bu Tejo lalu memegang tangan Wulan, sambil memandang penuh arti pada Wulan.
"Nduk, kami ingin meminta bantuan dirimu, kami juga ingin kamu sedikit berkorban untuk kami, tapi kami akan berikan imbalan yang pantas untuk itu," kata Bu Tejo.
"Berkorban? Apa maksudnya?" seru Bu Gatot heran.
"Tenang dulu, tenang Bu! Aku jelaskan dulu maksudku," kata Bu Tejo,
Bu Gatot memandang tajam Bu Tejo lalu menatap satu per satu anggota keluarga Damar dengan teliti, "Belum, apa-apa kalian sudah minta anakku berkorban, maksud kalian, apa? Wulan harus berkorban apa?"
"Ibu, jangan buat Ibunya Wulan berpikir yang bukan-bukan, Bu!" sela Damar.
"Damar, dengarkan dulu penjelasan Ibumu," sahut Pak Tejo.
Damar duduk di kursi dengan wajah cemberut, "Ibu ini aneh-aneh saja! Berkorban? Memangnya ini hari raya qurban, apa!"
"Damar, diam! Dengar dulu penjelasan ibumu!" seru Pak Tejo.
Damar terdiam mendengar ucapan ketus bapaknya, ia menunduk malu karena dibentak di hadapan Wulan wanita yang ia cintai, "Hhmmm, menyebalkan!"
Bu Gatot dan Wulan yang hendak berpamitan segera mengurungkan niatnya, mereka penasaran dengan ucapan Bu Tejo barusan.
"Maaf, apa yang harus aku korbankan?" tanya Wulan.
"Masa mudamu dan masa depanmu," jawab Bu Tejo,
"Kenapa begitu?" tanya Wulan sambil menyipitkan matanya, ia begitu penasaran dengan ucapan Bu Tejo.
"Mohon maaf, ini terlintas begitu saja di benakku, aku berpikir bila Damar dan Wulan menikah, kelak anak yang di kandung Windarti setelah lahir, anak itu kalian anggap sebagai anak kalian, gimana?" jelas Bu Tejo.
"Sebentar, Bu! Maaf, aku masih belum paham maksud Bu Tejo," kata Bu Gatot sambil memandang Bu Tejo tajam.
"Mohon maaf menyela, Bu! Aku menikah dengan Mas Damar agar anak Windarti bisa aku asuh sebagai anakku?" sahut Wulan.
"Betul, kami ingin kamu menjadi Ibu dari anak Windarti," kata Bu Tejo.
"Aduh Bu Tejo, bagaimana bisa? Orang-orang akan curiga juga kalau melihat Windarti perutnya buncit. Aduh, memangnya bisa disembunyikan perut buncitnya itu?" sindir Bu Gatot.
"Bisa, kami akan ungsikan Windarti ke kota yang jauh dari sini. Kami hanya minta Bu Gatot dan Nak Wulan tutup mulut," jelas Bu Tejo.
"Orang tutup mulut itu ada biayanya, lo!" sindir Bu Gatot.
"Ibu! Ibu ngomong apa, sih!" ketus Wulan.
"Ibu ngomong kebenaran, Wulan! Tidak ada di dunia ini yang gratis, tau!" bantah Bu Gatot.
"Aduh, Ibu ini bikin aku malu aja!"
Wajah Wulan merona warna pink, ia malu karena ibunya yang terlihat sangat matre itu sedang beraksi memalak keluarga Damar dengan meminta uang tutup mulut.
'Ibu, kenapa kamu begitu mata duitan, hadeeh, aku jadi malu,' batin Wulan.
Bu Tejo berusaha memanfaatkan keadaan, ia tahu kalau Bu Gatot mata duitan, makanya Bu Tejo memancing Bu Gatot agar ikut masuk ke dalam permainannya dengan memberi imbalan uang dan harta benda mereka.
Bersambung .....