Pagi ini aku kembali sekolah seperti biasanya, saat aku memasuki kelas, aku mendapati kelas masih sepi. Hanya ada Hendra saja seorang diri di kursinya dengan duduk sembari memainkan ponsel. Aku rasa Hendra tidak menyadari kehadiranku karena terlalu asik dengan gawainya, terbukti ketika aku mengucap salam ketika memasuki kelas, Hendra sama sekali tidak menjawabnya. Dengan inisiatif aku menyapanya lebih dahulu. Meskipun Hendra adalah teman dekat Arfan, entah mengapa aku lebih tenang berinteraksi dengannya daripada dengan Arfan. Aku selalu merasa berbeda jika berinteraksi dengan Arfan, rasanya aku selalu dilanda oleh rasa malu dan gugup jika berhadapan dengannya. Aku menyadarinya, mungkin ini pengaruh karena aku menyimpan rasa terhadap Arfan, jadi hal ini terjadi padaku.
"Hai, Hendra." Sapaku, ketika sudah berdiri di dekat mejaku dan itu membuat Hendra menolehku terkejut sebelum akhirnya ia tersenyum.
"Oh, hai juga, Haneefa." Hendra membalas menyapaku.
"Kamu datang pagi banget hari ini?" Tanyaku, sekadar basa-basi kepada Hendra.
Mendengar itu, Hendra terkekeh ringan. "Iya, aku sengaja datang pagi karena di rumah aku pagi ini cukup membuatku badmood."
"Pelarian?" Tebakku.
Hendra kembali terkekeh mendengar ucapanku sebelum akhirnya ia kembali menjawab.
"Ya, bisa dibilang begitu."
Setelahnya aku tidak kembali menanggapi perkataan Hendra. Aku lebih memilih untuk mendudukan diri di kursiku setelah selesai merapikan letak tasku.
Suasana di kelas pagi itu masih sepi dan sunyi karena memang hanya ada aku dan Hendra saja di kelas. Aku yang memang sudah biasa pergi pagi sekali ke sekolah bersama Lyana, suasana seperti itu sudah tidak aneh lagi bagiku. Untuk meleburkan rasa bosan, akhirnya aku memutuskan untuk membuka buku saku dzikir pagi yang selalu aku bawa dari rumah. Sudah menjadi rutinitasku sejak hijrah, yakni berdzikir di waktu luang. Seperti sekarang contohnya.
Beberapa menit berlalu, kelas mulai ramai dengan kedatangan teman-teman kelasku lainnya yang baru sampai di sekolah. Hingga pada saat Arfan juga datang, entah mengapa tiba-tiba saja tubuhku kembali dibuat tegang ketika ia menatap ke arahku saat masih berada di ambang pintu masuk kelas. Aku yang entah mengapa kembali merasa gugup karena kedatangannya, aku pun hanya bisa menunduk menatap buku saku dzikir pagiku yang sempat tadi aku baca. Aku semakin merasa malu dan gugup ketika mengingat kejadian malam kemarin, dimana aku kembali bertemu dengan Arfan di warnet saat kami sedang mengerjakan tugas sekolah.
Ketika Arfan sudah duduk di kursinya, yakni tepat di belakangku, aku mendengar Arfan langsung di sapa oleh Lia dan teman-temannya yang saat itu duduk di kursi yang tidak jauh dengan kursi Arfan. Kembali aku mendengar Arfan mengobrol dan bercanda dengan Lia dan teman-temannya di belakang mejaku. Tak jarang karena obrolan mereka, membuat heboh dan cukup berisik di kelas. Jujur saja, aku selalu merasa tidak suka jika Arfan terlalu dekat dengan Lia, dkk. Karena dengan itu sikap Arfan bisa berubah sewaktu-waktu menjadi seorang yang paling aku benci, yakni jauh dari agama Allaah. Nampaknya kejadian kemarin malam di warnet pun bukan berarti apa-apa bagi Arfan, ia terlihat biasa saja seperti biasanya ketika di sekolah seperti sekarang. Arfan bersikap seolah memang tadi malam ia tidak pernah bertemu denganku lagi di warnet. Ayolah Haneefa, Memangnya Arfan harus bersikap seperti apa padamu?
Huhh ... dasar aku!
Lama dengan suasana yang membosankan sebelum bel masuk kelas, aku tidak henti-hentinya menghela nafas lelah. Hingga pada suatu waktu aku melihat kedatangan Dewi di kelas, keningku seketika mengercit heran karena mendapati wajah Dewi yang ditekuk seolah tengah bersedih hati.
Tanpa melihat ke arah lain, aku fokus memperhatikan gerak-gerik Dewi yang menjadi pendiam tidak seperti biasanya yang selalu bersikap bawel dan aktif ketika baru masuk kelas. Dan tunggu, aku juga menangkap sesuatu yang aneh. Mengapa Dewi tidak langsung pergi ke meja Lia dan teman-temannya seperti biasanya untuk bertegur dengan mereka ketika baru saja datang di kelas? Hal itu menunjukkan seolah Dewi tengah memiliki masalah dengan teman-temannya itu.
"Fa."
Seketika aku terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara Muthia yang menyapaku dan kini Muthia sudah duduk di kursi yang ada di sampingku.
"Lagi lihat apa?" Tanya Muthia, menatapku aneh.
Aku tersenyum kaku. "Ah ... nggak. Aku cuma lagi melamun tadi." Jawabku.
Mendengar jawaban itu, Muthia langsung menatapku penuh selidik sebelum akhirnya ia mengendikkan bahunya tak acuh.
"Baiklah, terserah aja."
Melihat Muthia tidak mencurigai apapun dari gelagatku, aku pun berinisiatif untuk bicara padanya.
"Mut, aku ingin ngomong sesuatu."
Muthia kembali menolehku. "Ngomong, apa?"
Sebelum menjawab pertanyaan Muthia, aku kembali menoleh sejenak ke arah tempat duduk Dewi, dimana saat itu aku melihat Dewi duduk seorang diri di kursinya dengan wajah ditekuk sedih.
"Kamu lihat Dewi, dia kelihatan aneh hari ini." Bisikku.
Mendengar nama Dewi disebut, Muthia langsung menoleh ke arah Dewi sejenak sebelum akhirnya kembali menatapku.
"Aneh apanya?"
"Dia menyendiri, gak seperti biasanya." Jawabku, masih berbisik.
Muthia menatapku dengan alis terangkat satu. "Ya, terus? Apa masalahnya dengan itu?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, aku mulai menipiskan bibirku.
"Kayaknya Dewi lagi ada masalah sama Lia dan teman-temannya." Kataku, memberitahu. "Mm ... maksud aku, aku cuma nebak aja, sih." Tambahku, meralat.
"Ya terus, kalau emang iya kayak gitu, apa urusannya sama kita?" Tanya Muthia, terdengar tidak suka dengan topik yang sedang aku bahas, entah karena apa.
Belum sempat aku kembali menjawab, Muthia lebih duhulu menyela.
"Dengar Haneefa, kamu itu gak perlu mengurusi orang yang sama sekali gak pernah mengurusi kamu juga. Bahkan gak pernah menganggap kamu ada. Sebaiknya lupakan pikiran tentang Dewi yang saat ini lagi berada di otak cantik kamu itu, paham?"
"Tapi Mut, aku cuma ...."
"Gak ada bantahan dan aku gak ingin dengar apapun soal mereka yang udah berbuat gak baik sama kita." Muthia kembali menyela ucapanku dengan tegas, sebelum akhirnya ia menyibukkan dirinya dengan buku dan tidak mempedulikan aku yang saat ini sedang terdiam cemberut.
Aku sekarang mengerti mengapa Muthia tidak suka jika aku membahas tentang Dewi. Ini pasti karena perbuatan Dewi dan teman-temannya duhulu yang pernah menyakiti hati Muthia tanpa mereka sadari. Namun entahlah, aku merasa cukup penasaran dan kasihan ketika melihat Dewi terdiam duduk di bangkunya seorang diri dengan wajah ditekuk sedih, sedangkan teman-teman yang biasa menemaninya sedang asik mengobrol dan bercanda dengan Arfan di meja Lia.
Sebenarnya, apa yang terjadi dengan mereka?
......
Jam pelajaran kedua kini telah selesai, saat ini sudah masuk jam istirahat pertama. Di jam istirahat pertama ini sering aku gunakan untuk sholat dhuha di masjid sekolah, dengan semangat aku mulai membereskan mejaku yang penuh dengan alat tulis. Aku membereskan dan memasukkannya kembali semua alat tulisku ke dalam tas. Hal itu aku lakukan karena aku akan meninggalkan kelas untuk sholat dhuha di masjid sekolah.
"Kamu mau dhuha?" Tanyaku kepada Muthia yang sedang asik membaca.
"Nggak, kamu aja. Aku lagi gak sholat sekarang." Jawab Muthia, tanpa menolehku.
Muthia ini jika sudah sibuk membaca novel di tabnya, ia akan lupa pada lingkungan di sekitarnya, termasuk aku.
"Baiklah." Kataku, tanpa berkelit.
Belum sempat aku beranjak dari tempat dudukku, tiba-tiba saja Dewi datang menghampiri mejaku dan Muthia. Dewi datang dan kini ia sedang berdiri tepat di depanku.
"Hai, Haneefa." Sapa Dewi, mau tak mau langsung membuatku dan Muthia menolehnya.
Mendapat sapaan yang tidak seperti biasanya itu, aku melirik sejenak ke arah Muthia yang aku lihat sedang menatap Dewi tidak suka sebelum akhirnya aku kembali menatap Dewi dengan sebuah senyuman tipis. Bagaimanapun kita harus tetap bersikap baik terhadap sesama bukan?
"Hai." Balas sapaku kepada Dewi.
"Mau sholat dhuha, ya? Ke masjid sekolah?" Tanya Dewi, terlihat bersemangat.
Dengan wajah sedikit cengo, aku mengangguk ragu.
"I-iya, aku mau sholat dhuha ke masjid sekolah." Jawabku.
"Boleh aku ikut?" Pinta Dewi, kontan membuatku dan Muthia terkejut.
Ada apa dengan Dewi? Tumben sekali mau sedekat ini denganku?
Belum sempat aku menjawab, aku melirik Muthia sejenak yang aku lihat kini ia sedang menatapku seolah bicara melalui tatapannya itu agar aku menolak permintaan Dewi. Namun memang dasarnya aku tidak tega, akhirnya aku tidak menghiraukan Muthia.
"Boleh." Jawabku, langsung membuat eskpresi wajah Muthia masam dan kembali menyibukkan dirinya dengan tab. Tidak lagi mempedulikan aku dan Dewi.
"Baiklah kalau gitu, tunggu, ya. Aku mau bawa mukenaku dulu yang aku bawa dari rumah." Kata Dewi dengan wajah berbinar dan segera berjalan ke arah mejanya untuk mengambil mukena yang berada di dalam tasnya.
Sejenak aku terdiam aneh dengan sikap Dewi saat ini, ada apa sebenarnya?
Bagaikan Dandelion
10.04.21
Sfrdssyh