Canggung

1307 Kata
Malam ini ba'da isya dengan berjalan kaki seorang diri, aku sedikit buru-buru pergi menuju tempat dimana aku akan mengerjakan tugas sekolah di sana. Ya, malam ini aku berencana pergi ke warung internet atau yang sering disebut dengan istilah "warnet" untuk mengerjakan tugas. Berhubung aku tidak memiliki printer di rumah, terlebih laptopku rusak, maka tidak heran jika warnetlah yang menjadi jalan keluar untuk urusanku saat ini. Biasanya setiap mengerjakan tugas yang selalu melibatkan printer seperti ini, aku selalu pergi ke warnet dengan ditemani oleh saudara perempuanku. Namun karena kebetulan malam ini saudara perempuanku sedang sibuk, jadilah aku pergi malam-malam hanya seorang diri ke warnet. Awalnya kedua orangtuaku melarangku untuk pergi karena hari sudah malam, namun dengan jurus andalanku, yakni merengek, akhirnya kedua orangtuaku memperbolehkanku pergi malam hari. Tak apalah, lagipula ini tidak terlalu berbahaya dan belum terlalu larut malam juga, pikirku. Setelah tepat sampai di warnet, segera aku bertegur sapa dengan abang penjaga warnet yang memang sudah mengenaliku sejak SMP karena sejak SMP itu aku selalu berlangganan ke warnet tersebut untuk mengerjakan tugas sekolah. "Eh, kamu lagi." Sapa penjaga warnet ramah kepadaku yang merupakan pria paruh baya . Aku menolehnya. "Eh, Bapak lagi yang jaga." "Yaiyalah, emang mau siapa lagi. Kamu mau ngerjain tugas, ya?" Tanya Bapak tersebut. Aku mengangguk. "Hm, iya, Pak. Aku mau ngerjain tugas, disuruh nge-print sama gurunya." Jawabku. "Baiklah, silahkan. Kebetulan tinta dan kertas di printer di sini lagi bagus, kamu beruntung." Kata Bapak penjaga warnet berkelakar, mau tak mau membuatku tersenyum. "Iya, Pak." Setelahnya, aku pun langsung melangkahkan kakiku ke ruangan yang menjadi tempat dimana aku bertempur dengan beragam macam bacaan di layar monitor yang cukup mampu membuat kedua mataku sakit. Dengan serius dan teliti, aku fokus mengerjakan tugasku dengan baik dan benar. Tak jarang, aku selalu kesal sendiri tatkala selalu ada typo dalam mengetik karena terlalu cepat. Ketika dirasa apa yang aku kerjakan sudah selesai dan cukup baik, aku pun menghela nafas lega sebelum akhirnya aku terdiam karena mengingat sesuatu. "Malam ini aku, 'kan, ada tugas yang harus nge-print. Itu artinya ... Arfan juga, dong. Apa dia juga akan ke sini kayak waktu itu, ya?" Gumamku dengan nada yang mulai cemas. Tentu saja aku cemas, pasalnya aku sempat dikagetkan dengan keberadaan Arfan di tempat yang sama denganku ketika malam hari di semester satu kelas X. Ya, duhulu di semester satu aku sempat mengerjakan tugas di warnet ini seperti biasanya jika ada tugas yang berkaitan dengan printer. Saat itu aku pergi ke warnet seorang diri tanpa ada yang menemani, sama seperti sekarang. Hal yang membuatku terkejut adalah pada malam itu ketika mengerjakan tugas di warnet ini, tanpa direncanakan aku mendapati keberadaan Arfan di tempat yang sama denganku kala itu. Ya, malam itu Arfan dan aku berada di warnet yang sama untuk mengerjakan tugas sekolah. Aku yang melihat kenyataan itu, sungguh terkejut bukan main. Terlebih saat aku bertemu dengan Arfan, aku masih jahil. Yang artinya saat itu aku belum hijrah dan masih belum mantap dalam mengenakan hijab di daerah rumah. Duhulu ketika semester satu aku hanya mantap memakai hijab di sekolah saja, sedangkan di rumah tidak, termasuk saat keluar rumah. Berbeda dengan sekarang, dimana aku sekarang sudah mantap dalam menggunakan hijab kemanapun aku pergi dan tentu melihat Arfan yang pernah melihatku tanpa hijab, itulah hal yang paling memalukan bagiku. Entah mengapa ada suatu perasaan tidak rela jika Arfan bisa melihatku tanpa hijab di saat ia bukanlah suamiku. Meskipun saat itu aku belum hijrah, namun itulah yang aku rasakan saat Arfan melihatku tanpa hijab. Ketika pertemuan tak sengaja itu, aku sempat terheran. Bagaimana Arfan bisa berada di warnet yang sama denganku malam itu? Belum sempat aku menanyakan hal itu kepada Arfan, Arfan telah lebih duhulu memberitahuku bahwa letak rumahnya memang berada dekat dengan daerah warnet tersebut. Mengetahui fakta itu, tentu saja aku semakin terkejut. Jangan lupakan tentang letak warnet itu yang juga dekat dengan rumahku, meskipun tidak terlalu dekat. Jika Arfan mengatakan bahwa rumahnya dekat dengan warnet tersebut, itu artinya letak rumahku dengannya bisa dikatakan dekat juga. Yaa Allaah, hanya memikirkannya saja kepalaku rasanya pusing. Bagaimana takdir ini bisa terjadi di saat aku sedang berusaha mengubur perasaanku terhadap Arfan, sedangkan rumah kami tidak berjauhan? Huh.. Aku membuang nafas lelah ketika kembali mengingat kejadian pertama kali aku mendapati Arfan di warnet yang sama denganku malam itu. Akhirnya karena tidak mau terlalu lama berada di warnet, segera aku beranjak dari tempatku untuk proses printer di meja penjaga warnet yang berada di ruang depan. Ketika berjalan menuju ruang depan, awalnya langkahku terkesan tenang seperti biasanya, namun seketika langkahku terhenti di tengah jalan dengan tubuh yang menegang ketika retina mataku tidak sengaja melihat sosok laki-laki yang paling tidak aku inginkan untuk bertemu. "Haneefa." Rasanya kakiku lemas dan ingin pingsan saja saat laki-laki itu melihat ke arahku dan menyapaku dengan sebuah senyuman setenang air. Karena tidak mau terlihat aneh, akhirnya setelah terdiam kaku, aku kembali melangkahkan kakiku menuju meja penjaga warnet untuk proses printer. Sungguh, jika boleh jujur saat itu ingin rasanya aku tenggelam saja ketika berdiri tepat di samping Arfan. Ya, sosok laki-laki yang tadi menyapaku adalah Arfan. Siapa yang akan sangka, ternyata aku kembali bertemu dengannya di warnet ini ketika sedang mengerjakan tugas. Ayolah! Jangan lupakan jika aku dan Arfan satu kelas, jadi wajar bukan jika aku pergi untuk mengerjakan tugas di warnet, Arfan pun demikian karena tugas kami sama. Yang menjadi pertanyaan di dalam benakku adalah, apakah Arfan tidak memiliki printer dan laptop di rumahnya sehingga ia sama denganku mengerjakan tugas seperti ini di warnet? "Nanti ya, dia dulu yang akan di-print tugasnya." Kata Bapak penjaga warnet kepadaku yang hanya aku jawab dengan anggukan kepala. Jangankan menjawab, mengeluarkan suara ketika posisiku sedang berada dekat dengan Arfan saja entah mengapa rasanya aku tak sanggup. "Lagi kerjain tugas seni budaya juga, ya?" Tanya Arfan tiba-tiba kepadaku ketika suasana saat itu sedang hening. Tentu saja hal itu semakin membuat detak jantungku berdetak kencang dengan perasaan malu dan gugup yang semakin kentara. "Iya." Jawabku singkat, tanpa berniat menolehnya. Setelah itu tidak ada suara lagi di antara kami berdua, terlebih aku juga dapat merasakan bahwa Arfan merasa canggung dan sungkan kepadaku. Padahal jika di sekolah, kepada perempuan lainnya Arfan tidak seperti ini. Karena diriku semakin dilanda oleh perasaan tidak nyaman, terlebih Bapak penjaga warnet juga sedang sibuk sendiri dengan layar monitor untuk proses print file milik Arfan, jadilah aku mulai merasa semakin tidak enak dengan suasana hening dan canggung seperti ini. "Kamu sendiri ... lagi kerjain tugas seni budaya juga, ya?" Tanyaku akhirnya kepada Arfan dengan berusaha mati-matian melawan rasa gugupku. Entah mengapa aku malah balik bertanya kepada Arfan, saat itu aku hanya merasa tidak baik jika tidak balik bertanya. Aku takut dikira jutek ataupun sombong olehnya. Arfan menoleh ke arahku dengan senyuman yang paling aku benci karena hal itu semakin membuatku malu sendiri. "Iya, aku juga lagi kerjain tugas itu. Kebetulan printer di rumah aku lagi rusak, jadi aku ke warnet aja." Jawab Arfan, membuatku terdiam, tidak kembali menanggapinya. Memangnya, aku harus menjawab apa? "Kayaknya monitor kamu belum dimatikan, ya?" Tanya Bapak penjaga warnet kepadaku yang tentu saja membuatku dan Arfan langsung menoleh ke arahnya. "Monitor?" Aku membeo karena masih tidak mengerti maksud pertanyaan dari Bapak penjaga warnet tersebut. "Iya, kamu belum mematikannya. Waktunya ini masih berjalan. Sebaiknya kamu matikan dulu." Terang Bapak penjaga warnet, membuatku akhirnya paham. "Oh, baiklah. Aku lupa."  Tanpa berniat pamit atau sekadar permisi kepada Arfan, aku segera saja melegang masuk kembali ke tempat ruangan dimana tadi aku mengerjakan tugas. Rasanya lebih baik pergi kembali ruangan itu daripada harus terus berdiri di samping Arfan dengan suasana canggung. Setelah aku kembali ke ruang depan tempat Bapak penjaga warnet, aku tidak menemukan Arfan seperti tadi. Pikirku, Arfan pasti sudah pulang dan urusan print filenya sudah selesai. Aku tidak heran jika Arfan tidak berpamitan juga kepadaku sebelum pulang, aku mengerti dia. Dia sama sepertiku, kami sama-sama merasa canggung satu sama lain. Bagaikan Dandelion 10.04.21 Sfrdssyh
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN