Hari kian berlalu, aktivitasku di kelas X SMA mulai memadat dengan beragam tugas. Setelah tugas kelompok sejarah Indonesia bersama Arfan dan Nadya selesai, kini tugas-tugas sekolahku lebih banyak tugas individu. Jika bertanya mengenai kisahku dan Arfan sebenarnya tidak begitu istimewa, namun perlu diketahui bahwa aku dan Arfan semakin ke sini, kami semakin membuat jarak.
Sejak aku menyadari bahwa perasaanku terhadap Arfan semakin tumbuh dalam hatiku, aku juga semakin membuat jarak dengannya. Bukan karena aku benci dengan perasaanku padanya, hanya saja aku selalu merasa tidak kuat karena terlalu gugup dan malu setiap ia berada di dekatku meskipun itu hanya untuk keperluan tugas sekolah.
Saat ini pada jam istirahat pertama di sekolah, aku sedang diam berada di dalam kelasku seperti biasa, dengan ditemani oleh Muthia teman satu bangkuku.
"Fa, menurut kamu apa yang harus aku lakuin kalau aku masih suka makan dengan porsi yang banyak?" Tanya Muthia, menolehku yang duduk di sampingnya.
Mendengar pertanyaan itu, aku pun menoleh Muthia yang saat ini sedang makan makanan bekalnya yang ia bawa dari rumah.
"Gak masalah, sih. Itu bagus." Jawabku, sederhana.
"Ish, kamu ini!" Desis Muthia, menyikut lenganku merasa gemas.
"Aku tahu itu bagus, tapi apa kamu gak lihat gimana bentuk tubuh aku yang gemuk ini karena terlalu banyak makan." Gerutu Muthia, kemudian.
Aku mulai meniti tubuh Muthia dari atas sampai bawah yang masih duduk di sampingku.
"Hmm ... mungkin ... kamu perlu diet." Ujarku ragu, membuat Muthia membuang nafas kasar.
"Yaa Allaah ... selain diet, dong, Fa." Keluh Muthia, menimpali cepat. "Kamu tahu, 'kan, aku sering banget diet, tapi akhirnya selalu aja gagal."
Muthia adalah salah satu sahabatku di sekolah yang memang memiliki postur tubuh cukup berisi. Muthia pernah cerita kepadaku bahwa ia memiliki suatu penyakit dan ia tidak boleh terlalu berbadan gemuk karenanya. Penyakit Muthia ini hanya diketahui olehku dan Raihan saja. Masih ingatkah kalian dengan kedekatan kami bertiga sejak awal masuk kelas X SMA?
"Mungkin kamu harus banyak berolah raga." Ujarku, lagi.
Muthia mengangguk, samar. "Ya, benar. Aku juga berpikir gitu."
Tidak lama dari itu, kelasku yang awalnya dalam keadaan sunyi kini berubah menjadi gaduh akibat obrolan Lia dan teman-teman dekatnya yang saat itu sedang duduk lesehan di teras belakang yang ada di dalam kelas kami. Kelasku ini memang cukup terbilang luas, sehingga akan ada sedikit tempat kosong di belakang setelah meja dan kursi belajar untuk sekedar duduk-duduk dan mengobrol santai di sana.
"Kita main apa, nih?" Tanya Lia, terdengar antusias.
"Aku bawa media bermain balok, gimana kalau kita bermain nyusun balok, aja?" Jawab Lala, tak kalah antusias.
"Wahh ... boleh, tuh!" Sahut Fauzan.
"Oke, tunggu sebentar, ya."
Setelah berkata begitu, Lala beranjak dari lesehannya menuju bangkunya untuk mengambil balok yang ia maksud tadi.
Saat itu aku yang masih duduk di bangkuku yang berada di baris paling depan, aku hanya bisa diam sembaru memperhatikan mereka dengan membalikkan tubuhku ke arah belakang karena memang mereka sedang berada di belakang. Untunglah saat itu Arfan sedang ikut bermain dengan Lia dan teman-temannya, yang artinya Arfan sedang tidak duduk di bangkunya yang berada tepat di belakangku. Jika Arfan duduk di bangkunya, sudah pasti aku tidak akan berani untuk membalikan tubuhku ke arah belakang.
"Yuk, kita main!" Kata Lala, setelah kembali duduk lesehan bergabung dengan Lia dan teman-temannya.
Di saat itulah aku mulai kembali melihat betapa akrabnya Lia, Lala, Dewi, Wita, Nadya, Hendra, Fauzan, Arfan, dan teman-teman kelas lainnya yang memang cukup pandai dan aktif di kelas. Dalam diam terkadang hati kecilku selalu merasa sakit karena ternyata kelasku ini hanya memandang seseorang dari keaktifan dan kepintaran saja. Jika tidak aktif atau pintar, maka akan kurang untuk dipandang atau bahkan tidak akan terlalu didekati untuk menjadi teman dekat atau teman akrab.
Contohnya sepertiku dan Muthia. Ya, saat di kelas aku menjadi semakin sadar bahwa aku dan Muthia memang didekati oleh teman-teman di kelasku jika ada kebutuhan saja atau hanya untuk keperluan tugas. Selain itu, kami tidak akan pernah akrab atau sedekat apa yang saat ini sedang aku lihat antara Lia, Arfan, dan teman-temannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Muthia lirih, masih duduk di sampingku.
Aku kembali membalikan posisi dudukku untuk menghadap ke depan sebelum menjawab pertanyaan Muthia.
"Aku ... aku cuma merasa sedih." Jawabku yang juga lirih, terdengar sedih.
Paham dengan perasaanku, Muthia pun menghela nafas.
"Mereka emang kayak gitu." Ujar Muthia.
Aku menatap Muthia, sendu.
"Kenapa, ya, Mut? Kenapa kita gak bisa sedekat itu sama mereka? Bahkan waktu kita bertanya atau koar di grup chat kelas, gak jarang kita selalu diabaikan." Selorohku, menumpahkan kesedihanku.
Muthia membalas tatapanku dengan sama sendunya.
"Mungkin ... mereka gak sejalan sama kita, Fa. Kita berdua itu berbeda sama mereka."
"Tapi kenapa mesti ada hal kayak gitu?" Tanyaku, menimpali cepat.
Lagi, Muthia menghela nafas.
"Haneefa, dengerin aku, ya. Mungkin ini emang jalan dan takdir kita di kelas. Kita gak bisa memaksakan diri untuk mengubah kepribadian kita yang gak terlalu aktif dan pintar demi mendapat perhatian dari teman kelas kita. Mereka belum tentu tulus dalam berteman, Fa. Kamu gak usah sedih, bukankah di eskul Rohis kamu itu, kamu udah lebih banyak mendapatkan sahabat? Bahkan mereka lebih shalih dan shalihah?"
Aku bergeming, mendengar ucapan Muthia yang satu ini.
"Asal kamu tahu, Fa. Aku juga di sekolah ini gak punya sahabat dekat, kecuali cuma kamu aja. Sahabatku lebih banyak di Madrasah pengajianku di rumah." Ujar Muthia dengan senyuman, seolah dirinya tidak bersedih sepertiku. Padahal aku tahu, Muthialah yang harusnya lebih sedih.
Di kelas, Muthia lebih sering tidak dihargai keberadaannya daripada aku. Bahkan Muthia memang tidak memiliki sahabat dekat selain diriku. Setahuku, di sekolah Muthia memang tidak ikut kegiatan apapun setelah dahulu gagal untuk masuk OSIS. Oleh karena itulah, teman-teman dekat Muthia di sekolah tidak begitu banyak.
Aku tersenyum tipis, tidak ingin bersedih lagi.
"Makasih, ya, Mut. Makasih karena kamu udah mau bersahabat sama aku sampai hari ini." Kataku, tulus.
Mendengar itu, Muthia menyentuh telapak tanganku.
"Aku juga berterima kasih sama kamu, Fa. Makasih karena kamu udah mau bersahabat sama aku yang gak pernah dihargai keberadaannya ketika di kelas."
Karena tak tega, akhirnya aku memeluk tubuh Muthia dari samping. Sungguh, saat di kelas memang hanya Muthia yang menjadi kekuatanku. Tidak jarang kami berdua selalu merasa terkucilkan jika berada di kelas karena selalu diabaikan dan tidak pernah dihargai. Lebih sakitnya, Arfan, orang yang aku sukai dalam diam, ia juga terkadang berbuat hal yang sama kepadaku dan Muthia.
Sejak Arfan dan Hendra duduk di belakang bangku setelahku dan Muthia, mereka menjadi sangat akrab dan dekat dengan Lia. Lia yang saat itu satu baris dengan meja Arfan meskipun berbeda kolom bila diumpakan dengan baris dan kolom, Lia benar-benar selalu mengajak Arfan bicara. Sampai akhirnya mereka semakin dekat dan akrab, serta selalu berakhir dengan obrolan yang menyenangkan.
Sejak kedekatan itulah, Arfan dan Hendra yang awalnya masih bisa dekat, tidak membuat jarak, masih menghargaiku dan Muthia, kini semua itu berubah. Arfan dan Hendra menjadi jauh, cuek, dan acuh tak acuh terhadap aku dan Muthia. Arfan dan Hendra juga menjadi lebih sering dekat dengan teman-teman Lia lainnya yang lebih aktif dan pintar, belum lagi karena Arfan yang memang notabennya pintar dan memiliki paras yang cukup tampan, hal itulah yang semakin membuat Lia dan teman-temannya senang jika berteman dekat dengan laki-laki itu.
Ah, sungguh, rasanya aku ingin pindah kelas saja jika mengingat hal itu.
Bagaikan Dandelion
09.04.21
Sfrdssyh