"Kamu kenapa, Mut?"
Aku cukup terkejut saat mendapati Muthia duduk di bangkunya sembari menundukkan kepala berusaha menyembunyikan air mata yang deras mengalir membasahi kedua pipinya. Saat itu aku yang baru saja tiba dari masjid sekolah usai melaksanakan sholat dhuha, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan Muthia selama aku pergi.
Muthia menatapku sendu dan kontan memeluk tubuhku saat aku sudah duduk bangkuku, tepat di sampingnya.
Hikss.
Rasanya hatiku berdenyut sakit tatkala mendengar isakan tangis lirih Muthia dalam pelukanku. Aku mulai mengelus punggungnya yang sedikit bergetar, berusaha menenangkannya.
"Mut, udah. Jangan menangis. Sebaiknya kita pergi dari sini, kita cerita di tempat yang sepi, ya." Ujarku, lembut.
Suasana kelas yang cukup ramai karena memang sedang jam istirahat pertama, pikirku tidak baik jika Muthia sedang seperti ini dan masih berada di dalam kelas. Untuk bercerita sebaiknya aku dan Muthia pergi keluar kelas dan mencari tempat sepi untuk saling berbagi kesedihan. Sungguh, Muthia adalah sahabatku, aku tidak suka melihatnya menangis seperti ini.
Mendengar ucapanku, Muthia menurut dan mulai beranjak bersamaku keluar kelas. Kami berjalan dalam diam menuju sebuah tempat yang tak jauh dari kelas yang memang cukup sepi dan cocok untuk menjadi tempat saling berbagi keluh dan kesah.
Hikss.
Setelah aku dan Muthia mendudukkan b****g kami dengan lesehan di teras yang menghadap balkon, saat itu juga Muthia kembali menangis hingga hal tersebut membuatku menatapnya dengan mata yang mulai ikut berkaca-kaca karena aku tidak pernah kuat melihat seseorang menangis di hadapanku.
"Mut." Ucapku lirih, berusaha menenangkan Muthia yang masih terisak sembari menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Mut, udah. Jangan menangis lagi. Nanti kamu capek, kalau ada sesuatu yang membuat kamu sedih, cerita sama aku. Aku ini sahabat kamu, 'kan?"
Mendengar ucapanku, isak tangis Muthia mulai mereda meskipun masih terlihat jejak air matanya itu, deras membasahi kedua pipinya. Muthia juga mulai mendongak untuk menatapku yang sedang menatapnya sendu dan iba.
"Aku sedih, Fa." Lirih, Muthia sendu. "Aku juga sakit hati." Sambungnya, pilu.
Aku yang masih belum mengerti maksud Muthia, aku pun lebih memilih diam menunggu sahabatku ini untuk melanjutkan ucapannya yang terkesan ambigu.
"Teman-teman di kelas ... mereka, mereka semua gak suka sama aku. Mereka menjauhi aku, mereka ..." Muthia menjeda ucapannya karena berusaha untuk menahan tangisnya yang kian menjadi.
"Mereka ... diam-diam membicarakan aku, Haneefa. Di belakangku."
Hikss..
Muthia kembali menangis, membuatku terdiam sembari menatapnya sedih. Sekarang aku paham, apa yang menyebabkannya menjadi menangis seperti ini. Meskipun aku belum tahu pasti, siapa teman-teman yang Muthia maksud.
"Angga." Muthia kembali angkat bicara. "Kamu tahu bukan kalau sejak aku masuk ke kelas ini, kelas X IPS 2, aku suka sama Angga."
Benar, Muthia memang pernah bercerita kepadaku bahwa di kelas ia menyukai seseorang dalam diam. Orang itu bernama Angga. Di kelas, Angga sangat dekat dengan Lia, Lala, Nadya, Fauzan, Wita, Hendra, dan Arfan. Mereka semua itu seperti seorang bintang saat di kelas, karena semua orang di kelas selalu memuji bahkan mau berteman dekat dengan mereka karena mereka memiliki kepintaran juga keaktifan di kelas yang cukup baik.
"Tapi, apa, Fa? Apa yang aku dapat? Padahal selama ini aku gak pernah mengganggu, mengusik, atau mengutarakan yang sebenarnya sama semua orang di kelas kalau aku suka sama Angga."
Keningku mulai mengercit, mendengar ucapan Muthia yang satu ini, yang menurutku ini terkesan aneh. Apa maksudnya?
"Apa maksudnya, Mut?" Tanyaku.
Muthia menatapku sedih.
"Angga yang membuat aku sakit dan rasa sakit itu seperti orang yang di dorong ke jurang yang curam sampai tewas mengenaskan." Jawab Muthia, semakin membuatku bingung.
"Angga yang membicarakan aku di belakang aku, Haneefa. Angga menghina aku kepada teman-temannya dan dengan pintarnya, seolah supaya aku bisa mendengarnya, Angga mengatakan semua itu saat aku ada di dekat dia dan teman-temannya itu." Terang Muthia, kontan membuatku terkejut.
Jadi Muthia dibicarakan, bahkan dihina?
Muthia kembali menangis.
"Aku sedih, aku sakit hati, Fa." Gumam Muthia disela tangisnya yang lirih.
"Salah aku apa coba? Kenapa Angga dan teman-temannya itu gak suka sama aku? Padahal selama ini aku gak pernah berbuat jahat atau kesalahan sama mereka?" Keluh Muthia, terdengar sedih.
Karena merasa bingung harus berkata apa, akhirnya aku lebih memilih diam seraya mengusap bahu Muthia yang masih bergetar karena menangis.
"Arfan ..." Gumam Muthia lagi seraya kembali menatapku dengan berlinang air mata. Tentu saja, hal itu kontan mencuri atensiku.
"Arfan?" Aku membeo.
Muthia mengangguk samar.
"Ya, dia. Bahkan Arfan yang dulu dekat dan respect terhadap kita berdua, sekarang dia berubah, Haneefa. Dia juga turut andil waktu Angga melakukan perbuatan tega itu sama aku."
Lagi, aku dibuat terkejut dengan perkataan Muthia. Aku terkejut karena ternyata Arfan yang selama ini aku sukai dan kagumi karena kebaikannya, sekarang laki-laki itu sudah berubah sejak berteman dekat dengan Lia dan teman-temannya. Sungguh, aku kecewa kepada Arfan, meskipun dia bukanlah siapa-siapaku.
"Aku sakit hati, Haneefa. Di kelas IPS 2 ini aku cuma punya kamu, cuma kamu yang mengerti dan mau berteman dekat sama aku." Muthia kembali terisak pilu, meskipun lirih.
Karena tidak tega dan ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Muthia, dengan lembut aku membawa tubuh Muthia untuk bersandar pada bahu kananku dan aku memeluknya dari samping.
"Aku sedih, Fa." Gumam Muthia, disela tangisnya.
"Udah, jangan menangis. Ada aku di sini, kamu gak sendirian. Biarin aja teman di kelas kita gak menghargai atau gak mau dekat sama kita berdua. Kita gak boleh sedih dan lemah karena itu." Ujarku, berusaha menyemangati.
Aku melerai pelukanku dan membawa tubuh Muthia untuk menghadapku agar aku bisa menatapnya.
"Kita harus kuat, Mut. Apapun yang terjadi sekarang ini, semua itu cuma sementara. Yang penting sekarang kamu masih memiliki aku yang mau bertahan dan akan selalu berada di samping kamu apapun yang terjadi." Ujarku lagi, penuh keyakinan.
Mendengar semua itu, Muthia menatapku haru.
"Aku sayang kamu, Haneefa." Rengek manja Muthia, mau tak mau membuatku tersenyum geli.
"Iya, aku juga sayang kamu, Mut."
Bagiku Muthia bukan hanya sekadar sahabat, tapi juga sudah aku anggap seperti saudara perempuanku sendiri. Aku menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Dia adalah salah satu orang yang bisa membuat perilakuku berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih baik, dia yang mengenalkanku tentang islam lebih dalam. Dia yang selalu mengajakku ke kajian sunnah meskipun selalu aku tolak dan dia juga merupakan orang pertama yang mampu membuat hatiku tergerak untuk melangkah hijrah ke jalan Allaah meskipun masih sedikit demi sedikit.
Ya, di kelas X SMA ini, aku sudah mulai mengerti islam dengan baik, apalagi setelah aku masuk eskul Rohis di sekolah. Perlahan, hidayah mulai memasuki hati dan jiwaku meskipun itu belum sepenuhnya karena saat ini ada masa dimana aku belum bisa mengendalikan hawa nafsuku dalam urusan dunia. Oleh karena itu, aku sangat membutuhkan sahabat seperti Muthia yang akan selalu menjadi pendukung, penyemangat, dan penguatku untuk tetap istiqomah dalam hijrah di kelas X SMA ini.
Bagaikan Dandelion
09.04.21
Sfrdssyh