Hari ini ketika jam kosong di kelasku, semua teman-teman terlihat sedang duduk lesehan di lantai kelas dekat dengan papan tulis. Saat itu mereka sedang memainkan sebuah permainan yang diikuti oleh semua anggota kelas, kecuali aku. Mereka sedang memainkan permainan yang dikenal oleh banyak orang dengan sebutan TOD atau Truth or Dare. Mengingat permainan tersebut, aku menjadi kembali teringat dengan kejadian dimana aku dan Arfan dulu juga pernah memainkan permainan gila itu hingga akhirnya berujung pada sebuah rasa dimana aku menjadi menyukai laki-laki itu. Memang, sebelum perasaanku semakin tumbuh terhadap Arfan, kami pernah terlibat bermain TOD yang berakhir membuat perasaanku seperti saat ini.
Kembali kepada keadaan kelas saat ini, aku yang tidak ikut bermain TOD, aku pun hanya bisa memperhatikan saja semua teman-temanku dari bangkuku yang kebetulan berhadapan langsung dengan mereka yang sedang duduk lesehan tepat di depan mejaku yang letaknya berada di baris paling depan dekat papan tulis. Aku tidak berniat untuk ikut bermain permainan itu karen sengaja. Aku merasa lebih baik duduk di bangkuku saja daripada ikut bergabung dengan teman-temanku itu untuk bermain permainan TOD. Sejak hijrah aku bukanlah tipe orang yang suka bermain hal yang seperti itu lagi, terlebih saat itu ada cambur-baur antara laki-laki dengan perempuan. Maka dari itu aku lebih baik memilih untuk tidak ikut saja.
Sembari mengerjakan tugas yang diamanahkan oleh guru piket karena guru yang seharusnya mengajar sedang berhalangan hadir, sesekali aku juga ikut menyimak permainan teman-teman kelasku. Bahkan tanpa aku sadari, aku juga ikut tersenyum saat mendapati hal yang lucu dari permainan yang sedang dilakukan oleh teman-temanku itu. Namun, seketika aktivitas mengerjakan tugasku terhenti ketika permainan TOD itu jatuh giliran kepada Arfan. Ya, Arfan. Laki-laki yang selama ini aku sukai dalam diam.
Saat itu permainan TOD jatuh giliran kepada Arfan, Arfan diberi pilihan oleh Ricky untuk memilih antara Truth or Dare. Jika Truth, maka Arfan harus menjawab jujur salah satu pertanyaan dari teman di kelas, namun jika itu Dare, maka Arfan harus berani melakukan apapun yang diperintahkan oleh salah satu dari teman di kelas. Oleh karena itulah, kini perhatianku pun mulai teralihkan sepenuhnya pada permainan gila itu, terutama kepada Arfan. Ketika pilihan diajukan kepada Arfan, Arfan cukup dibuat terdiam. Ia seperti bingung dan gelisah harus memilih yang mana. Aku bisa melihat ekspresi itu dari guratan wajahnya.
Sampai akhirnya setelah lama terdiam, Arfan pun memilih Truth.
Ada hal yang membuat semua orang terkejut, karena saat Arfan menjawab dengan memilih Truth, tiba-tiba saja Lia menyerobot ingin dirinyalah yang memberikan pertanyaan kepada Arfan. Padahal sejak awal aturannya jika laki-laki yang mendapat giliran, maka baik yang memberi tantangan atau memberi pertanyaan, itu semua harus dilakukan dari pihak laki-laki juga.
"Pokoknya aku yang memberi Arfan pertanyaanm." keukeuh Lia, ketika diprotes oleh Ricky.
“Tapi, Ya ... ini melanggar aturan permainan diawal.” Kata Ricky, menimpali.
“Ya udah, gak apa-apa. Pokoknya, aku gak mau tahu!!” tegas Lia, keras kepala.
Melihat reaksi Lia demikian, akhirnya setelah bermusyawarah dengan teman laki-laki lainnya, Ricky pun memperbolehkan Lia untuk mengambil jatah bertanya kepada Arfan. Sedangkan Arfan yang menjadi objek, ia hanya bisa terdiam pasrah.
“Oke, kita mengalah. Tapi, cuma kali ini aja.” Putus Ricky, sarat memperingati.
Mendapat persetujuan seperti itu, Lia pun langsung tersenyum senang.
“Iya-iya, kali ini aja, kok. Aku ini penasaran sama Arfan, makanya kenapa aku maksa.” Seloroh Lia, membuat Arfan mengercit.
"Memangnya ada apa, Ya? Apa yang mau kamu tanyakan sama aku?" Tanya Arfan, heran.
Lia tersenyum simpul, mendengar pertanyaan Arfan.
“Tapi kamu harus jawab jujur ya, Fan. Harus benar-benar jujur pokoknya!” Kata Lia, sedikit mengancam.
“Emang mau tanya soal apaan, sih, Ya?” Tanya Raihan, penasaran.
Lia melirik sekilas kepada teman-teman perempuan di kelas, termasuk aku yang sejak tadi terdiam namun ikut penasaran juga dengan apa yang akan Lia tanyakan kepada Arfan. Bagiku ini cukup membuatku sedikit khawatir, entahlah, ini adalah sebuah rasa khawatir yang tidak beralasan dengan jelas.
“Jawab jujur, ya, Fan,” PEringat Lia lagi kepada Arfan.
Arfan menghela nafasnya. “Iya, aku bakal jawab dengan jujur.”
Lia semakin tersenyum, setelah mendengar jawaban Arfan.
“Gini, kamu tahu bukan kalau di kelas kita ini banyak banget yang suka sama kamu diam-diam. Nah, aku ingin tanya, sebenarnya melihat semua itu, ada gak sih sedikit aja perasaan kamu sama salah satu perempuan yang ada di kelas kita ini, Fan?” tanya Lia, sukses membuat semua yang ada di kelas terkejut. Terutama aku dan Arfan.
Saat itu aku cukup terkejut karena takut akan jawaban yang nanti akan dijawab oleh Arfan, aku juga bisa melihat keterkejutan di wajah Arfan saat setelah mendengar pertanyaan itu dari Lia.
“Wah-wah, pertanyaan yang bagus, Lia,” Sahut Hendra, sembari menyeringai jahil kepada Arfan yang sedang terdiam dengan wajah bimbangnya.
“Good job, Lia!” Kata Fauzan, merasa puas.
“Hmm ... jawab jujur, loh, ya.” Goda Lala kepada Arfan yang notabennya Lala adalah teman perempuan yang paling dekat dengannya setelah Lia.
“Ayo Fan, jawab!” Sahut Ricky, sembari tersenyum puas melihat Arfan terkena pertanyaan mematikan dari Lia.
Di sisi lain Muthia yang saat itu juga sedang ikut bermain permainan TOD tersebut dan sedang duduk lesehan di teras kelas bersama yang lain, dalam diam Muthia melirik ke arahku yang sejak tadi sibuk menyimak permainan TOD itu. Muthia sepertinya sangat paham dengan perasaanku saat ini. Pikirnya, mungkin aku merasa penasaran dengan jawaban Arfan, mengingat bahwa Arfan adalah laki-laki yang aku sukai dalam diam dan selama ini hanya Muthia dan Raihan saja yang mengetahuinya. Jadi tidak aneh jika saat ini Muthia bisa memahami perasaanku.
“Harus, ya, aku jawab jujur sama pertanyaannya tentang perasaan kayak gini?” tanya Arfan, terlihat ragu.
“Ya, harus, dong. Masa nggak!” jawab Lia, cepat.
“Jujur aja Fan, takutnya nanti Lia akan mati penasaran.” Kata Farhan, sekenanya.
“Apaan, sih, Farhan!!” semprot Lia, sewot.
Farhan terkekeh melihat respon Amel.
“Jawab jujur aja, Fan.” Kata Nara, ikut bersuara.
Untuk kesekian kalinya, Arfan kembali menghela nafas, namun kali ini sedikit panjang.
“Aku ... aku ...”
“Aku apa, Fan?” tanya Hendra, tak sabaran.
Mendengar pertanyaan Hendra, kontan Arfan mendelik kesal kepada teman satu bangkunya itu yang terlihat senang dengan penderitaannya karena mendapat pertanyaan soal perasaan dari Lia dan ia mau tidak mau harus menjawab jujur pertanyaan Lia itu sesuai dengan kesepakatan di awal dalam permainan gila tersebut.
“Ayo, Fan, jawab!” Kata Dewi.
Arfan kembali membuang nafas kasar, sebelum akhirnya menjawab.
“Aku ... aku suka sama Ghasanni.”
Deg.
Tepat setelah mendengar kalimat itu, tanpa diketahui oleh siapapun, hal itu sudah cukup mampu membuat hatiku seketika terasa seperti teriris. Refleks Muthia juga langsung menoleh ke arahku lagi saat setelah mendengar jawaban dari Arfan tadi. Tak sedikit setelah mendengar jawaban Arfan yang demikian, banyak dari teman-teman di kelasku yang langsung menyoraki Arfan dengan Ghasanni. Bahkan ada yang memerintah mereka untuk langsung berpacaran saja.
Sedangkan aku yang saat itu juga baru menyadari bahwa perasaanku selama ini memang hanya aku saja yang merasakannya, aku pun berusaha sekuat mungkin untuk menormalkan ekspresi wajahku karena tanpa permisi mataku tiba-tiba saja terasa mulai memanas. Bahkan untuk menutupi perasaanku yang tiba-tiba tidak keruan, saat aku melihat ke arah Muthia yang juga sedang melihat ke arahku dengan tatapan sendu, aku malah tersenyum kepada sahabatku itu. Aku tengah memberitahu kepadanya bahwa aku baik-baik saja, sebab selama ini hanya Muthia-lah yang mengetahui jelas bagaimana perasaanku terhadap Arfan, meskipun sikap Arfan akhir-akhir ini sudah tidak se-respect duhulu kepadaku dan Muthia.
Aku juga menyadari bahwa mungkin ini adalah bentuk teguran dari Allaah kepadaku yang membuktikan bahwa berharap kepada manusia itu memang bukanlah hal yang tepat.
Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas Hafizhahullaah berkata, "Jangan berharap kepada manusia, karena engkau akan kecewa. Berharaplah kepada Allah, niscaya engkau tidak akan pernah kecewa."
Bagaikan Dandelion
09.04.21
Sfrdssyh